Manusia merupakan subjek pencetak sejarah disebuah realitas yang berawal dari wacana maupun harapan. Mereka (manusia) di berikan kapasitas berupa jasad, ruh dan hati serta fasilitas berupa waktu. Waktu juga di sebut sebagai “masa karya” yang kita sebut sebagai “amal”. Dengan demikian, manusia berhak mengklaim waktu yang menjadi miliknya ketika waktu itu di gunakan untuk berkarya, beramal dan berkontribusi yang mampu bermetamorfosis dari sebuah wacana peradaban menjadi realitas masa depan. Akan tetapi apa yang terjadi dengan model manusia di abad 21 sekarang terutama anak muda Indonesia? Manusia sekarang di lingkari dengan pengaruh kapitalisme dan liberalisme yang membuat manusia kehilangan derajatnya sebagai manusia (dehumanisasi) yang pada akhirnya dapat mengikis kekebalan ruh humanisasi (memanusiakan manusia). Kebobrokan moral seperti menjadi hal biasa, pergaulan bebas menjadi akad yang sah dan dengan semangat individualisme dan hedonisme mereka memproklamirkan dirinya menjadi manusia antroposentris.
Manusia antroposentris adalah manusia produk ressainans yang mengukur suatu kebenaran berdasarkan rasionya semata sehingga hidup mereka kosong tanpa makna. Walaupun jiwa mereka terisi, itu tidak di dasarkan nilai transendensi (ketuhanan) tapi jiwa mereka terisi berdasarkan basis materialisme (materialism basic) yang sebenarnya tidak berisi karena mengganggap hal yang “ghaib” itu adalah mitos belaka. Akibatnya, seorang manusia (mahasiswa) yang sedang mengalami stress, depresi, mereka mencari tempat ketenangan berdasarkan rekomendasi dari pengaruh globalisasi seperti kapitalisme. Oleh karena itu, kita bisa melihat orang-orang yang penuh masalah berkeliaran di arena produk kapitalisme seperti Mal, Carrefour, Bioskop dan produk kapitalisme lainnya. Referensi tempat yang dapat menyejukan suasana kebatinan seperti Masjid, Majlis ilmu maupun tempat dengan suasana spiritualitas terasa tabu dan mitos untuk di jadikan wisata hati dalam mencari ketenangan dan solusi.
Meneguhkan Kembali Identitas Diri
Identitas mahasiswa (calon pendidik) yang sering di gaungkan sebagai agent of change, iron stock dan an inspirator seperti panggang jauh dari api. Jarak antara fakta dengan idealita terlihat bersebrangan seakan tidak ada titik temu di antara keduanya. Lantas, harus seperti apa mahasiswa sebagai calon pendidik muda masa depan menghadapi tantangan di era modernitas saat ini? Berbicara mengenai pendidikan adalah berbicara mengenai manusia itu sendiri, berbicara pendidikan adalah berbicara tentang akhlak, kepribadian dan jiwa manusia seutuhnya. Landasan hukum perbincangan mengenai manusia itu tercantum di dalam tujuan pendidikan (pasal 3 UU No 20 tahun 2003) yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Karakter yang ingin di bangun adalah harus di mulai dengan pembangunan jiwa, mengisi ruang ruh yang hampa dan pada akhirnya mempertemukan potensi jiwa dengan idealita. Jiwa manusia mengakui akan sesuatu yang ada tapi tidak ada dalam pandangan mata, jiwa manusia adalah wadah yang membutuhkan isi, jiwa adalah penentu tindakan fisik yang berawal dari metafisik (sesuatu yang ghaib). Transendensi (nilai keimanan), inilah yang dapat di baca oleh jiwa, mengisi ruang hampa dan menjadi landasan dalam mengukur benar tidaknya fenomena kehidupan. Manusia harus di kembalikan kepada Sang Pemilik Jiwa yang akan mengisi ruang hampa agar hidup mereka penuh makna. Manusia (mahasiswa) dengan semangat perubahan yang di miliki, kekuatan fisik yang membuat semua mata melirik dan jiwa penuh idealisme akan mampu menjadi “penggerak kolektif” karena dia sadar akan tugas dan perannya. Layaknya seorang Nabi (Prophet) yang tidak melindungi dirinya dengan kecerdasan yang di miliki dan tidak menghindarkan diri untuk lepas dari permasalahan umat, maka manusia (mahasiswa) sebagai insan yang tercerahkan dengan ilmu pengetahuan, sejatinya menjadi problem solver di tengah masyarakat yang hiruk pikuk dengan berbagai masalah yang ada. Semoga….
Well,this is a good job nice article 4 u, vice director of EC BEM REMA. It remains me about spiritual disorientation of people especially students. They (include me)should be happy 4 spending time at capitalism product that u've mentioned. U're right that we prefer mall than masjid to heal confusion.
BalasHapusI also smell ur anger at ur writes. Jst please, dont too push/blame things that u thought it was capitalism product which destruct our moral.Remember, we cant deny any globalization. Era has change, and perhaps, nowadays is your responsible to remains them to get the right way. :)
last, please pay attention with sentences structure. U makes some so long sentences that people cant read it in one gasp..:)
jst make a short sentence but effectively :)
Cheers up always!