Menilik OSPEK UNY kali ini sangat menarik. Ada tulisan yang cukup menggelitik ketika display UKM berlangsung di GOR, sebuah tulisan yang berbunyi UNY ≠ UINY berada di depan barisan mahasiswa baru Fakultas Bahasa dan Seni. Apakah yang melatarbelakangi kesengajaan memajang tulisan tersebut? Pada uraian di bawah kita akan mengupas hal tersebut. Barangkali, ada proses transformasi informasi yang hendak disampaikan si pembuat tulisan yakni pengejawantahan simbolisme kegelisahan si pembuat tulisan bilamana sisi religiusitas mahasiswa ditonjolkan, maka hal tersebut akan dimaknai sebagai pemasungan kreativitas dan penghancur identitas kepemudaan yang diidentikkan dengan kebebasan berekspresi. Benarkah demikian?
Frame bahwa jika kebebasan berekspresi, bergaul, dan berkesenian jika dipadukan dengan agama akan menemui pemasungannya hendaknya diluruskan kembali. Kita tahu bahwa UNY merupakan kampus pendidikan di mana setiap tahunnya kampus inilah yang mencetak guru. Guru yang tidak hanya mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada muridnya, namun juga mentransfer nilai dan karakter. Pendidikan merupakan instrumen utama dalam pembentukan kepribadian seorang manusia, sehingga tanpa kita sadari pendidikan yang terjadi selama ini khususnya di Indonesia mengalami kesalahan sejarah, karena telah tertanam dalam benak manusia Indonesia bahwa pendidikan sebagai pabriknya robot–robot yang siap dipakai dan digunakan oleh perusahaan tertentu.
Dari fenomena di atas, munculah pertanyaan, peran seperti apa yang bisa diambil mahasiswa kampus pendidikan ini dalam mengawal pembentukan karakter bangsa? Mahasiswa merupakan perwajahan dari karakter pemuda suatu bangsa. Pemuda yang berada di tempat yang tepat di mana kampus merupakan kawah semua ideologi bisa kita temui dan sejatinya telah mengalami pencerahan logika, pencerahan wawasan (knowledge) dan pematangan pemikiran tentang fungsinya di masyarakat. Mahasiswa dapat memerankan fungsinya sebagai garda depan penyokong POLITIK MORAL masyarakat, terutama masyarakat kampus.
UNY yang telah sekian lama mengusung religiusitas sebagai salah satu elemen penting visinya, haruslah dimaknai secara tepat dan tidak serampangan. Profetik sebagai pilar penyokong terwujudnya aspek religiusitas pun dimaknai beberapa orang sebagai konsep yang salah tempat. Alasan humasasi yang dituntut berkaitan dengan kebebasan berekspresi dan menghargai pluralitas disebut-sebut tidak dapat diakomodir dengan konsep profetik yang terlalu mengedepankan aspek agama.
Berbeda dengan multikultural, Kuntowijoyo seorang budayawan dengan ilmu sosial profetiknya menjelaskan bahwa “Humanisasi yang dimaksudkan dalam etika profetik bukanlah humanisme yang berakar pada antroposentrisme renaissance tetapi berakar pada humanisme teosentris, humanisasi ini lahir karena humanisme antroposentrisme justru telah menyebabkan terjadinya dehumanisasi, humanisme dalam etika profetik adalah humanisme yang disemangati oleh nilai – nilai ketuhanan”.
Berangkat dari teori inilah konsep pendidikan humanis Teosentris dirumuskan, yang mana dijelaskan bahwa humanis teosentris adalah suatu proses memanusiakan manusia dengan disemangati oleh nilai – nilai ke Tuhanan yang bersifat transendental atau imanent, supaya terjadi keseimbangan antara aspek rohani dan aspek jasad. Dalam pendidikan humanis teosentris seorang pendidik harus mengetahui tentang hakikat manusia, supaya dalam melakukan proses pembelajaran seorang pendidik tidak terjebak dalam wilayah materialisme.
Perdebatan tentang konsep kemanusiaan sangat banyak, setidaknya ada beberapa konsep tentang manusia, di antaranya adalah konsep materaialisme yang berpendapat bahwa manusia hanya memilki satu unsur yakni jasad, sehingga akal manusia bersifat materi yaitu otak kepala manusia. Dan juga konsep intelektualisme mengakui bahwa manusia memilki dua unsur yaitu jasad dan ruh akan tetapi dalam hal ini ruh diberi pengertian hanya daya berpikir, adapun konsep menurut pendidikan profetik adalah jasad, ruh, hati nurani harus sama–sama dididik sehingga akan adanya kemajuan fisik dan ruhani yang berupa daya pikir dan hati nurani sebagai daya rasa.
Selanjutnya seorang guru harus mampu memposisikan peserta didik sebagai subyek dari pendidikan dan begitu juga kita, calon guru. Jadi guru tidak lagi menjadi fasilitator sehingga proses pendidikan merupakan kesatuan dari proses humanisasi, liberasi, yang mana menghidupkan aktivitas belajar dan mengajar secara bersama–sama dan juga obyek dari belajar adalah realitas yang terjadi. Selain itu pula, unsur transendensi juga harus terpenuhi dalam jiwa pendidik dan juga peserta didik. Maksud transendensi di sini maksudnya adalah transendensi dijadikan sebagai landasan terhadap dua etika profetik sebelumnya sehingga fungsi transendensi adalah mengarahkan ke mana tujuan itu akan dibawa. Oleh karena itu, Pendidikan Humanis Teosentris merupakan suatu usaha bagaimana pendidikan itu mampu melakukan misi profetik, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi penjara atau belenggu bagi pikiran para manusia.
Kembali kepada tulisan UNY≠UINY. Kekhawatiran ini nampaknya berlebihan. Penyikapan konsep profetik tidaklah sesempit menjadikan UNY sebagai kampus Islam negeri. Profetik dengan konsep Pendidikan Humanis Teosentrisnya yang menjadikan fungsi pendidikan sebagai basis transfer pengetahuan (knowledge), nilai, dan karakter ini pun dapat memerankan fungsinya secara elegan dan sinergis. Konsep profetik juga tidak mengesampingkan toleransi keberagaman agama, budaya, suku dan bahasa, yakni keberagaman dalam konteks keIndonesiaan.
Tidak perlu muncul kekhawatiran akan kehilangan identitas budaya dan karakter keindonesiaannya. Sudah saatnya moralitas bangsa diperjuangkan dari barisan pemuda. Barisan mahasiswa. Sudah saatnya budaya ketimuran yang religius, santun tanpa meninggalkan intelektualitas kita bumikan. Sudah saatya mahasiswa sebagai lokomotif politik moral (etik) masyarakat mampu mengawal tujuan ini. Mahasiswa yang merdeka sebenar-benarnya.
Bukan mahasiswa yang mengaku merdeka tapi sebenarnya merekalah yang menjadi korban materialisme barat, korban penyebaran ideologi barat yang di negara asalnya telah banyak ditinggalkan karena terbukti gagalnya ideologi tersebut menjawab tuntutan perkembangan zaman, korban pemilik modal pasar fashion yang dipermainkan oleh trend, dan dibutakan oleh platform “modern dan gaul”. Mahasiswa UNY sebagai generasi pendidik haruslah mempersiapkan diri menjadi pribadi yang matang secara ilmu pengetahuan, karakter, dan kodratnya sebagai manusia (hamba). Hidup Mahasiswa! []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar