Selasa, 17 Agustus 2010

MASA TRANSISI SEBAGAI PENGUATAN JATI DIRI Oleh: Fiqi Akhmad (Presiden BEM REMA UNY 2010)

Sebuah perubahan besar telah terjadi dalam sebuah kehidupan. Suatu lingkungan baru akan kita singgahi dan akan kita tinggalkan lingkungan kehidupan yang telah lama. Itulah sebuah ungkapan untuk menggambarkan suatu perubahan besar yang akan terjadi, yaitu yang disebut sebagai seorang mahasiswa. Sebuah masa transisi atau masa peralihan akan kita lewati saat kita menjadi seorang mahasiswa.
Seperti yang terlah terjadi dalam dinamika kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Perjalanan kehidupan dalam masyarakat hingga sekarang ini telah mengalami berbagai macam masa transisi. Mulai dari masa penjajahan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, sampai dengan orde reformasi sekarang ini. Akan tetapi karena pemaknaan akan masa transisi tidak diambil secara tepat maka yang sekarang terjadi adalah sebuah perubahan yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Ini adalah sebuah realita kehidupan ketika kita tidak dapat memaknai secara benar dari sebuah masa, yaitu masa transisi atau masa peralihan.
Dalam sebuah masa transisi ada dan diperlukan sebuah momentum, yaitu sebuah masa di mana terdapat akumulasi dari waktu-waktu strategis yang terkumpul dalam satu ruang dan waktu. Momentum inilah yang jika digunakan secara tepat pula, akan memberikan daya dorong yang lebih, atas perubahan yang akan dilakukan.
Berbicara tentang mahasiswa baru dan OSPEK adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Mahasiswa sebagai sebuah pintu gerbang perubahan menuju sebuah lingkungan baru. Sebuah lingkungan yang sangat jauh berbeda ketika di SMU. Sehingga kita harus memaknai bahwa masa transisi ini adalah sebuah masa yang rawan, dalam sebuah awal kehidupan seorang mahasiswa. Karena pada masa inilah diberlakukannya ideologi baru, mulai digariskannya langkah ke depan, dan mulai dibangunnya nilai nilai kehidupan.
Dengan berbagai macam tuntutan yang ada di pundak seorang mahasiswa, maka itu tidak mungkin akan dapat terlaksana ketika seorang mahasiswa tidak dapat segera mentas dari masa transisi ini. Pembentukan jati diri pun akan sulit didapat ketika seorang mahasiswa tidak dapat lulus dalam ujian masa transisi. Tuntutan sebagai seorang intelektual, yang mana dia harus menjadi seorang inspirator bagi yang lain, tuntutan untuk menjadi seorang penggerak dan pelaku utama dalam sebuah perubahan, dan sebuah tuntutan pertanggungjawaban terhadap Tuhan pencipta kehidupan. Itu akan menjadi sebuah hal yang tidak mungkin terjadi ketika kita bermasalah dalam masa peralihan ini. Sehingga dapat kita katakan bahwa dengan suksesnya kita mengarungi masa ini maka harapan cerah di masa depan pun akan semakin dekat dan jelas terlihat.
Oleh karena itu diperlukan sebuah jembatan yang dapat menunjukkan arah, menghantarkan dan menyelamatkan seorang mahasiswa dalam mencapai tujuannya. Salah satu jembatan tersebut adalah yang kita sebut sebagai OSPEK. OSPEK adalah sebuah momentum yang tepat untuk menjadi penentu arah dari masa transisi ini. Sehingga perlu sebuah pemaknaan secara menyelurh dari sebuah acara Ospek. Sehingga harapannya ospek adalah ajang untuk memberikan arahan kepada mahasiswa baru untuk dapat menunjukkan kepadanya tentang sebuah jalan yang semestinya dilalui oleh seorang mahasiswa dalam rangka untuk memperkuat jati diri sebagai seorang mahasiswa. Dan tidak semestinya ospek malah dijadikan sebagai ajang untuk nampang di hadapan adik angkatan.
Datangnya mahasiswa baru yang dimaknai sebagai masa peralihan atau masa transisi dan Ospek sebagai sebuah momentum adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dan harus berjalan dengan seimbang. Bagaikan 2 sisi mata uang yang jika salah satunya hilang maka hilanglah nilai dari mata uang tersebut. Ketika kita hanya bisa melakukan pengamanan dalam masa transisi, maka akan diperlukan tenaga yang ekstra untuk dapat menuntaskannya. Karena fungsi dari momentum adalah sebagai katalisator untuk mempercepat laju reaksi sehingga tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebih. Dan begitu juga sebaliknya jika kita hanya mampu memanfaatkan adanya momentum maka, mahasiswa pun akan kurang dalam penguasaan dan pencarian jati dirinya sebagai seorang mahasiswa. yaitu jati diri sebagai seorang intelektual profetik. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar