Selasa, 17 Agustus 2010

KELAS INTERNASIONAL UNTUK MERAIH PROFIT??!!!

KELAS INTERNASIONAL UNTUK MERAIH PROFIT??!!!
oleh: Isti Hardiyanti


Biaya masuk UNY yang mahal ternyata tidak sebanding kualitas. Terlebih mahasiswa yang masuk kelas swadana dan internasional memiliki tanggungan yang lebih besar. Seperti diungkapkan oleh mahasiswa swadana, Dyah Kusuma Ayu, ia membayar biaya masuk sekitar 10 juta rupiah. Hal itu memberatkannya, jika tidak melunasi di akhir semester dua, maka ia harus cuti kuliah. Ia mengatakan, ”Fasilitas belum setimpal dengan apa yang kita bayarkan”.
Faktanya ada banyak fasilitas perkuliahan di UNY yang masih kurang, sebagai contoh di FBS, mahasiswa baik subsidi maupun swadana pada semester lalu belum merasakan perkuliahan yang nyaman, seperti di gedung FBS timur dan ruang kelas di C.18 dengan ruangan yang gelap, sempit, dan tidak ada fasilitas LCD. Hal ini disampaikan Zuyyinatul Farikhah, mahasiswi PBI 2008. “Semester lalu kuliah kami di gedung FBS timur dengan ruangan yang gelap dan tidak tersedia LCD. Buku-buku di perpustakaan FBS juga tidak terlalu lengkap, tidak banyak referensi bahasanya,” katanya. Dari fakultas Teknik, mahasiswa pendidikan teknik mekatronika Ika Kurniasari 2009, juga menyayangkan fasilitas UNY, “Sangat tidak setara dengan biaya masuk. Alat-alat prakteknya tidak memadai”.

Butuh Transparansi keuangan
Sementara itu, Alya dari PBD 2008 selain menyayangkan dosen-dosen tidak bisa bekerja sama dengan mahasiswa dan sarana prasarana juga kurang, Ia juga mengharap transparansi keuangan. Katanya,” Kita butuh transparansi, pembayaran harusnya gamblang.”
Namun, menurut Pembantu Rektor II, pengelolaan keuangan di UNY telah dikelola secara transparan dan akuntabel berdasar hasil audit keuangan UNY tahun 2009 Wajar Tanpa Pengecualian, atau wajar dalam segala hal. ”Keuangan UNY diaudit oleh kantor akuntan publik, audit eksternal, dan independen,” terang Sutrisna Wibawa, M.Pd. Sedangkan pembagian biaya pendidikan yang diterima oleh mahasiswa dimusyawarahkan di rapat kerja universitas.

Kecenderungan Profit?
Tahun 2010, UNY membuka kelas internasional sebanyak 6 prodi, yaitu Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Kimia, Pendidikan IPA, dan Pendidikan Akuntansi. Terlebih di FMIPA sendiri, semua kelas swadana telah dibuat menjadi standar internasional. Bahkan pada 2 sampai 3 tahun mendatang, semua kelas di FMIPA yang jurusan pendidikan akan diinternasionalkan dengan alasan tuntutan globalisasi. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah untuk membuka kelas internasional di sekolah-sekolah setara SMP dan SMA. “Kita mengangkat peluang itu, dengan cekatan kita tanggapi semampu kita, kelas internasional itu dalam tanda petik menyiapkan guru supaya siap diterjunkan. Outputnya menghasilkan guru-guru, tujuan kita memang itu,” terang Koordinator tim pengembangan kelas berstandar internasional FMIPA, Ratnawati, M.Sc.
Pembukaan kelas internasional di sekolah-sekolah ditanggapi lain, karena disinyalir bertendensi profit. Kini, di sekolah-sekolah ada kecenderungan baru untuk membuat kelas internasional supaya mendapat uang sebanyak-banyaknya. Ratnawati, M.Sc. menambahkan, “Memang target dari rektorat itu kalau bisa semua kelas internasional, bukan memenuhi itu tapi arah kecenderungannya untuk mengumpulkan uang. Ini kecenderungannya ke sana gitu ya mbak. Sebenarnya hanya ada beberapa yang mampu, tapi kenapa semua diinternasionalkan”.
Sementara itu, Dekan FMIPA Dr. Ariswan sendiri mengatakan, “Kami akan berusaha untuk apa yang mereka berikan akan kami kembalikan sebesar-besarnya, dana yang diberikan UNY dikembalikan kepada kepentingan mahasiswa”.

Kelas Internasional Mahal
Tentunya, biaya pendidikan kelas Internasional UNY jauh lebih tinggi dari kelas biasa. Untuk SPP setiap semester mencapai 3 juta rupiah, sedangkan jumlah uang sumbangan ditentukan kepada masing-masing mahasiswa. Menanggapi tingginya biaya kelas internasional, Anas Hermawan, mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Internasional mengatakan,” Masuk itu bayar Rp.11.500.000 dan SPP tiap bulan Rp.3.000.000, itu termasuk mahal dan berat”.
Dalih biaya tinggi ini dikarenakan kelas internasional butuh penanganan khusus, termasuk dosen-dosen pengajar yang berbeda kualifikasi. “Karena tidak semua dosen berhak disitu, hanya dosen yang memiliki kualifikasi khusus, sehingga diberi penghargaan lebih,” terang PR II, Sutrisno Wibawa, M.Pd.
Dr. Ariswan juga mengatakan hal yang sama. Ia menjelaskan ada kualifikasi ideal bagi dosen dan menambahkan, “Tapi saya membawa tahun ini lebih membumi, saya tidak muluk-muluk, yang penting ada dulu, sekarang sudahlah dosen-dosen alumni luar negeri yang kita minta untuk mengajar kelas internasional. Untuk proses berikutnya, ada workshop, pelatihan, kita mengantarkan semua dosen untuk bertaraf internasional.”
Dengan biaya yang lebih tinggi, tentu mahasiswa mengharap ada kualitas pendidikan yang jauh melebihi kelas yang lain. Namun, standar pendidikannya belum terlihat signifikan kualitasnya. Dalam menjaring mahasiswa baru misalnya, belum ada standar kualifikasi bagi mahasiswa. Penyeleksian mahasiswa baru yang masuk tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kelas biasa. Terbukti, mahasiswa baru tidak diseleksi secara khusus, masih diseleksi lewat jalur SNMPTN, atau SM seperti kelas lain. “Seleksinya masuk lewat jalur SNMPTN yang bisa dibilang cukup mudah dan tidak ada test khusus,“ ungkap Fetik Rahayu, Mahasiswi IPA 2009.
Ihwal tersebut tidak dinafikan oleh Kaprodi Jurusan Fisika, “Nampaknya yang jadi masalah mereka masih sama, belum ada tes, kualifikasinya sama dengan yang noninternasional, kemarin lewat SM”, ungkap Juli Astono, M.Si. Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan diberi jam tambahan kursus bahasa inggris dengan nol sks guna meningkatkan kemampuan bahasa inggris. Sementara itu, Ratnawati, M.Sc mengatakan, “Tahun depan, insyaAllah kami akan menyiapkan syarat-syarat supaya jauh lebih baik, harapannya memang anak-anaknya berkompeten, tidak hanya punya uang saja”.

Kualitas kelas internasional
Bentuk kelas internasional dari segi pelaksanaan tidak jauh dari kelas bilingual. Ratnawati, M.sc menambahkan, ”Nanti yang internasional pun juga masih ada yang berbahasa indonesia, masalahnya nama ya mbak, kelas internasional itupun definisinya beda-beda.” Kelas Internasional UNY berbeda dengan kelas internasional di UII ataupun UGM.
Di sisi lain, kualitas pelayanan kelas internasional dikatakan Ratnawati, M.Sc berbeda karena berstandar internasional. Kelas internasional memiliki kelas khusus dengan fasilitas seperti ruang kelas yang luas, ber-AC, loker, komputer untuk dosen, beberapa komputer dengan layanan internet, sedangkan laboratorium yang disediakan untuk kelas internasional sama dengan kelas yang lain, di mana laboratorium FMIPA belum berstandar ISO.
Meskipun kelas internasional diberikan fasilitas khusus, Dr. Ariswan mengharap tidak ada perasaan ketimpangan sosial antara kelas internasional dan kelas lain. “Kami mengharap, tidak ada perasaan berbeda, mahasiswa dari semua jurusan dilayani dengan kapasitas dan kapabilitas yang ada”.
Namun kurikulum kelas internasional masih menggunakan panduan dari universitas. Ratnawati, M.Sc. mengaku masih sulit menerapkan kurikulum standar internasional seperti di luar negeri di UNY. Selain berbeda dengan luar negeri, pelaksanaan program-program di kelas internasional juga disesuaikan dengan anggaran dana yang ada. Di samping itu, salah satu tuntutan WCU bahwa UNY siap go internasional. “Itu idealismenya, untuk go internasional itu berat, sementara ini kita menjawab tantangan dalam negeri, itu yang utama”, paparnya.
[Laras, Suci, Arum]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar