Selasa, 17 Agustus 2010

Headline--ESQ, MENGUATKAN PONDASI PENDIDIKAN KARAKTER Oleh: Imaroh Syahida

Tiga tahun sudah kampus ini konsisten menyelenggarakan Training ESQ. Pelatihan tersebut wajib diikuti mahasiswa dan dosen. Adalah Prof. Dr. Sugeng Mardiyono, Ph.D (alm) yang pada tahun 2008 saat masih menjabat sebagai Rektor UNY sebagai pencetus hal ini. Nurfina Aznam selaku Pembantu Rektor I mengemukakan latar belakang penyelenggaraan training ESQ, “Latar belakangnya adalah pada waktu itu Ary Ginanjar merupakan tokoh yang berperan dalam membangun karakter anak bangsa. Sementara itu visi UNY adalah bernurani, cendikia, dan mandiri. UNY menyiapkan anak didik sesuai dengan visi. Maka diadakanlah ESQ untuk membangun karakter anak didik guna tercapainya visi UNY”.
Senada dengan PR I, Herminarto Sofyan, Pembantu Rektor III juga menyatakan bahwa ESQ merupakan program utama untuk mencapai visi misi UNY. “ESQ sudah menjadi program utama UNY untuk mencapai visi dan misi UNY”, jelasnya.
Training ESQ apabila dikaitkan dengan kata-kata mutiara yang tertulis di UNY yakni “Pendidikan Investasi Peradaban” menurut PR I sangat berkaitan erat. Menurut beliau, “Investasi membutuhkan pondasi yang kuat. ESQ dibutuhkan untuk menguatkan pondasi tersebut”.
Penyelenggaraan training ESQ juga bukan tanpa arti penting dan manfaat. Alumni training ESQ, Avi Raharjo (Pend. Fisika ’09) mengungkapkan, “ESQ sangat penting untuk membangkitkan kecerdasan emosional dan spiritual bagi mahasiswa baru sehingga diharapkan ketika kuliah tidak sekedar cerdas intelektual, tapi juga emosional dan spiritual. Selain itu banyak sekali manfaat yang diperoleh, mulai dari ilmu sampai teman. Tapi yang terpenting adalah training ESQ dapat membuka mata hati kita, membebaskan kita dari belenggu-belenggu yang selama ini membatasi kita, yang membuat kita tuli dari bisikan Ilahi. Menjadikan manusia sesuai dengan fitrahnya”, ujar Avi.
Pembantu Rektor I, Nurfina Asnam mengakui tentang kebermanfaatan ESQ, “Kita menjadi tahu akan terjadinya alam semesta ini. Dibuktikannya kebenaran teori Big Bang (teori terbentuknya alam semesta). Selain itu juga terdapat kaitan erat dengan makna profetik yang di dalamnya disampaikan kisah-kisah para nabi”.
Laela Mukaromah, maba Kimia Internasional 2010 menyatakan bahwa karakter profetik tidak mudah, “ESQ sebagai training emosi serta spiritual menurut saya cukup penting, walaupun tidak menjamin bahwa selesai ESQ karakter diri kita akan langsung sempurna namun menjadi salah satu jalan agar kita bisa memahami diri kita. Karakter profetik tidaklah mudah namun bukan berarti tidak mungkin”, ujarnya.


ESQ Bukan Pelatihan Agama
ESQ tidak hanya untuk muslim. Seperti dikatakan Nurfina Aznam, “Tidak ada komentar negatif. Dulu semua ikut training ESQ baik muslim maupun non muslim. Akan tetapi tahun kemarin training untuk mahasiswa non muslim dipisah”, terang beliau.
Alumni ESQ, Fika Enggar Prayogo, mahasiswa FIK 2007 menyatakan dengan tegas bahwa ESQ bukan pelatihan agama. “Ini pelatihan Sumber Daya Manusia, bukan pelatihan agama. Nilai-nilai positif yang diajarkan dalam ESQ adalah nilai universal yang mestinya dimiliki semua orang untuk kebaikan bersama”.
Mewujudkan mahasiswa bernurani tidak berhenti sampai di ESQ saja, “ESQ penting karena melihat kondisi saat ini kita perlu dibekali kemampuan pengendalian emosi. Ini merupakan usaha mewujudkan mahasiswa yang bernurani. Tentu tidak berhenti di ESQ saja, tetapi perlu terus ada pendampingan-pendampingan untuk membentuk karakter yang baik”, ujar Dhariska, Pend. IPA 2007.
Mengingat ESQ adalah pelatihan SDM dan penting sebagai pondasi pendidikan karakter yang membuka wawasan, dikatakan Bekti Satiti, Pend. Bahasa Jerman 2010, ESQ sangat penting. “Penting banget, dengan ESQ bisa membuka mata hatiku”, ujar Bekti. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar