Senin, 16 Agustus 2010

Sastra-SISI LAIN KISAH CINDERELA Oleh : Fauzi Rahmawati

Sisi lain di balik sebuah dongeng anak kecil, yang tak lekang oleh zaman. Sebuah dongeng yang masih tetap exist sebagai dongeng sebelum tidur yang mampu menyihir kita ke alam mimpi yang begitu indahnya. Membuat kita menjadi seorang pengkhayal yang hebat dengan impian menjadi seorang putri cantik yang akan bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih, dengan gagahnya datang dan meminang untuk menjadi kekasihnya, bahkan endingnya dengan mudah ditebak, “happily ever after”. Itulah sebuah dongeng terkenal, Cinderela...
Dalam kisahnya, ia selalu digambarkan sebagai seorang gadis remaja nan cantik, baik, ditinggal meninggal oleh ibunya sejak usia kanak, yang tak boleh ketinggalan adalah peri baik penolongnya, yang mampu menyihir labu menjadi kereta nan elok, tikus menjadi kuda putih nan kuat, sepatu kaca, serta gaun pesta yang mempesona dengan jentikan tongkat ajaibnya. Klimaks cerita, saat pesta dansa di istana, berdansa dengan pangeran kerajaan nan tampan rupawan. Menjelang pukul 12.00 malam, ia cepat-cepat berlari meninggalkan keramaian pesta dan sepatu kacanya tertinggal sebelah di istana dan ditemukan oleh sang pengeran. Hmm.. sebagian besar dari kita mungkin sudah hafal di luar kepala ending dari semua cerita tadi, ya.. sang pangeran berhasil menemukan siapa pemilik pasangan sepatu kaca itu, siapa lagi kalau bukan Cinderela. Sampai akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.
Tapi tidakkah kalian cermati, ibu dan saudara tirinya selalu menjadi pemeran antagonis, yang jahat dan tamak. Itulah yang telah terbenam dalam pikiran kita sejak kecil, bahwa sosok seorang ibu tiri serta saudara tiri itu mempunyai perangai jahat, suka menganiaya. Mengapa demikian? Itu karena yang menjadi tokoh sentral dan diunggulkan adalah Cinderela. Bagaimana jadinya jika dilihat dari sudut pandang yang lain?
Coba kita sedikit memberi ruang pada ibu dan saudara tiri Cinderela untuk memperbaiki image nya yang telah buruk dimata kita. Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi pada ibu serta saudara tiri Cinderela.
Ceritanya berawal ketika kehidupan mereka (baca: saudara tiri Cinderela) berubah sejak ayah mereka meninggal saat mereka masih kecil. Begitu sedihnya mereka, dalam usia sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Itu sebenarnya alasan yang membuat sang ibu ingin menikah kembali. Kehidupan mereka sungguh berantakan, mungkin bisa dibilang memprihatinkan. Dengan kebiasan mereka hidup berfoya-foya, dalam seketika berubah 180˚, karena tak ada lagi kepala keluarga yang mampu memenuhi segala kebutuhan mereka.
Yang namanya seorang ibu, tetaplah ibu, yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, begitu pula dengan sang ibu yang satu ini (baca: ibu tiri Cinderela). Ia tak ingin melihat anaknya merasakan hidup susah. Oleh karena itu ia tak memberitahukan keadaan keuangan yang sebenarnya kepada mereka. Mereka tetap dibiarkan menganut gaya hidup seperti saat ayah mereka ada, hidup berfoya-foya, sekolah di tempat elit, pokoknya semua serba mewah.
Mereka tak tahu, batapa sang ibu bersusah payah mencari uang demi memenuhi kebutuhan mereka itu. Namun mungkin, ibu yang satu ini menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia mencari banyak teman lelaki yang kaya yang ia manfaatkan kekayaannya untuk menyenangkan anak-anaknya. Ibarat pepatah, “ habis manis sepah dibuang”. Setelah puas, ditinggalkan begitu saja. Namun itu sebelum ia bertemu dengan sosok pria tampan, bijaksana, serta kaya, dialah ayah Cinderela. Karena kepribadian yang dimiliki mampu menarik hatinya, maka ia memutuskan untuk mau menikah dengan ayah Cinderela.
Menjawab pertanyaan mengapa mereka jahat kepada Cinderela?
Hmm...Sebenarnya masalahnya hanya satu, mereka iri melihat kedekatannya dengan sang ayah. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Memiliki serta merasakan kehangatan kasih sayang dari seorang ayah. Hanya itu yang mereka inginkan. Semoga dengan menguak rahasia ini, mereka semua berganti peran protagonis, dan mereka menjadi keluarga yang bahagia selamanya.[]

FAUZI RAHMAWATI
Wartawan REMAPOST


Sajak Fauzi Rahmawati:

Kasih Tanpa Syarat

Bagaikan fatamorgana
Yang melahirkan mimpi siap lenyap
Memunculkan kebahagiaan
Tak hanya sekedar angan
Biarkan waktu yang bicara
Mengartikan tiap detik nafas bersamanya
Memberi sejuta makna
Pada kisah yang tersirat
Menyandarkan segala rasa
Pada pundak kehangatan
Tanpa syarat


Aku menjadi lebih berani

Sulit menerka rasa
Susah menerima jiwa
Tampak lemah
Namun senyum merona
Membakar sejenak hampa
Aku datang dan bicara
Kata yang tak pernah gentar
Aku bisa
Dan aku berani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar