Tiga tahun sudah kampus ini konsisten menyelenggarakan Training ESQ. Pelatihan tersebut wajib diikuti mahasiswa dan dosen. Adalah Prof. Dr. Sugeng Mardiyono, Ph.D (alm) yang pada tahun 2008 saat masih menjabat sebagai Rektor UNY sebagai pencetus hal ini. Nurfina Aznam selaku Pembantu Rektor I mengemukakan latar belakang penyelenggaraan training ESQ, “Latar belakangnya adalah pada waktu itu Ary Ginanjar merupakan tokoh yang berperan dalam membangun karakter anak bangsa. Sementara itu visi UNY adalah bernurani, cendikia, dan mandiri. UNY menyiapkan anak didik sesuai dengan visi. Maka diadakanlah ESQ untuk membangun karakter anak didik guna tercapainya visi UNY”.
Senada dengan PR I, Herminarto Sofyan, Pembantu Rektor III juga menyatakan bahwa ESQ merupakan program utama untuk mencapai visi misi UNY. “ESQ sudah menjadi program utama UNY untuk mencapai visi dan misi UNY”, jelasnya.
Training ESQ apabila dikaitkan dengan kata-kata mutiara yang tertulis di UNY yakni “Pendidikan Investasi Peradaban” menurut PR I sangat berkaitan erat. Menurut beliau, “Investasi membutuhkan pondasi yang kuat. ESQ dibutuhkan untuk menguatkan pondasi tersebut”.
Penyelenggaraan training ESQ juga bukan tanpa arti penting dan manfaat. Alumni training ESQ, Avi Raharjo (Pend. Fisika ’09) mengungkapkan, “ESQ sangat penting untuk membangkitkan kecerdasan emosional dan spiritual bagi mahasiswa baru sehingga diharapkan ketika kuliah tidak sekedar cerdas intelektual, tapi juga emosional dan spiritual. Selain itu banyak sekali manfaat yang diperoleh, mulai dari ilmu sampai teman. Tapi yang terpenting adalah training ESQ dapat membuka mata hati kita, membebaskan kita dari belenggu-belenggu yang selama ini membatasi kita, yang membuat kita tuli dari bisikan Ilahi. Menjadikan manusia sesuai dengan fitrahnya”, ujar Avi.
Pembantu Rektor I, Nurfina Asnam mengakui tentang kebermanfaatan ESQ, “Kita menjadi tahu akan terjadinya alam semesta ini. Dibuktikannya kebenaran teori Big Bang (teori terbentuknya alam semesta). Selain itu juga terdapat kaitan erat dengan makna profetik yang di dalamnya disampaikan kisah-kisah para nabi”.
Laela Mukaromah, maba Kimia Internasional 2010 menyatakan bahwa karakter profetik tidak mudah, “ESQ sebagai training emosi serta spiritual menurut saya cukup penting, walaupun tidak menjamin bahwa selesai ESQ karakter diri kita akan langsung sempurna namun menjadi salah satu jalan agar kita bisa memahami diri kita. Karakter profetik tidaklah mudah namun bukan berarti tidak mungkin”, ujarnya.
ESQ Bukan Pelatihan Agama
ESQ tidak hanya untuk muslim. Seperti dikatakan Nurfina Aznam, “Tidak ada komentar negatif. Dulu semua ikut training ESQ baik muslim maupun non muslim. Akan tetapi tahun kemarin training untuk mahasiswa non muslim dipisah”, terang beliau.
Alumni ESQ, Fika Enggar Prayogo, mahasiswa FIK 2007 menyatakan dengan tegas bahwa ESQ bukan pelatihan agama. “Ini pelatihan Sumber Daya Manusia, bukan pelatihan agama. Nilai-nilai positif yang diajarkan dalam ESQ adalah nilai universal yang mestinya dimiliki semua orang untuk kebaikan bersama”.
Mewujudkan mahasiswa bernurani tidak berhenti sampai di ESQ saja, “ESQ penting karena melihat kondisi saat ini kita perlu dibekali kemampuan pengendalian emosi. Ini merupakan usaha mewujudkan mahasiswa yang bernurani. Tentu tidak berhenti di ESQ saja, tetapi perlu terus ada pendampingan-pendampingan untuk membentuk karakter yang baik”, ujar Dhariska, Pend. IPA 2007.
Mengingat ESQ adalah pelatihan SDM dan penting sebagai pondasi pendidikan karakter yang membuka wawasan, dikatakan Bekti Satiti, Pend. Bahasa Jerman 2010, ESQ sangat penting. “Penting banget, dengan ESQ bisa membuka mata hatiku”, ujar Bekti. []
Selasa, 17 Agustus 2010
PUASA PROFETIK! Oleh: Ahmad el-Pena
Puasa Ramadhan kembali menyapa. Persiapan-persiapan menyambutnya pun tak lupa dilakukan umat yang menjalaninya. Dari persiapan itu, persiapan bersifat immateri lebih utama. Masing-masing diri menyiapkan hati menghadapi bulan Ramadhan. Tak ada kerinduan lain kecuali mampu menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan lebih baik tahun ini.
Kerinduan ini bukan semata karena bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, penuh ampunan, dan penuh kasih sayang Ilahi. Siapa pun yang berjumpa Ramadhan pasti merindukan itu. Setiap aktivitas di bulan Ramadhan akan senantiasa dijaga agar bernilai ibadah. Dengan pahala berlipat-lipat, siapa pun berdaya upaya memperbanyak ritual dan amal saleh. Namun, kerinduan ini lebih luas daripada kemampuan membentuk kesalehan diri. Kita merindukan Ramadhan agar mampu mendidik diri sekaligus membangun kesalehan sosial. Kita berharap mampu menjalani Ramadhan lebih baik untuk sebuah idealisme kebangunan negeri. Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia.
Hal ini didasari fakta belum mampunya ibadah puasa Ramadhan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkali-kali bangsa ini menjalani puasa Ramadhan, namun kurang memberikan dampak signifikan bagi arus perubahan ke arah lebih positif. Salahuddin Wahid (2006) mensinyalir mutu puasa kebanyakan dari kita selama ini belum seperti yang diharapkan. Indikatornya adalah kehidupan sehari-hari. Kasus korupsi yang masih merajalela, misalnya, merupakan cermin miskinnya karakter mulia. Perilaku ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan ataupun kriminalitas masih kentara di sekitar kita. Perilaku-perilaku buruk lainnya begitu tampak dalam kehidupan.
Maka, puasa Ramadhan yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan (transendensi) tentu tak sekadar berhenti tanpa gerak amal. Puasa diharapkan mampu mendidik masing-masing diri kita menjadi manusia yang berkontribusi bagi kehidupan. Puasa profetik menghendaki kita mampu mempraktikkan dimensi humanisasi dan liberasi dalam kehidupan. Melalui puasa, kita perlu mendidik diri untuk memiliki kepekaan dan solidaritas sosial yang tidak hanya berhenti pada bulan Ramadhan. Tantangan dari puasa yang kita lakukan tak sekadar terletak pada kemampuan menahan lapar dan dahaga, tapi kemampuan kita membentuk karakter mulia yang terus bertahan. Puasa profetik diarahkan menggerakkan transformasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata Yudi Latif (2006), puasa merupakan wahana pertemuan antara tauhidullah dan tauhidul ummah, antara perkhidmatan kepada Tuhan dan perkhidmatan kepada kemanusiaan. Tanpa memberi dampak sosial, puasa tak menemukan relevansi.
Pada titik ini, evaluasi diri menjadi niscaya. Puasa Ramadhan hendaknya tidak sekadar ritual tahunan tanpa makna. Kita tidak dilarang melakukan sedekah sebanyak-banyaknya selama Ramadhan, namun kita juga perlu memiliki solidaritas sosial jangka panjang. Kejujuran yang kita tegakkan selama Ramadhan bukan semata karena Ramadhan penuh pahala, namun kita menyadari bahwa kejujuran merupakan perilaku yang harus kita miliki.
Puasa bernafaskan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu menyadari dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan puasa profetik, kita menyadari perlunya mengambil peran sejarah meneruskan jejak para Nabi. Hal ini bukan berarti kita akan menjadi Nabi. Kita jelas bukan Nabi dan kita takkan mungkin menjadi Nabi. Namun, kita harus menyadari adanya misi profetik yang terletak di pundak kita dalam membangun kehidupan.
Bagaimana pun, kita memang masih belajar. Kita akan terus belajar mencintai Tuhan. Kita menjalankan puasa untuk mendidik diri kita menjadi manusia profetik. Meminjam pesan dalam Majalah Educinfo FIP UNY Vol II No. 1, Januari-Februari 2008, manusia profetik adalah individu-individu manusia yang berkeyakinan lurus, beribadah secara benar, berbudi mulia, memiliki kekuatan jasmani, luas wawasan berpikirnya, kuasa memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, mampu menafkahi dirinya dan memiliki kreativitas dalam pekerjaan, mampu memelihara waktunya untuk hal yang berguna, dan mampu berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat.
Mungkin dari penjabaran manusia profetik di atas masih bisa didiskusikan. Penulis melihat karakter-karakter di atas relatif tepat menggambarkan karakter manusia paripurna. Meski pendidikan adalah jalan panjang, namun puasa tahun ini merupakan salah satu ruang pendidikan bagi kita menjadi manusia profetik. Dengan puasa profetik, kita belajar menyeimbangkan tiga aspek fundamental dalam ibadah puasa sebagaimana disebutkan Komaruddin Hidayat (2006) terdiri dari pendekatan diri kepada Tuhan, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial.
Dengan ibadah puasa, kita mengaktifkan kekuatan rohani, lalu mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin, sehingga mengalami proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai Ilahi. Pijakan transendensi ini akhirnya mengarahkan kita membangun kehidupan. Dengan menjalankan puasa, kita menyadari tak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebesaran hanya milik Tuhan dan kita pun menjadi manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Kita pun membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan.
Di tengah kekurangan ilmu dan “kehijauan” penulis, artikel ini disajikan. Penulis mohon maaf jika ada kekurangan. Harapannya muncul tulisan lebih lanjut untuk menanggapi tulisan ini. Wallahu a’lam.
Kerinduan ini bukan semata karena bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, penuh ampunan, dan penuh kasih sayang Ilahi. Siapa pun yang berjumpa Ramadhan pasti merindukan itu. Setiap aktivitas di bulan Ramadhan akan senantiasa dijaga agar bernilai ibadah. Dengan pahala berlipat-lipat, siapa pun berdaya upaya memperbanyak ritual dan amal saleh. Namun, kerinduan ini lebih luas daripada kemampuan membentuk kesalehan diri. Kita merindukan Ramadhan agar mampu mendidik diri sekaligus membangun kesalehan sosial. Kita berharap mampu menjalani Ramadhan lebih baik untuk sebuah idealisme kebangunan negeri. Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia.
Hal ini didasari fakta belum mampunya ibadah puasa Ramadhan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkali-kali bangsa ini menjalani puasa Ramadhan, namun kurang memberikan dampak signifikan bagi arus perubahan ke arah lebih positif. Salahuddin Wahid (2006) mensinyalir mutu puasa kebanyakan dari kita selama ini belum seperti yang diharapkan. Indikatornya adalah kehidupan sehari-hari. Kasus korupsi yang masih merajalela, misalnya, merupakan cermin miskinnya karakter mulia. Perilaku ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan ataupun kriminalitas masih kentara di sekitar kita. Perilaku-perilaku buruk lainnya begitu tampak dalam kehidupan.
Maka, puasa Ramadhan yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan (transendensi) tentu tak sekadar berhenti tanpa gerak amal. Puasa diharapkan mampu mendidik masing-masing diri kita menjadi manusia yang berkontribusi bagi kehidupan. Puasa profetik menghendaki kita mampu mempraktikkan dimensi humanisasi dan liberasi dalam kehidupan. Melalui puasa, kita perlu mendidik diri untuk memiliki kepekaan dan solidaritas sosial yang tidak hanya berhenti pada bulan Ramadhan. Tantangan dari puasa yang kita lakukan tak sekadar terletak pada kemampuan menahan lapar dan dahaga, tapi kemampuan kita membentuk karakter mulia yang terus bertahan. Puasa profetik diarahkan menggerakkan transformasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata Yudi Latif (2006), puasa merupakan wahana pertemuan antara tauhidullah dan tauhidul ummah, antara perkhidmatan kepada Tuhan dan perkhidmatan kepada kemanusiaan. Tanpa memberi dampak sosial, puasa tak menemukan relevansi.
Pada titik ini, evaluasi diri menjadi niscaya. Puasa Ramadhan hendaknya tidak sekadar ritual tahunan tanpa makna. Kita tidak dilarang melakukan sedekah sebanyak-banyaknya selama Ramadhan, namun kita juga perlu memiliki solidaritas sosial jangka panjang. Kejujuran yang kita tegakkan selama Ramadhan bukan semata karena Ramadhan penuh pahala, namun kita menyadari bahwa kejujuran merupakan perilaku yang harus kita miliki.
Puasa bernafaskan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu menyadari dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan puasa profetik, kita menyadari perlunya mengambil peran sejarah meneruskan jejak para Nabi. Hal ini bukan berarti kita akan menjadi Nabi. Kita jelas bukan Nabi dan kita takkan mungkin menjadi Nabi. Namun, kita harus menyadari adanya misi profetik yang terletak di pundak kita dalam membangun kehidupan.
Bagaimana pun, kita memang masih belajar. Kita akan terus belajar mencintai Tuhan. Kita menjalankan puasa untuk mendidik diri kita menjadi manusia profetik. Meminjam pesan dalam Majalah Educinfo FIP UNY Vol II No. 1, Januari-Februari 2008, manusia profetik adalah individu-individu manusia yang berkeyakinan lurus, beribadah secara benar, berbudi mulia, memiliki kekuatan jasmani, luas wawasan berpikirnya, kuasa memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, mampu menafkahi dirinya dan memiliki kreativitas dalam pekerjaan, mampu memelihara waktunya untuk hal yang berguna, dan mampu berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat.
Mungkin dari penjabaran manusia profetik di atas masih bisa didiskusikan. Penulis melihat karakter-karakter di atas relatif tepat menggambarkan karakter manusia paripurna. Meski pendidikan adalah jalan panjang, namun puasa tahun ini merupakan salah satu ruang pendidikan bagi kita menjadi manusia profetik. Dengan puasa profetik, kita belajar menyeimbangkan tiga aspek fundamental dalam ibadah puasa sebagaimana disebutkan Komaruddin Hidayat (2006) terdiri dari pendekatan diri kepada Tuhan, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial.
Dengan ibadah puasa, kita mengaktifkan kekuatan rohani, lalu mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin, sehingga mengalami proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai Ilahi. Pijakan transendensi ini akhirnya mengarahkan kita membangun kehidupan. Dengan menjalankan puasa, kita menyadari tak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebesaran hanya milik Tuhan dan kita pun menjadi manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Kita pun membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan.
Di tengah kekurangan ilmu dan “kehijauan” penulis, artikel ini disajikan. Penulis mohon maaf jika ada kekurangan. Harapannya muncul tulisan lebih lanjut untuk menanggapi tulisan ini. Wallahu a’lam.
Highlight--KAPITA SELEKTA, CETAK GENERASI PROFETIK
Kamis(5/8), pada hari kedua ospek fakultas , kampus biru FMIPA mengadakan acara Kapita Selekta. Acara yang wajib diikuti untuk maba ini dibagi menjadi 4 kelompok keahlian. Antara lain enterpreneur, jurnalistik, polkam dan penelitian. Masing divisi membawa penugasan, mengenakan dress code dan mendapatkan materi yang berbeda.
Ines Agusta, tim SDP FMIPA menegaskan bahwa tema besar kapita selekta FMIPA masih berhubungan dengan tema besar Ospek, yaitu memuat kata profetik. Hal ini mengingat bahwa kapita selekta masih dalam serangkaian acara OSPEK.
Agusta Arif Triutama, koordinator tim jurnalistik menjelaskan bahwa tema yang diambil ini adalah “ mencetak generasi jurnalis profetik”. Tim jurnalistik menghadirkan 2 pembicara, yaitu Hendra Sugiantoro dan A Zen yang banyak berbicara tentang peran pers dan gambaran dasar tentang kejurnalistikan. Polkam pun tak mau kalah, dengan menyuguhkan isu tentang lingkungan, tim ini menghadirkan 2 pembicara di sesi pertama. Yaitu Asnan (Menteri Sospol BEM Rema) dan Azwan (ketua BEM FISE). Lalu acara dilanjutkan dengan simulasi aksi di depan dekanat. Aksi yang mengangkat isu konversi minyak tanah ke gas ini diikuti secara antusias oleh maba FMIPA. Berbekal kertas samson dan cat asturo khas aksi, mereka meneriakkan pendapatnya masing – masing.
Bertempat di Ruang seminar B, tim enterpreneur hadir dengan tema “ Be A Succes Enterpreneur”. Nila Widiati selaku koordinator menjelaskan bahwa timnya mengundang 2 pembicara, yaitu Arna Asna Annisa, yang berasal dari MOSEF dan Bapak Ardiansyah. Mereka banyak berbicara tentang bisnis dan enterpreneur sampai dengan marketing plan dan analisis pasar. Selanjutnya, kelompok penelitian yang bertempat di 103 mengambil tema “Optimalisasi diri dengan pendidikan profetik melalui penelitian melalui intelektual mipa yang bernurani cendikia dan mandiri. Adapun muatan materi yang di suguhkan adalah motivasi yang berkaitan dengan penelitian; worldview yang ditekankan pada intelektual profetik, kritis, inovatif dan solutif.
Rencananya acara ini akan berlanjut melalui program SDP (Student Development Program), yang tentunya akan didukung oleh BEM, Hima dan ormawa lainnya. Dengan tema besar yang memuat kata profetik, diharapkan kapita selekta dan rangkaian follow upnya dapat mencetak seorang jurnalis, peneliti, enterpreneur, aktivis serta seorang pengkritisi yang mempunyai jiwa profetik. [Wahyu]
Ines Agusta, tim SDP FMIPA menegaskan bahwa tema besar kapita selekta FMIPA masih berhubungan dengan tema besar Ospek, yaitu memuat kata profetik. Hal ini mengingat bahwa kapita selekta masih dalam serangkaian acara OSPEK.
Agusta Arif Triutama, koordinator tim jurnalistik menjelaskan bahwa tema yang diambil ini adalah “ mencetak generasi jurnalis profetik”. Tim jurnalistik menghadirkan 2 pembicara, yaitu Hendra Sugiantoro dan A Zen yang banyak berbicara tentang peran pers dan gambaran dasar tentang kejurnalistikan. Polkam pun tak mau kalah, dengan menyuguhkan isu tentang lingkungan, tim ini menghadirkan 2 pembicara di sesi pertama. Yaitu Asnan (Menteri Sospol BEM Rema) dan Azwan (ketua BEM FISE). Lalu acara dilanjutkan dengan simulasi aksi di depan dekanat. Aksi yang mengangkat isu konversi minyak tanah ke gas ini diikuti secara antusias oleh maba FMIPA. Berbekal kertas samson dan cat asturo khas aksi, mereka meneriakkan pendapatnya masing – masing.
Bertempat di Ruang seminar B, tim enterpreneur hadir dengan tema “ Be A Succes Enterpreneur”. Nila Widiati selaku koordinator menjelaskan bahwa timnya mengundang 2 pembicara, yaitu Arna Asna Annisa, yang berasal dari MOSEF dan Bapak Ardiansyah. Mereka banyak berbicara tentang bisnis dan enterpreneur sampai dengan marketing plan dan analisis pasar. Selanjutnya, kelompok penelitian yang bertempat di 103 mengambil tema “Optimalisasi diri dengan pendidikan profetik melalui penelitian melalui intelektual mipa yang bernurani cendikia dan mandiri. Adapun muatan materi yang di suguhkan adalah motivasi yang berkaitan dengan penelitian; worldview yang ditekankan pada intelektual profetik, kritis, inovatif dan solutif.
Rencananya acara ini akan berlanjut melalui program SDP (Student Development Program), yang tentunya akan didukung oleh BEM, Hima dan ormawa lainnya. Dengan tema besar yang memuat kata profetik, diharapkan kapita selekta dan rangkaian follow upnya dapat mencetak seorang jurnalis, peneliti, enterpreneur, aktivis serta seorang pengkritisi yang mempunyai jiwa profetik. [Wahyu]
MAHASISWA DAN POLITIK MORAL Oleh: Iva Wulandari, Mahasiswa Sastra Inggris 2008
Menilik OSPEK UNY kali ini sangat menarik. Ada tulisan yang cukup menggelitik ketika display UKM berlangsung di GOR, sebuah tulisan yang berbunyi UNY ≠ UINY berada di depan barisan mahasiswa baru Fakultas Bahasa dan Seni. Apakah yang melatarbelakangi kesengajaan memajang tulisan tersebut? Pada uraian di bawah kita akan mengupas hal tersebut. Barangkali, ada proses transformasi informasi yang hendak disampaikan si pembuat tulisan yakni pengejawantahan simbolisme kegelisahan si pembuat tulisan bilamana sisi religiusitas mahasiswa ditonjolkan, maka hal tersebut akan dimaknai sebagai pemasungan kreativitas dan penghancur identitas kepemudaan yang diidentikkan dengan kebebasan berekspresi. Benarkah demikian?
Frame bahwa jika kebebasan berekspresi, bergaul, dan berkesenian jika dipadukan dengan agama akan menemui pemasungannya hendaknya diluruskan kembali. Kita tahu bahwa UNY merupakan kampus pendidikan di mana setiap tahunnya kampus inilah yang mencetak guru. Guru yang tidak hanya mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada muridnya, namun juga mentransfer nilai dan karakter. Pendidikan merupakan instrumen utama dalam pembentukan kepribadian seorang manusia, sehingga tanpa kita sadari pendidikan yang terjadi selama ini khususnya di Indonesia mengalami kesalahan sejarah, karena telah tertanam dalam benak manusia Indonesia bahwa pendidikan sebagai pabriknya robot–robot yang siap dipakai dan digunakan oleh perusahaan tertentu.
Dari fenomena di atas, munculah pertanyaan, peran seperti apa yang bisa diambil mahasiswa kampus pendidikan ini dalam mengawal pembentukan karakter bangsa? Mahasiswa merupakan perwajahan dari karakter pemuda suatu bangsa. Pemuda yang berada di tempat yang tepat di mana kampus merupakan kawah semua ideologi bisa kita temui dan sejatinya telah mengalami pencerahan logika, pencerahan wawasan (knowledge) dan pematangan pemikiran tentang fungsinya di masyarakat. Mahasiswa dapat memerankan fungsinya sebagai garda depan penyokong POLITIK MORAL masyarakat, terutama masyarakat kampus.
UNY yang telah sekian lama mengusung religiusitas sebagai salah satu elemen penting visinya, haruslah dimaknai secara tepat dan tidak serampangan. Profetik sebagai pilar penyokong terwujudnya aspek religiusitas pun dimaknai beberapa orang sebagai konsep yang salah tempat. Alasan humasasi yang dituntut berkaitan dengan kebebasan berekspresi dan menghargai pluralitas disebut-sebut tidak dapat diakomodir dengan konsep profetik yang terlalu mengedepankan aspek agama.
Berbeda dengan multikultural, Kuntowijoyo seorang budayawan dengan ilmu sosial profetiknya menjelaskan bahwa “Humanisasi yang dimaksudkan dalam etika profetik bukanlah humanisme yang berakar pada antroposentrisme renaissance tetapi berakar pada humanisme teosentris, humanisasi ini lahir karena humanisme antroposentrisme justru telah menyebabkan terjadinya dehumanisasi, humanisme dalam etika profetik adalah humanisme yang disemangati oleh nilai – nilai ketuhanan”.
Berangkat dari teori inilah konsep pendidikan humanis Teosentris dirumuskan, yang mana dijelaskan bahwa humanis teosentris adalah suatu proses memanusiakan manusia dengan disemangati oleh nilai – nilai ke Tuhanan yang bersifat transendental atau imanent, supaya terjadi keseimbangan antara aspek rohani dan aspek jasad. Dalam pendidikan humanis teosentris seorang pendidik harus mengetahui tentang hakikat manusia, supaya dalam melakukan proses pembelajaran seorang pendidik tidak terjebak dalam wilayah materialisme.
Perdebatan tentang konsep kemanusiaan sangat banyak, setidaknya ada beberapa konsep tentang manusia, di antaranya adalah konsep materaialisme yang berpendapat bahwa manusia hanya memilki satu unsur yakni jasad, sehingga akal manusia bersifat materi yaitu otak kepala manusia. Dan juga konsep intelektualisme mengakui bahwa manusia memilki dua unsur yaitu jasad dan ruh akan tetapi dalam hal ini ruh diberi pengertian hanya daya berpikir, adapun konsep menurut pendidikan profetik adalah jasad, ruh, hati nurani harus sama–sama dididik sehingga akan adanya kemajuan fisik dan ruhani yang berupa daya pikir dan hati nurani sebagai daya rasa.
Selanjutnya seorang guru harus mampu memposisikan peserta didik sebagai subyek dari pendidikan dan begitu juga kita, calon guru. Jadi guru tidak lagi menjadi fasilitator sehingga proses pendidikan merupakan kesatuan dari proses humanisasi, liberasi, yang mana menghidupkan aktivitas belajar dan mengajar secara bersama–sama dan juga obyek dari belajar adalah realitas yang terjadi. Selain itu pula, unsur transendensi juga harus terpenuhi dalam jiwa pendidik dan juga peserta didik. Maksud transendensi di sini maksudnya adalah transendensi dijadikan sebagai landasan terhadap dua etika profetik sebelumnya sehingga fungsi transendensi adalah mengarahkan ke mana tujuan itu akan dibawa. Oleh karena itu, Pendidikan Humanis Teosentris merupakan suatu usaha bagaimana pendidikan itu mampu melakukan misi profetik, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi penjara atau belenggu bagi pikiran para manusia.
Kembali kepada tulisan UNY≠UINY. Kekhawatiran ini nampaknya berlebihan. Penyikapan konsep profetik tidaklah sesempit menjadikan UNY sebagai kampus Islam negeri. Profetik dengan konsep Pendidikan Humanis Teosentrisnya yang menjadikan fungsi pendidikan sebagai basis transfer pengetahuan (knowledge), nilai, dan karakter ini pun dapat memerankan fungsinya secara elegan dan sinergis. Konsep profetik juga tidak mengesampingkan toleransi keberagaman agama, budaya, suku dan bahasa, yakni keberagaman dalam konteks keIndonesiaan.
Tidak perlu muncul kekhawatiran akan kehilangan identitas budaya dan karakter keindonesiaannya. Sudah saatnya moralitas bangsa diperjuangkan dari barisan pemuda. Barisan mahasiswa. Sudah saatnya budaya ketimuran yang religius, santun tanpa meninggalkan intelektualitas kita bumikan. Sudah saatya mahasiswa sebagai lokomotif politik moral (etik) masyarakat mampu mengawal tujuan ini. Mahasiswa yang merdeka sebenar-benarnya.
Bukan mahasiswa yang mengaku merdeka tapi sebenarnya merekalah yang menjadi korban materialisme barat, korban penyebaran ideologi barat yang di negara asalnya telah banyak ditinggalkan karena terbukti gagalnya ideologi tersebut menjawab tuntutan perkembangan zaman, korban pemilik modal pasar fashion yang dipermainkan oleh trend, dan dibutakan oleh platform “modern dan gaul”. Mahasiswa UNY sebagai generasi pendidik haruslah mempersiapkan diri menjadi pribadi yang matang secara ilmu pengetahuan, karakter, dan kodratnya sebagai manusia (hamba). Hidup Mahasiswa! []
Frame bahwa jika kebebasan berekspresi, bergaul, dan berkesenian jika dipadukan dengan agama akan menemui pemasungannya hendaknya diluruskan kembali. Kita tahu bahwa UNY merupakan kampus pendidikan di mana setiap tahunnya kampus inilah yang mencetak guru. Guru yang tidak hanya mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada muridnya, namun juga mentransfer nilai dan karakter. Pendidikan merupakan instrumen utama dalam pembentukan kepribadian seorang manusia, sehingga tanpa kita sadari pendidikan yang terjadi selama ini khususnya di Indonesia mengalami kesalahan sejarah, karena telah tertanam dalam benak manusia Indonesia bahwa pendidikan sebagai pabriknya robot–robot yang siap dipakai dan digunakan oleh perusahaan tertentu.
Dari fenomena di atas, munculah pertanyaan, peran seperti apa yang bisa diambil mahasiswa kampus pendidikan ini dalam mengawal pembentukan karakter bangsa? Mahasiswa merupakan perwajahan dari karakter pemuda suatu bangsa. Pemuda yang berada di tempat yang tepat di mana kampus merupakan kawah semua ideologi bisa kita temui dan sejatinya telah mengalami pencerahan logika, pencerahan wawasan (knowledge) dan pematangan pemikiran tentang fungsinya di masyarakat. Mahasiswa dapat memerankan fungsinya sebagai garda depan penyokong POLITIK MORAL masyarakat, terutama masyarakat kampus.
UNY yang telah sekian lama mengusung religiusitas sebagai salah satu elemen penting visinya, haruslah dimaknai secara tepat dan tidak serampangan. Profetik sebagai pilar penyokong terwujudnya aspek religiusitas pun dimaknai beberapa orang sebagai konsep yang salah tempat. Alasan humasasi yang dituntut berkaitan dengan kebebasan berekspresi dan menghargai pluralitas disebut-sebut tidak dapat diakomodir dengan konsep profetik yang terlalu mengedepankan aspek agama.
Berbeda dengan multikultural, Kuntowijoyo seorang budayawan dengan ilmu sosial profetiknya menjelaskan bahwa “Humanisasi yang dimaksudkan dalam etika profetik bukanlah humanisme yang berakar pada antroposentrisme renaissance tetapi berakar pada humanisme teosentris, humanisasi ini lahir karena humanisme antroposentrisme justru telah menyebabkan terjadinya dehumanisasi, humanisme dalam etika profetik adalah humanisme yang disemangati oleh nilai – nilai ketuhanan”.
Berangkat dari teori inilah konsep pendidikan humanis Teosentris dirumuskan, yang mana dijelaskan bahwa humanis teosentris adalah suatu proses memanusiakan manusia dengan disemangati oleh nilai – nilai ke Tuhanan yang bersifat transendental atau imanent, supaya terjadi keseimbangan antara aspek rohani dan aspek jasad. Dalam pendidikan humanis teosentris seorang pendidik harus mengetahui tentang hakikat manusia, supaya dalam melakukan proses pembelajaran seorang pendidik tidak terjebak dalam wilayah materialisme.
Perdebatan tentang konsep kemanusiaan sangat banyak, setidaknya ada beberapa konsep tentang manusia, di antaranya adalah konsep materaialisme yang berpendapat bahwa manusia hanya memilki satu unsur yakni jasad, sehingga akal manusia bersifat materi yaitu otak kepala manusia. Dan juga konsep intelektualisme mengakui bahwa manusia memilki dua unsur yaitu jasad dan ruh akan tetapi dalam hal ini ruh diberi pengertian hanya daya berpikir, adapun konsep menurut pendidikan profetik adalah jasad, ruh, hati nurani harus sama–sama dididik sehingga akan adanya kemajuan fisik dan ruhani yang berupa daya pikir dan hati nurani sebagai daya rasa.
Selanjutnya seorang guru harus mampu memposisikan peserta didik sebagai subyek dari pendidikan dan begitu juga kita, calon guru. Jadi guru tidak lagi menjadi fasilitator sehingga proses pendidikan merupakan kesatuan dari proses humanisasi, liberasi, yang mana menghidupkan aktivitas belajar dan mengajar secara bersama–sama dan juga obyek dari belajar adalah realitas yang terjadi. Selain itu pula, unsur transendensi juga harus terpenuhi dalam jiwa pendidik dan juga peserta didik. Maksud transendensi di sini maksudnya adalah transendensi dijadikan sebagai landasan terhadap dua etika profetik sebelumnya sehingga fungsi transendensi adalah mengarahkan ke mana tujuan itu akan dibawa. Oleh karena itu, Pendidikan Humanis Teosentris merupakan suatu usaha bagaimana pendidikan itu mampu melakukan misi profetik, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi penjara atau belenggu bagi pikiran para manusia.
Kembali kepada tulisan UNY≠UINY. Kekhawatiran ini nampaknya berlebihan. Penyikapan konsep profetik tidaklah sesempit menjadikan UNY sebagai kampus Islam negeri. Profetik dengan konsep Pendidikan Humanis Teosentrisnya yang menjadikan fungsi pendidikan sebagai basis transfer pengetahuan (knowledge), nilai, dan karakter ini pun dapat memerankan fungsinya secara elegan dan sinergis. Konsep profetik juga tidak mengesampingkan toleransi keberagaman agama, budaya, suku dan bahasa, yakni keberagaman dalam konteks keIndonesiaan.
Tidak perlu muncul kekhawatiran akan kehilangan identitas budaya dan karakter keindonesiaannya. Sudah saatnya moralitas bangsa diperjuangkan dari barisan pemuda. Barisan mahasiswa. Sudah saatnya budaya ketimuran yang religius, santun tanpa meninggalkan intelektualitas kita bumikan. Sudah saatya mahasiswa sebagai lokomotif politik moral (etik) masyarakat mampu mengawal tujuan ini. Mahasiswa yang merdeka sebenar-benarnya.
Bukan mahasiswa yang mengaku merdeka tapi sebenarnya merekalah yang menjadi korban materialisme barat, korban penyebaran ideologi barat yang di negara asalnya telah banyak ditinggalkan karena terbukti gagalnya ideologi tersebut menjawab tuntutan perkembangan zaman, korban pemilik modal pasar fashion yang dipermainkan oleh trend, dan dibutakan oleh platform “modern dan gaul”. Mahasiswa UNY sebagai generasi pendidik haruslah mempersiapkan diri menjadi pribadi yang matang secara ilmu pengetahuan, karakter, dan kodratnya sebagai manusia (hamba). Hidup Mahasiswa! []
headline--OSPEK “BARIS-BERBARIS” DI FIK Oleh Ika Feni S.
Hari ke-4 OSPEK, OSPEK di masing-masing fakultas. Masing-masing memiliki agenda tersendiri dalam rangkaian OSPEK tersebut. Agenda tersebut ditujukan kepada maba agar lebih mengenal lingkungan barunya. Masing-masing fakultas memiliki agenda khas. Kegiatan OSPEK FIK yang berbeda dengan kegiatan di fakultas lain adalah PBB. Kegiatan baris-berbaris ini merupakan kegiatan OSPEK yg diadakan setiap tahun oleh FIK. Seperti biasanya pula, kegiatan PBB kali ini bekerjasama dengan Resimen Mahasiswa (menwa) UNY.
Agenda OSPEK ini bertujuan utk membentuk karakter mahasiswa baru. Walau hanya satu jam, dalam PBB juga melatih kedisiplinan dan kejujuran. Seperti apa yg dikatakan Pembantu Dekan I, Drs. Rumpis Agus S, M.S "Kegiatan ini bisa membentuk kepribadian maba, terutama kedisiplinan". Kegiatan yg dilakukan di siang hari ini juga bisa melatih fisik mahasiswa baru,tambah Pak Rumpis.
Kegiatan PBB yang dilakukan di FIK memang tidak ketat. Sehingga banyak maba yg tidak serius. "Maba terlihat masih kekanak-kanakan dan cenderung menganggap ini bermain", ujar Fajri, komandan Menwa yang ditemui selesai kegiatan.
Kegiatan PBB yg dilakukan adalah gerakan dasar, seperti hormat dan jalan ditempat. Hal ini juga sebagai pembekalan kepada calon pendidik olahraga yang setidaknya tahu tentang baris-berbaris. KegiatanOSPEK hari kemarin di FIK dikatakan Ketua BEM FIK mendapat dukungan luar biasa dari fakultas. “Panitia dan maba sangat menikmati Ospek dan merasa nyaman karena koordinasi antara panitia dan maba bagus serta dukungan dari fakultas luar biasa”, ujar Dwi Apriyanto, Ketua BEM FIK.
Berbeda dengan FIK, di FMIPA maba diajak berdiskusi terkait pentingnya keilmuan dari jurusan yang mereka ambil. Hal ini terlihat dari agenda Diskusi Sains yang digelar oleh Fakultas MIPA yang bernuansa kampus biru. Selain itu di MIPA juga diselenggarakan agenda kapita selekta yang terdiri dari 4 macam bidang. Bidang kapita selekta tersebut adalah bidang jurnalistik, entrepreneur, penelitian, dan polkam. Maba MIPA diharuskan memilih satu di antara keempat bidang kapita selekta untuk diikuti. Acara kapita selekta diisi dengan penyampaian materi oleh masing-masing pembicara yang telah handal di bidang tersebut.
Berbeda dengan FMIPA, FIP hari ini mengadakan Ospek Jurusan. Ospek Fakultas FIP diadakan pada hari Rabu dan Jum’at. Hari ini, masing-masing jurusan memperkenalkan segala hal yang terkait dengan jurusannya. Mulai dari pengenalan birokrat dan ormawa serta lingkungan kampus. Agenda pengenalan ini dilakukan dengan mengelilingi seisi kampus. Seperti fakultas MIPA yang mengusung agenda kegiatan ini dengan memberi nama MIPA on the road.
Chitta Fadilla, ketua Ospek jurusan PG PAUD sengaja mengangkat tema ospek, “Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Local untuk Membentuk Calon Guru PAUD yang Berilmu dan Cerdas.” Sebenarnya dasar pemikiran mengangkat tema kearifan local, didasarkan atas saran dosen PG PAUD, Pak Joko Pamungkas M.Pd
“Kearifan lokal seperti permainan tradisional lebih banyak mengandung nilai yang bisa dikembangkan dibanding permainan modern,” ujar Chitta.
Meskipun mengangkat tema kearifan local, jurusan PG PAUD tidak melupakan istilah profetik yang menjadi tema besar OSPEK satu universitas. Jurusan PG PAUD masih menanamkan nilai profetik yang merupakan tema ospek universitas. Mereka memutar sebuah film tentang nabi Yusuf dan membahas sifat-sifat profetik di dalamnya.
Hampir sama dengan PG PAUD, jurusan lain di FIP PPB-BK juga melakukan ramah tamah dengan kajurdik mereka, Sugihartono, M.Pd., pengenalan dengan Himpunan Mahasiswa dan IMABKIN (ikatan mahasiswa BK se-Indonesia) oleh Ketua Hima BK Galang Adi Prawira. Maba jurusan PPB-BK pun diajak berkeliling menjajaki tempat-tempat yang nantinya akan digunakan untuk keperluan kuliah seperti Perpustakaan Fakultas, Lab BK, UPBK (Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling), Museum Pendidikan serta Rektorat dan Perpustakaan Universitas.
Di sisi lain, OSPEK FBS digelar dengan menampilkan rangkaian agenda. Rangkaian agenda tersebut di antaranya display ormawa FBS, FBS inside, reigius input, kapita selekta, dan diakhiri dengan membatik with love. Display ormawa FBS menampilkan 5 UKMF, yakni UKMF KM Alhuda, UKMF penelitian Limlarts, DPM, BEM FBS, dan LPPM Kreativa.
UKMF KM Alhuda menampilkan Josyid sebagai persembahan pertama FBS, dengan diikuti perkenalan Alhuda yang disampaikan oleh Mas’ul Alhuda, David Heri Priambodo. Ia mengatakan bahwa kita adalah mahasiswa di kampus budaya sekaligus sebagai umat muslim maka kita menyebut diri kita muslim budayawan.
“Peradaban inspiratif hanya dibangun oleh para generasi yang inspiratif dan berkarakter profetik”, ujarnya bersemangat. Melalui profetik, sebuah peradaban dapat dibangun. []
IKA FENI S.
(Isti Hardiyanti, Vico L. Ipmawan, Ferlynda Putri, Nurlaelah)
Agenda OSPEK ini bertujuan utk membentuk karakter mahasiswa baru. Walau hanya satu jam, dalam PBB juga melatih kedisiplinan dan kejujuran. Seperti apa yg dikatakan Pembantu Dekan I, Drs. Rumpis Agus S, M.S "Kegiatan ini bisa membentuk kepribadian maba, terutama kedisiplinan". Kegiatan yg dilakukan di siang hari ini juga bisa melatih fisik mahasiswa baru,tambah Pak Rumpis.
Kegiatan PBB yang dilakukan di FIK memang tidak ketat. Sehingga banyak maba yg tidak serius. "Maba terlihat masih kekanak-kanakan dan cenderung menganggap ini bermain", ujar Fajri, komandan Menwa yang ditemui selesai kegiatan.
Kegiatan PBB yg dilakukan adalah gerakan dasar, seperti hormat dan jalan ditempat. Hal ini juga sebagai pembekalan kepada calon pendidik olahraga yang setidaknya tahu tentang baris-berbaris. KegiatanOSPEK hari kemarin di FIK dikatakan Ketua BEM FIK mendapat dukungan luar biasa dari fakultas. “Panitia dan maba sangat menikmati Ospek dan merasa nyaman karena koordinasi antara panitia dan maba bagus serta dukungan dari fakultas luar biasa”, ujar Dwi Apriyanto, Ketua BEM FIK.
Berbeda dengan FIK, di FMIPA maba diajak berdiskusi terkait pentingnya keilmuan dari jurusan yang mereka ambil. Hal ini terlihat dari agenda Diskusi Sains yang digelar oleh Fakultas MIPA yang bernuansa kampus biru. Selain itu di MIPA juga diselenggarakan agenda kapita selekta yang terdiri dari 4 macam bidang. Bidang kapita selekta tersebut adalah bidang jurnalistik, entrepreneur, penelitian, dan polkam. Maba MIPA diharuskan memilih satu di antara keempat bidang kapita selekta untuk diikuti. Acara kapita selekta diisi dengan penyampaian materi oleh masing-masing pembicara yang telah handal di bidang tersebut.
Berbeda dengan FMIPA, FIP hari ini mengadakan Ospek Jurusan. Ospek Fakultas FIP diadakan pada hari Rabu dan Jum’at. Hari ini, masing-masing jurusan memperkenalkan segala hal yang terkait dengan jurusannya. Mulai dari pengenalan birokrat dan ormawa serta lingkungan kampus. Agenda pengenalan ini dilakukan dengan mengelilingi seisi kampus. Seperti fakultas MIPA yang mengusung agenda kegiatan ini dengan memberi nama MIPA on the road.
Chitta Fadilla, ketua Ospek jurusan PG PAUD sengaja mengangkat tema ospek, “Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Local untuk Membentuk Calon Guru PAUD yang Berilmu dan Cerdas.” Sebenarnya dasar pemikiran mengangkat tema kearifan local, didasarkan atas saran dosen PG PAUD, Pak Joko Pamungkas M.Pd
“Kearifan lokal seperti permainan tradisional lebih banyak mengandung nilai yang bisa dikembangkan dibanding permainan modern,” ujar Chitta.
Meskipun mengangkat tema kearifan local, jurusan PG PAUD tidak melupakan istilah profetik yang menjadi tema besar OSPEK satu universitas. Jurusan PG PAUD masih menanamkan nilai profetik yang merupakan tema ospek universitas. Mereka memutar sebuah film tentang nabi Yusuf dan membahas sifat-sifat profetik di dalamnya.
Hampir sama dengan PG PAUD, jurusan lain di FIP PPB-BK juga melakukan ramah tamah dengan kajurdik mereka, Sugihartono, M.Pd., pengenalan dengan Himpunan Mahasiswa dan IMABKIN (ikatan mahasiswa BK se-Indonesia) oleh Ketua Hima BK Galang Adi Prawira. Maba jurusan PPB-BK pun diajak berkeliling menjajaki tempat-tempat yang nantinya akan digunakan untuk keperluan kuliah seperti Perpustakaan Fakultas, Lab BK, UPBK (Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling), Museum Pendidikan serta Rektorat dan Perpustakaan Universitas.
Di sisi lain, OSPEK FBS digelar dengan menampilkan rangkaian agenda. Rangkaian agenda tersebut di antaranya display ormawa FBS, FBS inside, reigius input, kapita selekta, dan diakhiri dengan membatik with love. Display ormawa FBS menampilkan 5 UKMF, yakni UKMF KM Alhuda, UKMF penelitian Limlarts, DPM, BEM FBS, dan LPPM Kreativa.
UKMF KM Alhuda menampilkan Josyid sebagai persembahan pertama FBS, dengan diikuti perkenalan Alhuda yang disampaikan oleh Mas’ul Alhuda, David Heri Priambodo. Ia mengatakan bahwa kita adalah mahasiswa di kampus budaya sekaligus sebagai umat muslim maka kita menyebut diri kita muslim budayawan.
“Peradaban inspiratif hanya dibangun oleh para generasi yang inspiratif dan berkarakter profetik”, ujarnya bersemangat. Melalui profetik, sebuah peradaban dapat dibangun. []
IKA FENI S.
(Isti Hardiyanti, Vico L. Ipmawan, Ferlynda Putri, Nurlaelah)
Headline--Tema Ospek Setiap Fakultas Oleh : Muhammad Azka Ramadhan
Dengan mengangkat tema Pendidikan Profetik, Ospek mengarahkan mahasiswa pada jati diri yang berbeda dari sebelumnya. Seperti Ahmad Bachtiar Faqihuddin, ketua Panitia OSPEK FISE yang menetapkan “Internalisasi Pendidikan Profetik Melalui Kampus Inspiratif UNtuk Membentuk Mahasiswa Yang Bernurani, Intelektual, dan Kontributif.” Menurut beliau nilai pendidikan profetik terdiri dari empat pilar utama, yaitu transendensi (keimanan kepada Tu¬han), humanisasi (memanusiakan manusia), transformasi (mentransfer nilai ketuhanan ke lingkungan), dan liberasi (pembebasan dari kesewenang-wenangan).
Hal senada juga dituturkan oleh ketua panitia OSPEK MIPA, Rezkia Lukman, yang menetapkan tema “Internalisasi pendidikan profetik menuju intelektual FMIPA yang bernurani, cendekia dan mandiri.” Beliau beralasan karena pendidikan karakter profetik merupakan langkah awal membentuk karakter bangsa yang bermoral kenabian. Di mana melalui ospek ini dapat menjadi gerbang munculnya benih-benih manusia yang berkarakter profetik. Dengan demikian ospek merupakan fasilitator sekaligus lingkungan pendukung dalam pembentukan profetik tersebut.
OSPEK Fise juga berupaya menginternalisasi profetik ke maba. “Tujuan dari tema ospek ini agar pendikan profetik dapat terinternalisasi ke maba FISE. Intelektual berarti kecerdasan untuk bangsa. Bernurani artinya mempunyai kecerdasan spiritual agar dapat melakukan aktivitas dengan hati nurani. Serta kontributif dimaksudkan agar berkontribusi sesuai potensi dimiliki maba”, terang Ayu, Koordinator Lapangan Ospek Fise.
OSPEK FMIPA yang juga mengusung tema profetik bila ditinjau dari segi acara tidak jauh berbeda dengan tahun lalu hanya saja untuk pemberian materi lebih ditekankan pada intelektualnya. Seperti pemberian materi dengan tema “Menjadi Pembelajar Sukses” dan diadakannya “Diskusi Sains”.
Namun ada yang berbeda di FMIPA jika ditinjau dari segi sistemnya. “Ada beberapa kemajuan yakni pembuatan website OSPEK MIPA (www.ospekmipa.webs.com). Di web itu memuat lagu-lagu Ospek, artikel-artikel, dan daftar kelompok serta info ospek lainnya. Hal ini diharapkan memudahkan maba dalam mengakses informasi tentang ospek”, ujar Dhariska, SC Ospek FMIPA.
Di tingkat jurusan, Hastin, Mahasiswa TI 2009, panitia OSPEK jurusan Elektronika dan Informatika juga mencantumkan tema profetik di dalamnya, “Menjadi Barometer Mahasiswa Teknik Profesional yang Berkarakter Profetik dengan Jiwa Cemani Sesuai dengan Perkembangan Teknologi”. Hastin berharap agar lulusan UNY nantinya akan melahirkan generasi pendidik yang baik seperti yang terkandung dalam pendidikan profetik.
Hima Elektro juga menerapkan tema profetik. Temanya “Dengan semangat pemuda mari kita wujudkan generasi profetik yang bernurani, cendekia, dan mandiri”. Mengenai kegiatannya, Fadlur Rahman, ketua panitia Ospek Hima Elektro mengatakan kegiatan ospek diisi dengan motivasi, etika mahasiswa, dan games.
Namun hal ini sepertinya berbeda dengan tema ospek FBS UNY, “Dengan Ospek FBS 2010 mewujudkan mahasiswa FBS yang cerdas, kreatif dan religius, alasannya tema tersebut merupakan interpretasi dari visi UNY, Cendekia (menjadi cerdas), Mandiri (menjadi kreatif) dan Bernurani (menjadi religius).” Habibi, ketua ospek FBS menuturkan bahwa beliau merasa kesulitan mengaplikasikan tema profetik, “Kami merasa kesulitan mengaplikasikan tema profetik. Sehingga tidak mau mengusung tema yang nantinya hanya sebatas kata-kata. Kami mencoba menerapkan ontime dan humanis. Ontime dan humanis sendiri menurut kami termasuk didalam nilai religius”.
Menanggapi hal ini, ketua ospek Universitas, Diar Rosdyana tidak begitu mempermasalahkan tema ospek FBS yang tidak mencantumkan profetik di dalamnya, karena sudah dianggap berkaitan dengan tema profetik, “Sebenarnya semua tema fakultas berkaitan dengan profetik, walaupun FBS tidak mencantumkan kata profetik dalam Ospek, tapi tetap berkaitan kok. Kami sudah berkoordinasi yang penting adalah esensi dari tema itu”, tutur Diar.[]
M. AZKA RAMADHAN
(Imaroh Syahida, Nurhayati Budiyanti).
Jurnalis Remapost
Hal senada juga dituturkan oleh ketua panitia OSPEK MIPA, Rezkia Lukman, yang menetapkan tema “Internalisasi pendidikan profetik menuju intelektual FMIPA yang bernurani, cendekia dan mandiri.” Beliau beralasan karena pendidikan karakter profetik merupakan langkah awal membentuk karakter bangsa yang bermoral kenabian. Di mana melalui ospek ini dapat menjadi gerbang munculnya benih-benih manusia yang berkarakter profetik. Dengan demikian ospek merupakan fasilitator sekaligus lingkungan pendukung dalam pembentukan profetik tersebut.
OSPEK Fise juga berupaya menginternalisasi profetik ke maba. “Tujuan dari tema ospek ini agar pendikan profetik dapat terinternalisasi ke maba FISE. Intelektual berarti kecerdasan untuk bangsa. Bernurani artinya mempunyai kecerdasan spiritual agar dapat melakukan aktivitas dengan hati nurani. Serta kontributif dimaksudkan agar berkontribusi sesuai potensi dimiliki maba”, terang Ayu, Koordinator Lapangan Ospek Fise.
OSPEK FMIPA yang juga mengusung tema profetik bila ditinjau dari segi acara tidak jauh berbeda dengan tahun lalu hanya saja untuk pemberian materi lebih ditekankan pada intelektualnya. Seperti pemberian materi dengan tema “Menjadi Pembelajar Sukses” dan diadakannya “Diskusi Sains”.
Namun ada yang berbeda di FMIPA jika ditinjau dari segi sistemnya. “Ada beberapa kemajuan yakni pembuatan website OSPEK MIPA (www.ospekmipa.webs.com). Di web itu memuat lagu-lagu Ospek, artikel-artikel, dan daftar kelompok serta info ospek lainnya. Hal ini diharapkan memudahkan maba dalam mengakses informasi tentang ospek”, ujar Dhariska, SC Ospek FMIPA.
Di tingkat jurusan, Hastin, Mahasiswa TI 2009, panitia OSPEK jurusan Elektronika dan Informatika juga mencantumkan tema profetik di dalamnya, “Menjadi Barometer Mahasiswa Teknik Profesional yang Berkarakter Profetik dengan Jiwa Cemani Sesuai dengan Perkembangan Teknologi”. Hastin berharap agar lulusan UNY nantinya akan melahirkan generasi pendidik yang baik seperti yang terkandung dalam pendidikan profetik.
Hima Elektro juga menerapkan tema profetik. Temanya “Dengan semangat pemuda mari kita wujudkan generasi profetik yang bernurani, cendekia, dan mandiri”. Mengenai kegiatannya, Fadlur Rahman, ketua panitia Ospek Hima Elektro mengatakan kegiatan ospek diisi dengan motivasi, etika mahasiswa, dan games.
Namun hal ini sepertinya berbeda dengan tema ospek FBS UNY, “Dengan Ospek FBS 2010 mewujudkan mahasiswa FBS yang cerdas, kreatif dan religius, alasannya tema tersebut merupakan interpretasi dari visi UNY, Cendekia (menjadi cerdas), Mandiri (menjadi kreatif) dan Bernurani (menjadi religius).” Habibi, ketua ospek FBS menuturkan bahwa beliau merasa kesulitan mengaplikasikan tema profetik, “Kami merasa kesulitan mengaplikasikan tema profetik. Sehingga tidak mau mengusung tema yang nantinya hanya sebatas kata-kata. Kami mencoba menerapkan ontime dan humanis. Ontime dan humanis sendiri menurut kami termasuk didalam nilai religius”.
Menanggapi hal ini, ketua ospek Universitas, Diar Rosdyana tidak begitu mempermasalahkan tema ospek FBS yang tidak mencantumkan profetik di dalamnya, karena sudah dianggap berkaitan dengan tema profetik, “Sebenarnya semua tema fakultas berkaitan dengan profetik, walaupun FBS tidak mencantumkan kata profetik dalam Ospek, tapi tetap berkaitan kok. Kami sudah berkoordinasi yang penting adalah esensi dari tema itu”, tutur Diar.[]
M. AZKA RAMADHAN
(Imaroh Syahida, Nurhayati Budiyanti).
Jurnalis Remapost
Jiwa Profetik dalam Identitas Mahasiswa Oleh: Epi Suhaepi (Mahasiswa PKnH’07/ Wakil Direktur EC BEM REMA UNY 2010)
Manusia merupakan subjek pencetak sejarah disebuah realitas yang berawal dari wacana maupun harapan. Mereka (manusia) di berikan kapasitas berupa jasad, ruh dan hati serta fasilitas berupa waktu. Waktu juga di sebut sebagai “masa karya” yang kita sebut sebagai “amal”. Dengan demikian, manusia berhak mengklaim waktu yang menjadi miliknya ketika waktu itu di gunakan untuk berkarya, beramal dan berkontribusi yang mampu bermetamorfosis dari sebuah wacana peradaban menjadi realitas masa depan. Akan tetapi apa yang terjadi dengan model manusia di abad 21 sekarang terutama anak muda Indonesia? Manusia sekarang di lingkari dengan pengaruh kapitalisme dan liberalisme yang membuat manusia kehilangan derajatnya sebagai manusia (dehumanisasi) yang pada akhirnya dapat mengikis kekebalan ruh humanisasi (memanusiakan manusia). Kebobrokan moral seperti menjadi hal biasa, pergaulan bebas menjadi akad yang sah dan dengan semangat individualisme dan hedonisme mereka memproklamirkan dirinya menjadi manusia antroposentris.
Manusia antroposentris adalah manusia produk ressainans yang mengukur suatu kebenaran berdasarkan rasionya semata sehingga hidup mereka kosong tanpa makna. Walaupun jiwa mereka terisi, itu tidak di dasarkan nilai transendensi (ketuhanan) tapi jiwa mereka terisi berdasarkan basis materialisme (materialism basic) yang sebenarnya tidak berisi karena mengganggap hal yang “ghaib” itu adalah mitos belaka. Akibatnya, seorang manusia (mahasiswa) yang sedang mengalami stress, depresi, mereka mencari tempat ketenangan berdasarkan rekomendasi dari pengaruh globalisasi seperti kapitalisme. Oleh karena itu, kita bisa melihat orang-orang yang penuh masalah berkeliaran di arena produk kapitalisme seperti Mal, Carrefour, Bioskop dan produk kapitalisme lainnya. Referensi tempat yang dapat menyejukan suasana kebatinan seperti Masjid, Majlis ilmu maupun tempat dengan suasana spiritualitas terasa tabu dan mitos untuk di jadikan wisata hati dalam mencari ketenangan dan solusi.
Meneguhkan Kembali Identitas Diri
Identitas mahasiswa (calon pendidik) yang sering di gaungkan sebagai agent of change, iron stock dan an inspirator seperti panggang jauh dari api. Jarak antara fakta dengan idealita terlihat bersebrangan seakan tidak ada titik temu di antara keduanya. Lantas, harus seperti apa mahasiswa sebagai calon pendidik muda masa depan menghadapi tantangan di era modernitas saat ini? Berbicara mengenai pendidikan adalah berbicara mengenai manusia itu sendiri, berbicara pendidikan adalah berbicara tentang akhlak, kepribadian dan jiwa manusia seutuhnya. Landasan hukum perbincangan mengenai manusia itu tercantum di dalam tujuan pendidikan (pasal 3 UU No 20 tahun 2003) yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Karakter yang ingin di bangun adalah harus di mulai dengan pembangunan jiwa, mengisi ruang ruh yang hampa dan pada akhirnya mempertemukan potensi jiwa dengan idealita. Jiwa manusia mengakui akan sesuatu yang ada tapi tidak ada dalam pandangan mata, jiwa manusia adalah wadah yang membutuhkan isi, jiwa adalah penentu tindakan fisik yang berawal dari metafisik (sesuatu yang ghaib). Transendensi (nilai keimanan), inilah yang dapat di baca oleh jiwa, mengisi ruang hampa dan menjadi landasan dalam mengukur benar tidaknya fenomena kehidupan. Manusia harus di kembalikan kepada Sang Pemilik Jiwa yang akan mengisi ruang hampa agar hidup mereka penuh makna. Manusia (mahasiswa) dengan semangat perubahan yang di miliki, kekuatan fisik yang membuat semua mata melirik dan jiwa penuh idealisme akan mampu menjadi “penggerak kolektif” karena dia sadar akan tugas dan perannya. Layaknya seorang Nabi (Prophet) yang tidak melindungi dirinya dengan kecerdasan yang di miliki dan tidak menghindarkan diri untuk lepas dari permasalahan umat, maka manusia (mahasiswa) sebagai insan yang tercerahkan dengan ilmu pengetahuan, sejatinya menjadi problem solver di tengah masyarakat yang hiruk pikuk dengan berbagai masalah yang ada. Semoga….
Manusia antroposentris adalah manusia produk ressainans yang mengukur suatu kebenaran berdasarkan rasionya semata sehingga hidup mereka kosong tanpa makna. Walaupun jiwa mereka terisi, itu tidak di dasarkan nilai transendensi (ketuhanan) tapi jiwa mereka terisi berdasarkan basis materialisme (materialism basic) yang sebenarnya tidak berisi karena mengganggap hal yang “ghaib” itu adalah mitos belaka. Akibatnya, seorang manusia (mahasiswa) yang sedang mengalami stress, depresi, mereka mencari tempat ketenangan berdasarkan rekomendasi dari pengaruh globalisasi seperti kapitalisme. Oleh karena itu, kita bisa melihat orang-orang yang penuh masalah berkeliaran di arena produk kapitalisme seperti Mal, Carrefour, Bioskop dan produk kapitalisme lainnya. Referensi tempat yang dapat menyejukan suasana kebatinan seperti Masjid, Majlis ilmu maupun tempat dengan suasana spiritualitas terasa tabu dan mitos untuk di jadikan wisata hati dalam mencari ketenangan dan solusi.
Meneguhkan Kembali Identitas Diri
Identitas mahasiswa (calon pendidik) yang sering di gaungkan sebagai agent of change, iron stock dan an inspirator seperti panggang jauh dari api. Jarak antara fakta dengan idealita terlihat bersebrangan seakan tidak ada titik temu di antara keduanya. Lantas, harus seperti apa mahasiswa sebagai calon pendidik muda masa depan menghadapi tantangan di era modernitas saat ini? Berbicara mengenai pendidikan adalah berbicara mengenai manusia itu sendiri, berbicara pendidikan adalah berbicara tentang akhlak, kepribadian dan jiwa manusia seutuhnya. Landasan hukum perbincangan mengenai manusia itu tercantum di dalam tujuan pendidikan (pasal 3 UU No 20 tahun 2003) yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Karakter yang ingin di bangun adalah harus di mulai dengan pembangunan jiwa, mengisi ruang ruh yang hampa dan pada akhirnya mempertemukan potensi jiwa dengan idealita. Jiwa manusia mengakui akan sesuatu yang ada tapi tidak ada dalam pandangan mata, jiwa manusia adalah wadah yang membutuhkan isi, jiwa adalah penentu tindakan fisik yang berawal dari metafisik (sesuatu yang ghaib). Transendensi (nilai keimanan), inilah yang dapat di baca oleh jiwa, mengisi ruang hampa dan menjadi landasan dalam mengukur benar tidaknya fenomena kehidupan. Manusia harus di kembalikan kepada Sang Pemilik Jiwa yang akan mengisi ruang hampa agar hidup mereka penuh makna. Manusia (mahasiswa) dengan semangat perubahan yang di miliki, kekuatan fisik yang membuat semua mata melirik dan jiwa penuh idealisme akan mampu menjadi “penggerak kolektif” karena dia sadar akan tugas dan perannya. Layaknya seorang Nabi (Prophet) yang tidak melindungi dirinya dengan kecerdasan yang di miliki dan tidak menghindarkan diri untuk lepas dari permasalahan umat, maka manusia (mahasiswa) sebagai insan yang tercerahkan dengan ilmu pengetahuan, sejatinya menjadi problem solver di tengah masyarakat yang hiruk pikuk dengan berbagai masalah yang ada. Semoga….
Headline Ospek Hari ketiga--DISPLAY UKM 2010; FBS TELAT MAKAN, TIM P3K KEWALAHAN Oleh Vico L. Ipmawan
Siapa sangka acara Display UKM 2010 menelan banyak korban. Pembukaan meriah yang ditandai dengan pemanahan balon oleh Rektor UNY, Rochmat Wahab berujung pada keributan dalam GOR kebanggaan UNY itu. Keributan yang terjadi di penghujung acara itu bermula saat Maba dari FBS dan sebagian FT belum mendapat jatah makan siang. Jatah siang terlambat datang 2,5 jam dari jadwal. Sekitar pukul 14.00 WIB konsumsi sudah datang, tetapi hanya berjumlah 300 bungkus.
Konsumsi acara Display UKM sendiri dipegang oleh panitia Display 2010 yang merupakan gabungan dari UKM se-UNY di bawah naungan FK UKM (Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa).
“Sebelumnya untuk mencegah para Maba kelaparan, panitia Ospek FBS telah menyiasati dengan memberikan snack yang seharusnya di drop untuk besok pagi”, ujar Nuniawati, Mahasiswi PLS 06 yang juga anggota DPM universitas di stan advokasi depan GOR.
Alhasil karena kejadian tersebut para Maba FBS berjatuhan sakit dan pingsan. Korban berpuluh-puluh orang, bahkan beberapa ada yang dibawa ke rumah sakit. Tim P3K dari masing-masing fakultas dan KSR tampak kewalahan dan kelelahan. Kebanyakan korban jatuh sakit dan pingsan dikarenakan makanan yang terlambat datang. Salah satu Panitia Ospek FBS mengungkapkan rasa kecewanya terhadap pendistribusian yang tidak tepat waktu.
Suasana menjadi makin tidak kondusif apalagi ditambah hawa panas dan ruangan berasap. Asap dihasilkan oleh display dari UKM UKKI yang menyalakan kembang api dan UKM MENWA Pasopati yang melempar seperti bom asap dengan skala kecil. “Asap yang ada dari hasil display membuat suasana makin parah di lantai tiga”, ucap Vera W, koordinator tim P3K FT. Hal senada diungkapkan oleh Isnaini Mukaromah, panitia Ospek FIP di sela-sela kesibukannya menolong maba FIP yang sesak nafas. Isnaini menyatakan bahwa asap menjadi penyebab tambahan.
Panitia Display saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa Yohanes (koordinator konsumsi) mengadakan perjanjian dengan Suwida Nursaleh (wakil ketua Display). Perjanjian tersebut tertulis hitam di atas putih bermaterei). Suwida menyanggupi akan mampu menyediakan 3000 bungkus nasi. Pukul 10.30 nasi dijanjikan akan sampai di GOR. Namun Yohanes sendiri mengaku belum mendapat keterangan dari Suwida tentang masalah tersebut karena sampai pukul 16.00 Suwida tidak terlihat di GOR. Rencananya pada hari keempat panitia display akan datang ke FBS untuk meminta maaf kepada FBS.
FBS Mogok?
Sempat muncul isu FBS hari ini meliburkan diri menurut keterangan beberapa Maba yang sempat ditemui Remapost menyebutkan panitia Ospek FBS kurang berkenan karena tidak dimanusiakan setelah insiden pendistribusian makanan yang molor. Remapost sendiri kesulitan mendapat keterangan dari para panitia FBS karena panitia FBS menolak memberikan konfirmasi.
Simpang siur kabar terkait liburnya Ospek FBS terjawab malam harinya di facebook BEM FBS. Ospek FBS memang libur tetapi Maba diminta berangkat pukul 09.00 WIB untuk makan-makan, sebab catering sudah terlanjur dipesan oleh panitia pada hari itu. Adapun bunyi pesan singkat di facebook BEM FBS tersebut sebagai berikut: “Buat Maba, diumumkan bahwa BESOK Rabu tidak ada kegiatan OSPEK!! Tapi ada pesta makan bersama dengan panitia. DOn't miss it, ya, Jam 9! jangan lupa membawa co-card!! Thank you. Salam sendok Bebek!!!”.
Memang wajar jika panitia Ospek FBS kurang berkenan sebab setelah acara display usai, mereka masih harus sibuk mengurusi maba yang jatuh sakit. PKM tiba-tiba menjadi penuh dengan sekian maba yang sakit. Bahkan ketika maba berkumpul untuk diberi arahan di FBS masih ada maba yang pingsan.
Display UKM Sesuai Tema, Sudahkah?
Ketua Display UKM, Alim Kafabillah, menuliskan tema display pada Katalog UKM tahun ini adalah “Implementasi Multikultural Menuju Insan Kreatif Berkarakter Profetik”. Ditambahkan pula, implementasi untuk dapat menerapkan, bukan sekedar wacana. Berkarakter kemudian ditekankan pada keunikan setiap individu sesuai dengan sifat profetik seperti: benar, dapat dipercaya, cerdas, dan baik berperilaku.
“Saya menyayangkan penampilan tim hoki perempuan yang memakai rok di atas lutut” Ungkap Adnan Habibulloh, ketua BEM FMIPA. Memang penampilan tim hoki perempuan kemarin saat display menggunakan rok mini. Meskipun ada pula yang memakai legging untuk rangkapan.
Peristiwa ini sempat membuat Maba FIK meneriaki dengan teriakan nakal ke arah pemain yang memakai rok mini tersebut. “Harapanya untuk tahun depan tim hoki perempuan memakai pakaian yang lebih baik, dulu kan pernah penampilan tari yang pakai kemben, trus sekarang di dobeli dengan pakaian yang mirip warna kulit. Harapannya tim hoki meniru. Memang sih tidak semua orang berpendapat seperti saya, setiap orang mempunyai persepsi berbeda” lanjut Adnan.
Meski mengusung tema implementasi profetik, Display UKM 2010 masih diwarnai acara yang kurang sesuai dengan tema seperti jingkrak-jingkrak ala dugem. Hal ini juga ditanggapi Maba sebagai penampilan yang kurang baik sehingga diharapkan berikutnya lebih baik. “Penempatan mahasiswa untuk menyaksikan dan cara menampilkan UKM harus lebih baik”, ujar Fani, mahasiswa D3 Elektro FT.
Rektor UNY dalam sambutan pembukaan juga menerangkan bahwa moralitas adalah ikon UNY. Apapun UKM-nya, maka tunjukan siapa kita. Tunjukkan kita semua adalah Mahasiswa UNY yang berkarakter profetik.
Ditemui dalam lain kesempatan, Ketua Forum Komunikasi UKM, Cahyo Purnomo Edi, yang juga mahasiswa AKP 06 menilai cara berpakaian yang kurang beretika dan jingkrak-jingkrak ala dugem merupakan sebuah bentuk totalitas mereka dalam menampilkan UKM-nya masing-masing. “Tujuan mereka adalah menghibur, menurut saya adalah sebagai wujud totalitas mereka ketika tampil, contoh jika harus menampilkan aksi teatrikal seperti gembel,maka harus benar-benar menjadi seorang gembel” ungkap Cahyo.[]
VICO LUTHFI IPMAWAN
(Imaroh, Nurhayati, M. Azka)
Konsumsi acara Display UKM sendiri dipegang oleh panitia Display 2010 yang merupakan gabungan dari UKM se-UNY di bawah naungan FK UKM (Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa).
“Sebelumnya untuk mencegah para Maba kelaparan, panitia Ospek FBS telah menyiasati dengan memberikan snack yang seharusnya di drop untuk besok pagi”, ujar Nuniawati, Mahasiswi PLS 06 yang juga anggota DPM universitas di stan advokasi depan GOR.
Alhasil karena kejadian tersebut para Maba FBS berjatuhan sakit dan pingsan. Korban berpuluh-puluh orang, bahkan beberapa ada yang dibawa ke rumah sakit. Tim P3K dari masing-masing fakultas dan KSR tampak kewalahan dan kelelahan. Kebanyakan korban jatuh sakit dan pingsan dikarenakan makanan yang terlambat datang. Salah satu Panitia Ospek FBS mengungkapkan rasa kecewanya terhadap pendistribusian yang tidak tepat waktu.
Suasana menjadi makin tidak kondusif apalagi ditambah hawa panas dan ruangan berasap. Asap dihasilkan oleh display dari UKM UKKI yang menyalakan kembang api dan UKM MENWA Pasopati yang melempar seperti bom asap dengan skala kecil. “Asap yang ada dari hasil display membuat suasana makin parah di lantai tiga”, ucap Vera W, koordinator tim P3K FT. Hal senada diungkapkan oleh Isnaini Mukaromah, panitia Ospek FIP di sela-sela kesibukannya menolong maba FIP yang sesak nafas. Isnaini menyatakan bahwa asap menjadi penyebab tambahan.
Panitia Display saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa Yohanes (koordinator konsumsi) mengadakan perjanjian dengan Suwida Nursaleh (wakil ketua Display). Perjanjian tersebut tertulis hitam di atas putih bermaterei). Suwida menyanggupi akan mampu menyediakan 3000 bungkus nasi. Pukul 10.30 nasi dijanjikan akan sampai di GOR. Namun Yohanes sendiri mengaku belum mendapat keterangan dari Suwida tentang masalah tersebut karena sampai pukul 16.00 Suwida tidak terlihat di GOR. Rencananya pada hari keempat panitia display akan datang ke FBS untuk meminta maaf kepada FBS.
FBS Mogok?
Sempat muncul isu FBS hari ini meliburkan diri menurut keterangan beberapa Maba yang sempat ditemui Remapost menyebutkan panitia Ospek FBS kurang berkenan karena tidak dimanusiakan setelah insiden pendistribusian makanan yang molor. Remapost sendiri kesulitan mendapat keterangan dari para panitia FBS karena panitia FBS menolak memberikan konfirmasi.
Simpang siur kabar terkait liburnya Ospek FBS terjawab malam harinya di facebook BEM FBS. Ospek FBS memang libur tetapi Maba diminta berangkat pukul 09.00 WIB untuk makan-makan, sebab catering sudah terlanjur dipesan oleh panitia pada hari itu. Adapun bunyi pesan singkat di facebook BEM FBS tersebut sebagai berikut: “Buat Maba, diumumkan bahwa BESOK Rabu tidak ada kegiatan OSPEK!! Tapi ada pesta makan bersama dengan panitia. DOn't miss it, ya, Jam 9! jangan lupa membawa co-card!! Thank you. Salam sendok Bebek!!!”.
Memang wajar jika panitia Ospek FBS kurang berkenan sebab setelah acara display usai, mereka masih harus sibuk mengurusi maba yang jatuh sakit. PKM tiba-tiba menjadi penuh dengan sekian maba yang sakit. Bahkan ketika maba berkumpul untuk diberi arahan di FBS masih ada maba yang pingsan.
Display UKM Sesuai Tema, Sudahkah?
Ketua Display UKM, Alim Kafabillah, menuliskan tema display pada Katalog UKM tahun ini adalah “Implementasi Multikultural Menuju Insan Kreatif Berkarakter Profetik”. Ditambahkan pula, implementasi untuk dapat menerapkan, bukan sekedar wacana. Berkarakter kemudian ditekankan pada keunikan setiap individu sesuai dengan sifat profetik seperti: benar, dapat dipercaya, cerdas, dan baik berperilaku.
“Saya menyayangkan penampilan tim hoki perempuan yang memakai rok di atas lutut” Ungkap Adnan Habibulloh, ketua BEM FMIPA. Memang penampilan tim hoki perempuan kemarin saat display menggunakan rok mini. Meskipun ada pula yang memakai legging untuk rangkapan.
Peristiwa ini sempat membuat Maba FIK meneriaki dengan teriakan nakal ke arah pemain yang memakai rok mini tersebut. “Harapanya untuk tahun depan tim hoki perempuan memakai pakaian yang lebih baik, dulu kan pernah penampilan tari yang pakai kemben, trus sekarang di dobeli dengan pakaian yang mirip warna kulit. Harapannya tim hoki meniru. Memang sih tidak semua orang berpendapat seperti saya, setiap orang mempunyai persepsi berbeda” lanjut Adnan.
Meski mengusung tema implementasi profetik, Display UKM 2010 masih diwarnai acara yang kurang sesuai dengan tema seperti jingkrak-jingkrak ala dugem. Hal ini juga ditanggapi Maba sebagai penampilan yang kurang baik sehingga diharapkan berikutnya lebih baik. “Penempatan mahasiswa untuk menyaksikan dan cara menampilkan UKM harus lebih baik”, ujar Fani, mahasiswa D3 Elektro FT.
Rektor UNY dalam sambutan pembukaan juga menerangkan bahwa moralitas adalah ikon UNY. Apapun UKM-nya, maka tunjukan siapa kita. Tunjukkan kita semua adalah Mahasiswa UNY yang berkarakter profetik.
Ditemui dalam lain kesempatan, Ketua Forum Komunikasi UKM, Cahyo Purnomo Edi, yang juga mahasiswa AKP 06 menilai cara berpakaian yang kurang beretika dan jingkrak-jingkrak ala dugem merupakan sebuah bentuk totalitas mereka dalam menampilkan UKM-nya masing-masing. “Tujuan mereka adalah menghibur, menurut saya adalah sebagai wujud totalitas mereka ketika tampil, contoh jika harus menampilkan aksi teatrikal seperti gembel,maka harus benar-benar menjadi seorang gembel” ungkap Cahyo.[]
VICO LUTHFI IPMAWAN
(Imaroh, Nurhayati, M. Azka)
MASTER OF CLASSROOM OSPEK UNY 2010 “Pendidikan Profetik untuk Mahasiswa Baru”
Orientasi Studi Pengenalan Kampus (Ospek) pada hari pertama telah usai. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, ospek tahun ini juga mengusung tema “Pendidikan Karakter Profetik”. Pendidikan Profetik atau pendidikan yang mengacu pada pendidikan dengan sifat dari kenabian menjadi awal pengenalan para mahasiswa baru dengan UNY.
Salah satu peran terpenting dalam Ospek adalah MCR (Master of Classroom) yang membawakan acara Ospek dari awal sampai akhir. MCR harus mampu mengendalikan ribuan mahasiswa dan membawa alur acara Ospek dengan lancar. Agar kita mengenal MCR OSPEK tahun ini lebih dekat, reporter Rema Post Muhammad Azka Ramadhan melakukan wawancara dengan tiga orang MCR, yaitu Mbak Miftah dari Pendidikan Ekonomi 2008, Mas Nafi dari Pendidikan Bahasa Inggris 2008, dan Mas Syarif dari Pendidikan Ekonomi 2008.
Apa motivasimu menjadi MCR?
• Miftah: Tantangan-tantangan di Universitas semakin meningkat, ingin mencari pengalaman baru. Ingin mengetahui semangat mahasiswa baru UNY 2010 seperti apa
• Nafi: Sebagai manusia, saya ingin menningkatkan kapasitas diri. Sebagai mahasiswa, saya ingin memberi konstribusi lebih bagi universitas. Saya tidak ingin menjadi mahasiswa yang biasa saja tapi ingin menjadi mahasiswa yang luar biasa.
• Arif: Ingin memberikan kontribusi bagi universitas, ingin memberi sebuah makna atau karya pada mahasiswa mengenai UNY
Inspirasi apa yang akan diberikan ke mahasiswa baru?
• Miftah: MCR akan menyatukan bahwa semua fakultas adalah satu mahasiswa UNY. Tidak ada “sukuisme” seperti saya FBS, saya FT, saya MIPA, dsb.
• Nafi: Saya akan memberikan wacana pendidikan karakter profetik dari segi sikap dan tutur kata.
• Arif: Akan menyatukan mahasiswa menjadi satu mahasiswa UNY melalui profetik.
Bagaimana urgensi MCR di ospek?
• Miftah: MCR penting. Seorang MC harus menjadi sebuah kekuatan yang dapat mengendali¬kan keadaan yang tidak teratur menjadi teratur, yang tidak menyatu menjadi satu.
• Nafi: Harus menyampaikan substansi profetik itu sendiri, aura profetik, menawarkan suasana kampus yang profetik
• Arif : Sebagai sebuah pengenalan ke depan, biar bisa kenal UNY lebih dalam, dan lang¬kah apa selanjutnya di UNY. Akan memberi materi secara bertahap. Akan memasukkan visi dan misi UNY dalam materi
Bagaimana Anda menerapkan tema ospek saat menjalankan tugas?
• Miftah: silahkan lihat sendiri saja, supaya Anda dapat merasakan.
• Nafi: Memberikan wacana profetik secara berulang-ulang
• Arif: Menyampaikan tema profetik yang mencakup segala aspek; pakaian, sikap, dsb. Memberi motivasi pada mahasiswa baru. Akan dicetak untuk menjadi pribadi profetik.
Salah satu peran terpenting dalam Ospek adalah MCR (Master of Classroom) yang membawakan acara Ospek dari awal sampai akhir. MCR harus mampu mengendalikan ribuan mahasiswa dan membawa alur acara Ospek dengan lancar. Agar kita mengenal MCR OSPEK tahun ini lebih dekat, reporter Rema Post Muhammad Azka Ramadhan melakukan wawancara dengan tiga orang MCR, yaitu Mbak Miftah dari Pendidikan Ekonomi 2008, Mas Nafi dari Pendidikan Bahasa Inggris 2008, dan Mas Syarif dari Pendidikan Ekonomi 2008.
Apa motivasimu menjadi MCR?
• Miftah: Tantangan-tantangan di Universitas semakin meningkat, ingin mencari pengalaman baru. Ingin mengetahui semangat mahasiswa baru UNY 2010 seperti apa
• Nafi: Sebagai manusia, saya ingin menningkatkan kapasitas diri. Sebagai mahasiswa, saya ingin memberi konstribusi lebih bagi universitas. Saya tidak ingin menjadi mahasiswa yang biasa saja tapi ingin menjadi mahasiswa yang luar biasa.
• Arif: Ingin memberikan kontribusi bagi universitas, ingin memberi sebuah makna atau karya pada mahasiswa mengenai UNY
Inspirasi apa yang akan diberikan ke mahasiswa baru?
• Miftah: MCR akan menyatukan bahwa semua fakultas adalah satu mahasiswa UNY. Tidak ada “sukuisme” seperti saya FBS, saya FT, saya MIPA, dsb.
• Nafi: Saya akan memberikan wacana pendidikan karakter profetik dari segi sikap dan tutur kata.
• Arif: Akan menyatukan mahasiswa menjadi satu mahasiswa UNY melalui profetik.
Bagaimana urgensi MCR di ospek?
• Miftah: MCR penting. Seorang MC harus menjadi sebuah kekuatan yang dapat mengendali¬kan keadaan yang tidak teratur menjadi teratur, yang tidak menyatu menjadi satu.
• Nafi: Harus menyampaikan substansi profetik itu sendiri, aura profetik, menawarkan suasana kampus yang profetik
• Arif : Sebagai sebuah pengenalan ke depan, biar bisa kenal UNY lebih dalam, dan lang¬kah apa selanjutnya di UNY. Akan memberi materi secara bertahap. Akan memasukkan visi dan misi UNY dalam materi
Bagaimana Anda menerapkan tema ospek saat menjalankan tugas?
• Miftah: silahkan lihat sendiri saja, supaya Anda dapat merasakan.
• Nafi: Memberikan wacana profetik secara berulang-ulang
• Arif: Menyampaikan tema profetik yang mencakup segala aspek; pakaian, sikap, dsb. Memberi motivasi pada mahasiswa baru. Akan dicetak untuk menjadi pribadi profetik.
MASA TRANSISI SEBAGAI PENGUATAN JATI DIRI Oleh: Fiqi Akhmad (Presiden BEM REMA UNY 2010)
Sebuah perubahan besar telah terjadi dalam sebuah kehidupan. Suatu lingkungan baru akan kita singgahi dan akan kita tinggalkan lingkungan kehidupan yang telah lama. Itulah sebuah ungkapan untuk menggambarkan suatu perubahan besar yang akan terjadi, yaitu yang disebut sebagai seorang mahasiswa. Sebuah masa transisi atau masa peralihan akan kita lewati saat kita menjadi seorang mahasiswa.
Seperti yang terlah terjadi dalam dinamika kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Perjalanan kehidupan dalam masyarakat hingga sekarang ini telah mengalami berbagai macam masa transisi. Mulai dari masa penjajahan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, sampai dengan orde reformasi sekarang ini. Akan tetapi karena pemaknaan akan masa transisi tidak diambil secara tepat maka yang sekarang terjadi adalah sebuah perubahan yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Ini adalah sebuah realita kehidupan ketika kita tidak dapat memaknai secara benar dari sebuah masa, yaitu masa transisi atau masa peralihan.
Dalam sebuah masa transisi ada dan diperlukan sebuah momentum, yaitu sebuah masa di mana terdapat akumulasi dari waktu-waktu strategis yang terkumpul dalam satu ruang dan waktu. Momentum inilah yang jika digunakan secara tepat pula, akan memberikan daya dorong yang lebih, atas perubahan yang akan dilakukan.
Berbicara tentang mahasiswa baru dan OSPEK adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Mahasiswa sebagai sebuah pintu gerbang perubahan menuju sebuah lingkungan baru. Sebuah lingkungan yang sangat jauh berbeda ketika di SMU. Sehingga kita harus memaknai bahwa masa transisi ini adalah sebuah masa yang rawan, dalam sebuah awal kehidupan seorang mahasiswa. Karena pada masa inilah diberlakukannya ideologi baru, mulai digariskannya langkah ke depan, dan mulai dibangunnya nilai nilai kehidupan.
Dengan berbagai macam tuntutan yang ada di pundak seorang mahasiswa, maka itu tidak mungkin akan dapat terlaksana ketika seorang mahasiswa tidak dapat segera mentas dari masa transisi ini. Pembentukan jati diri pun akan sulit didapat ketika seorang mahasiswa tidak dapat lulus dalam ujian masa transisi. Tuntutan sebagai seorang intelektual, yang mana dia harus menjadi seorang inspirator bagi yang lain, tuntutan untuk menjadi seorang penggerak dan pelaku utama dalam sebuah perubahan, dan sebuah tuntutan pertanggungjawaban terhadap Tuhan pencipta kehidupan. Itu akan menjadi sebuah hal yang tidak mungkin terjadi ketika kita bermasalah dalam masa peralihan ini. Sehingga dapat kita katakan bahwa dengan suksesnya kita mengarungi masa ini maka harapan cerah di masa depan pun akan semakin dekat dan jelas terlihat.
Oleh karena itu diperlukan sebuah jembatan yang dapat menunjukkan arah, menghantarkan dan menyelamatkan seorang mahasiswa dalam mencapai tujuannya. Salah satu jembatan tersebut adalah yang kita sebut sebagai OSPEK. OSPEK adalah sebuah momentum yang tepat untuk menjadi penentu arah dari masa transisi ini. Sehingga perlu sebuah pemaknaan secara menyelurh dari sebuah acara Ospek. Sehingga harapannya ospek adalah ajang untuk memberikan arahan kepada mahasiswa baru untuk dapat menunjukkan kepadanya tentang sebuah jalan yang semestinya dilalui oleh seorang mahasiswa dalam rangka untuk memperkuat jati diri sebagai seorang mahasiswa. Dan tidak semestinya ospek malah dijadikan sebagai ajang untuk nampang di hadapan adik angkatan.
Datangnya mahasiswa baru yang dimaknai sebagai masa peralihan atau masa transisi dan Ospek sebagai sebuah momentum adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dan harus berjalan dengan seimbang. Bagaikan 2 sisi mata uang yang jika salah satunya hilang maka hilanglah nilai dari mata uang tersebut. Ketika kita hanya bisa melakukan pengamanan dalam masa transisi, maka akan diperlukan tenaga yang ekstra untuk dapat menuntaskannya. Karena fungsi dari momentum adalah sebagai katalisator untuk mempercepat laju reaksi sehingga tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebih. Dan begitu juga sebaliknya jika kita hanya mampu memanfaatkan adanya momentum maka, mahasiswa pun akan kurang dalam penguasaan dan pencarian jati dirinya sebagai seorang mahasiswa. yaitu jati diri sebagai seorang intelektual profetik. []
Seperti yang terlah terjadi dalam dinamika kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Perjalanan kehidupan dalam masyarakat hingga sekarang ini telah mengalami berbagai macam masa transisi. Mulai dari masa penjajahan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, sampai dengan orde reformasi sekarang ini. Akan tetapi karena pemaknaan akan masa transisi tidak diambil secara tepat maka yang sekarang terjadi adalah sebuah perubahan yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Ini adalah sebuah realita kehidupan ketika kita tidak dapat memaknai secara benar dari sebuah masa, yaitu masa transisi atau masa peralihan.
Dalam sebuah masa transisi ada dan diperlukan sebuah momentum, yaitu sebuah masa di mana terdapat akumulasi dari waktu-waktu strategis yang terkumpul dalam satu ruang dan waktu. Momentum inilah yang jika digunakan secara tepat pula, akan memberikan daya dorong yang lebih, atas perubahan yang akan dilakukan.
Berbicara tentang mahasiswa baru dan OSPEK adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Mahasiswa sebagai sebuah pintu gerbang perubahan menuju sebuah lingkungan baru. Sebuah lingkungan yang sangat jauh berbeda ketika di SMU. Sehingga kita harus memaknai bahwa masa transisi ini adalah sebuah masa yang rawan, dalam sebuah awal kehidupan seorang mahasiswa. Karena pada masa inilah diberlakukannya ideologi baru, mulai digariskannya langkah ke depan, dan mulai dibangunnya nilai nilai kehidupan.
Dengan berbagai macam tuntutan yang ada di pundak seorang mahasiswa, maka itu tidak mungkin akan dapat terlaksana ketika seorang mahasiswa tidak dapat segera mentas dari masa transisi ini. Pembentukan jati diri pun akan sulit didapat ketika seorang mahasiswa tidak dapat lulus dalam ujian masa transisi. Tuntutan sebagai seorang intelektual, yang mana dia harus menjadi seorang inspirator bagi yang lain, tuntutan untuk menjadi seorang penggerak dan pelaku utama dalam sebuah perubahan, dan sebuah tuntutan pertanggungjawaban terhadap Tuhan pencipta kehidupan. Itu akan menjadi sebuah hal yang tidak mungkin terjadi ketika kita bermasalah dalam masa peralihan ini. Sehingga dapat kita katakan bahwa dengan suksesnya kita mengarungi masa ini maka harapan cerah di masa depan pun akan semakin dekat dan jelas terlihat.
Oleh karena itu diperlukan sebuah jembatan yang dapat menunjukkan arah, menghantarkan dan menyelamatkan seorang mahasiswa dalam mencapai tujuannya. Salah satu jembatan tersebut adalah yang kita sebut sebagai OSPEK. OSPEK adalah sebuah momentum yang tepat untuk menjadi penentu arah dari masa transisi ini. Sehingga perlu sebuah pemaknaan secara menyelurh dari sebuah acara Ospek. Sehingga harapannya ospek adalah ajang untuk memberikan arahan kepada mahasiswa baru untuk dapat menunjukkan kepadanya tentang sebuah jalan yang semestinya dilalui oleh seorang mahasiswa dalam rangka untuk memperkuat jati diri sebagai seorang mahasiswa. Dan tidak semestinya ospek malah dijadikan sebagai ajang untuk nampang di hadapan adik angkatan.
Datangnya mahasiswa baru yang dimaknai sebagai masa peralihan atau masa transisi dan Ospek sebagai sebuah momentum adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dan harus berjalan dengan seimbang. Bagaikan 2 sisi mata uang yang jika salah satunya hilang maka hilanglah nilai dari mata uang tersebut. Ketika kita hanya bisa melakukan pengamanan dalam masa transisi, maka akan diperlukan tenaga yang ekstra untuk dapat menuntaskannya. Karena fungsi dari momentum adalah sebagai katalisator untuk mempercepat laju reaksi sehingga tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebih. Dan begitu juga sebaliknya jika kita hanya mampu memanfaatkan adanya momentum maka, mahasiswa pun akan kurang dalam penguasaan dan pencarian jati dirinya sebagai seorang mahasiswa. yaitu jati diri sebagai seorang intelektual profetik. []
KEBANGKITAN ITU DI TANGAN PEMUDA!
OSPEK telah tiba. Senin (2/8) OSPEK dibuka oleh Rektor UNY, Dr. Rochmat Wahab, M.Pd, MA dengan pemukulan gong. OSPEK universitas yang bertempat di GOR UNY ini dipandu oleh 3 MCR, yaitu Nafi, Syarif, dan Miftah. Acara ospek hari pertama tersebut juga dimeriahkan oleh kehadiran Pena Profetik (maskot OSPEK). Penampilan pena profetik yang berkolaborasi dengan para MCR semakin menambah gempita ospek.
Pada sesi Studium General hadir tiga pembicara, yakni ...Said dan Dr. Marwah Daud Ibrahim. Acara dimoderatori oleh Pidi Winata (Presiden BEM REMA UNY 2009). Pada kesempatan itu Said menyampaikan bahwa semangat perubahan itu datang dari dalam diri kita sendiri tidak hanya mengandalkan datangnya semangat dari luar. “Anda adalah apa yang anda pikirkan. Potensi yang ada pada diri anda adalah nafas anda”, ujar Said.
Tidak kalah, pembicara kedua Dr. Marwah Daud Ibrahim banyak menyampaikan gagasannya tentang bangsa Indonesia. “Negeri ini besar. Ditakdirkan untuk menjadi besar”, ungkapnya. Beliau juga mengutarakan keyakinannya bahwa setiap diri harus punya cita dan tujuan hidup olah karenanya dianjurkan pada para mahasiswa untuk menentukan target hidup mereka. Para mahasiswa baru dipandu beliau untuk langsung mencoba menuangkan targetan hidup mereka di masing-masing buku mereka. Penyampaian materi ditutup oleh Marwah dengan sebuah afirmasi, “Seluruh kita meyakini bahwa Indonesia bisa berjaya. Bersatu Nusantara Berjaya”.
Dalam rangkaian acara tersebut tidak lupa diadakannya sesi tanya jawab yang diperuntukkan pada mahasiswa sebagai implementasi nilai liberasi dalam profetik. Kemudian acara dilanjutkan setelah istirahat dengan sesi bertajuk “UNY on Air” yang merupakan bincang-bincang mengenai statuta UNY bersama jajaran Rektorat.
Sorak sorai suara mahasiswa baru mengguncang GOR pada sesi berikutnya, yaitu “Suara Mahasiswa” yang merupakan display Ormawa se-UNY. Maba mengelu-elukan fakultas masing-masing. Diawali dengan penampilan teatrikal dari UNSTRAT, maba digiring agar mempunyai idealisme sebagai agen perubah bangsa oleh Mensospol BEM REMA UNY, M. Asnan Fathurrohman. Selanjutnya orasi dari Ketua BEM tiap fakultas mendapat sambutan meriah dari maba. Mereka semua menyerukan perubahan dan kebangkitan ada di tangan pemuda. Maka, jangan pernah berhenti. Bergerak tuntaskan perubahan.
Hidup mahasiswa!!
Imaroh Syahida, Nurhayati Budiyanti
Jurnalis REMAPOST
Pada sesi Studium General hadir tiga pembicara, yakni ...Said dan Dr. Marwah Daud Ibrahim. Acara dimoderatori oleh Pidi Winata (Presiden BEM REMA UNY 2009). Pada kesempatan itu Said menyampaikan bahwa semangat perubahan itu datang dari dalam diri kita sendiri tidak hanya mengandalkan datangnya semangat dari luar. “Anda adalah apa yang anda pikirkan. Potensi yang ada pada diri anda adalah nafas anda”, ujar Said.
Tidak kalah, pembicara kedua Dr. Marwah Daud Ibrahim banyak menyampaikan gagasannya tentang bangsa Indonesia. “Negeri ini besar. Ditakdirkan untuk menjadi besar”, ungkapnya. Beliau juga mengutarakan keyakinannya bahwa setiap diri harus punya cita dan tujuan hidup olah karenanya dianjurkan pada para mahasiswa untuk menentukan target hidup mereka. Para mahasiswa baru dipandu beliau untuk langsung mencoba menuangkan targetan hidup mereka di masing-masing buku mereka. Penyampaian materi ditutup oleh Marwah dengan sebuah afirmasi, “Seluruh kita meyakini bahwa Indonesia bisa berjaya. Bersatu Nusantara Berjaya”.
Dalam rangkaian acara tersebut tidak lupa diadakannya sesi tanya jawab yang diperuntukkan pada mahasiswa sebagai implementasi nilai liberasi dalam profetik. Kemudian acara dilanjutkan setelah istirahat dengan sesi bertajuk “UNY on Air” yang merupakan bincang-bincang mengenai statuta UNY bersama jajaran Rektorat.
Sorak sorai suara mahasiswa baru mengguncang GOR pada sesi berikutnya, yaitu “Suara Mahasiswa” yang merupakan display Ormawa se-UNY. Maba mengelu-elukan fakultas masing-masing. Diawali dengan penampilan teatrikal dari UNSTRAT, maba digiring agar mempunyai idealisme sebagai agen perubah bangsa oleh Mensospol BEM REMA UNY, M. Asnan Fathurrohman. Selanjutnya orasi dari Ketua BEM tiap fakultas mendapat sambutan meriah dari maba. Mereka semua menyerukan perubahan dan kebangkitan ada di tangan pemuda. Maka, jangan pernah berhenti. Bergerak tuntaskan perubahan.
Hidup mahasiswa!!
Imaroh Syahida, Nurhayati Budiyanti
Jurnalis REMAPOST
KELAS INTERNASIONAL UNTUK MERAIH PROFIT??!!!
KELAS INTERNASIONAL UNTUK MERAIH PROFIT??!!!
oleh: Isti Hardiyanti
Biaya masuk UNY yang mahal ternyata tidak sebanding kualitas. Terlebih mahasiswa yang masuk kelas swadana dan internasional memiliki tanggungan yang lebih besar. Seperti diungkapkan oleh mahasiswa swadana, Dyah Kusuma Ayu, ia membayar biaya masuk sekitar 10 juta rupiah. Hal itu memberatkannya, jika tidak melunasi di akhir semester dua, maka ia harus cuti kuliah. Ia mengatakan, ”Fasilitas belum setimpal dengan apa yang kita bayarkan”.
Faktanya ada banyak fasilitas perkuliahan di UNY yang masih kurang, sebagai contoh di FBS, mahasiswa baik subsidi maupun swadana pada semester lalu belum merasakan perkuliahan yang nyaman, seperti di gedung FBS timur dan ruang kelas di C.18 dengan ruangan yang gelap, sempit, dan tidak ada fasilitas LCD. Hal ini disampaikan Zuyyinatul Farikhah, mahasiswi PBI 2008. “Semester lalu kuliah kami di gedung FBS timur dengan ruangan yang gelap dan tidak tersedia LCD. Buku-buku di perpustakaan FBS juga tidak terlalu lengkap, tidak banyak referensi bahasanya,” katanya. Dari fakultas Teknik, mahasiswa pendidikan teknik mekatronika Ika Kurniasari 2009, juga menyayangkan fasilitas UNY, “Sangat tidak setara dengan biaya masuk. Alat-alat prakteknya tidak memadai”.
Butuh Transparansi keuangan
Sementara itu, Alya dari PBD 2008 selain menyayangkan dosen-dosen tidak bisa bekerja sama dengan mahasiswa dan sarana prasarana juga kurang, Ia juga mengharap transparansi keuangan. Katanya,” Kita butuh transparansi, pembayaran harusnya gamblang.”
Namun, menurut Pembantu Rektor II, pengelolaan keuangan di UNY telah dikelola secara transparan dan akuntabel berdasar hasil audit keuangan UNY tahun 2009 Wajar Tanpa Pengecualian, atau wajar dalam segala hal. ”Keuangan UNY diaudit oleh kantor akuntan publik, audit eksternal, dan independen,” terang Sutrisna Wibawa, M.Pd. Sedangkan pembagian biaya pendidikan yang diterima oleh mahasiswa dimusyawarahkan di rapat kerja universitas.
Kecenderungan Profit?
Tahun 2010, UNY membuka kelas internasional sebanyak 6 prodi, yaitu Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Kimia, Pendidikan IPA, dan Pendidikan Akuntansi. Terlebih di FMIPA sendiri, semua kelas swadana telah dibuat menjadi standar internasional. Bahkan pada 2 sampai 3 tahun mendatang, semua kelas di FMIPA yang jurusan pendidikan akan diinternasionalkan dengan alasan tuntutan globalisasi. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah untuk membuka kelas internasional di sekolah-sekolah setara SMP dan SMA. “Kita mengangkat peluang itu, dengan cekatan kita tanggapi semampu kita, kelas internasional itu dalam tanda petik menyiapkan guru supaya siap diterjunkan. Outputnya menghasilkan guru-guru, tujuan kita memang itu,” terang Koordinator tim pengembangan kelas berstandar internasional FMIPA, Ratnawati, M.Sc.
Pembukaan kelas internasional di sekolah-sekolah ditanggapi lain, karena disinyalir bertendensi profit. Kini, di sekolah-sekolah ada kecenderungan baru untuk membuat kelas internasional supaya mendapat uang sebanyak-banyaknya. Ratnawati, M.Sc. menambahkan, “Memang target dari rektorat itu kalau bisa semua kelas internasional, bukan memenuhi itu tapi arah kecenderungannya untuk mengumpulkan uang. Ini kecenderungannya ke sana gitu ya mbak. Sebenarnya hanya ada beberapa yang mampu, tapi kenapa semua diinternasionalkan”.
Sementara itu, Dekan FMIPA Dr. Ariswan sendiri mengatakan, “Kami akan berusaha untuk apa yang mereka berikan akan kami kembalikan sebesar-besarnya, dana yang diberikan UNY dikembalikan kepada kepentingan mahasiswa”.
Kelas Internasional Mahal
Tentunya, biaya pendidikan kelas Internasional UNY jauh lebih tinggi dari kelas biasa. Untuk SPP setiap semester mencapai 3 juta rupiah, sedangkan jumlah uang sumbangan ditentukan kepada masing-masing mahasiswa. Menanggapi tingginya biaya kelas internasional, Anas Hermawan, mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Internasional mengatakan,” Masuk itu bayar Rp.11.500.000 dan SPP tiap bulan Rp.3.000.000, itu termasuk mahal dan berat”.
Dalih biaya tinggi ini dikarenakan kelas internasional butuh penanganan khusus, termasuk dosen-dosen pengajar yang berbeda kualifikasi. “Karena tidak semua dosen berhak disitu, hanya dosen yang memiliki kualifikasi khusus, sehingga diberi penghargaan lebih,” terang PR II, Sutrisno Wibawa, M.Pd.
Dr. Ariswan juga mengatakan hal yang sama. Ia menjelaskan ada kualifikasi ideal bagi dosen dan menambahkan, “Tapi saya membawa tahun ini lebih membumi, saya tidak muluk-muluk, yang penting ada dulu, sekarang sudahlah dosen-dosen alumni luar negeri yang kita minta untuk mengajar kelas internasional. Untuk proses berikutnya, ada workshop, pelatihan, kita mengantarkan semua dosen untuk bertaraf internasional.”
Dengan biaya yang lebih tinggi, tentu mahasiswa mengharap ada kualitas pendidikan yang jauh melebihi kelas yang lain. Namun, standar pendidikannya belum terlihat signifikan kualitasnya. Dalam menjaring mahasiswa baru misalnya, belum ada standar kualifikasi bagi mahasiswa. Penyeleksian mahasiswa baru yang masuk tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kelas biasa. Terbukti, mahasiswa baru tidak diseleksi secara khusus, masih diseleksi lewat jalur SNMPTN, atau SM seperti kelas lain. “Seleksinya masuk lewat jalur SNMPTN yang bisa dibilang cukup mudah dan tidak ada test khusus,“ ungkap Fetik Rahayu, Mahasiswi IPA 2009.
Ihwal tersebut tidak dinafikan oleh Kaprodi Jurusan Fisika, “Nampaknya yang jadi masalah mereka masih sama, belum ada tes, kualifikasinya sama dengan yang noninternasional, kemarin lewat SM”, ungkap Juli Astono, M.Si. Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan diberi jam tambahan kursus bahasa inggris dengan nol sks guna meningkatkan kemampuan bahasa inggris. Sementara itu, Ratnawati, M.Sc mengatakan, “Tahun depan, insyaAllah kami akan menyiapkan syarat-syarat supaya jauh lebih baik, harapannya memang anak-anaknya berkompeten, tidak hanya punya uang saja”.
Kualitas kelas internasional
Bentuk kelas internasional dari segi pelaksanaan tidak jauh dari kelas bilingual. Ratnawati, M.sc menambahkan, ”Nanti yang internasional pun juga masih ada yang berbahasa indonesia, masalahnya nama ya mbak, kelas internasional itupun definisinya beda-beda.” Kelas Internasional UNY berbeda dengan kelas internasional di UII ataupun UGM.
Di sisi lain, kualitas pelayanan kelas internasional dikatakan Ratnawati, M.Sc berbeda karena berstandar internasional. Kelas internasional memiliki kelas khusus dengan fasilitas seperti ruang kelas yang luas, ber-AC, loker, komputer untuk dosen, beberapa komputer dengan layanan internet, sedangkan laboratorium yang disediakan untuk kelas internasional sama dengan kelas yang lain, di mana laboratorium FMIPA belum berstandar ISO.
Meskipun kelas internasional diberikan fasilitas khusus, Dr. Ariswan mengharap tidak ada perasaan ketimpangan sosial antara kelas internasional dan kelas lain. “Kami mengharap, tidak ada perasaan berbeda, mahasiswa dari semua jurusan dilayani dengan kapasitas dan kapabilitas yang ada”.
Namun kurikulum kelas internasional masih menggunakan panduan dari universitas. Ratnawati, M.Sc. mengaku masih sulit menerapkan kurikulum standar internasional seperti di luar negeri di UNY. Selain berbeda dengan luar negeri, pelaksanaan program-program di kelas internasional juga disesuaikan dengan anggaran dana yang ada. Di samping itu, salah satu tuntutan WCU bahwa UNY siap go internasional. “Itu idealismenya, untuk go internasional itu berat, sementara ini kita menjawab tantangan dalam negeri, itu yang utama”, paparnya.
[Laras, Suci, Arum]
oleh: Isti Hardiyanti
Biaya masuk UNY yang mahal ternyata tidak sebanding kualitas. Terlebih mahasiswa yang masuk kelas swadana dan internasional memiliki tanggungan yang lebih besar. Seperti diungkapkan oleh mahasiswa swadana, Dyah Kusuma Ayu, ia membayar biaya masuk sekitar 10 juta rupiah. Hal itu memberatkannya, jika tidak melunasi di akhir semester dua, maka ia harus cuti kuliah. Ia mengatakan, ”Fasilitas belum setimpal dengan apa yang kita bayarkan”.
Faktanya ada banyak fasilitas perkuliahan di UNY yang masih kurang, sebagai contoh di FBS, mahasiswa baik subsidi maupun swadana pada semester lalu belum merasakan perkuliahan yang nyaman, seperti di gedung FBS timur dan ruang kelas di C.18 dengan ruangan yang gelap, sempit, dan tidak ada fasilitas LCD. Hal ini disampaikan Zuyyinatul Farikhah, mahasiswi PBI 2008. “Semester lalu kuliah kami di gedung FBS timur dengan ruangan yang gelap dan tidak tersedia LCD. Buku-buku di perpustakaan FBS juga tidak terlalu lengkap, tidak banyak referensi bahasanya,” katanya. Dari fakultas Teknik, mahasiswa pendidikan teknik mekatronika Ika Kurniasari 2009, juga menyayangkan fasilitas UNY, “Sangat tidak setara dengan biaya masuk. Alat-alat prakteknya tidak memadai”.
Butuh Transparansi keuangan
Sementara itu, Alya dari PBD 2008 selain menyayangkan dosen-dosen tidak bisa bekerja sama dengan mahasiswa dan sarana prasarana juga kurang, Ia juga mengharap transparansi keuangan. Katanya,” Kita butuh transparansi, pembayaran harusnya gamblang.”
Namun, menurut Pembantu Rektor II, pengelolaan keuangan di UNY telah dikelola secara transparan dan akuntabel berdasar hasil audit keuangan UNY tahun 2009 Wajar Tanpa Pengecualian, atau wajar dalam segala hal. ”Keuangan UNY diaudit oleh kantor akuntan publik, audit eksternal, dan independen,” terang Sutrisna Wibawa, M.Pd. Sedangkan pembagian biaya pendidikan yang diterima oleh mahasiswa dimusyawarahkan di rapat kerja universitas.
Kecenderungan Profit?
Tahun 2010, UNY membuka kelas internasional sebanyak 6 prodi, yaitu Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Kimia, Pendidikan IPA, dan Pendidikan Akuntansi. Terlebih di FMIPA sendiri, semua kelas swadana telah dibuat menjadi standar internasional. Bahkan pada 2 sampai 3 tahun mendatang, semua kelas di FMIPA yang jurusan pendidikan akan diinternasionalkan dengan alasan tuntutan globalisasi. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah untuk membuka kelas internasional di sekolah-sekolah setara SMP dan SMA. “Kita mengangkat peluang itu, dengan cekatan kita tanggapi semampu kita, kelas internasional itu dalam tanda petik menyiapkan guru supaya siap diterjunkan. Outputnya menghasilkan guru-guru, tujuan kita memang itu,” terang Koordinator tim pengembangan kelas berstandar internasional FMIPA, Ratnawati, M.Sc.
Pembukaan kelas internasional di sekolah-sekolah ditanggapi lain, karena disinyalir bertendensi profit. Kini, di sekolah-sekolah ada kecenderungan baru untuk membuat kelas internasional supaya mendapat uang sebanyak-banyaknya. Ratnawati, M.Sc. menambahkan, “Memang target dari rektorat itu kalau bisa semua kelas internasional, bukan memenuhi itu tapi arah kecenderungannya untuk mengumpulkan uang. Ini kecenderungannya ke sana gitu ya mbak. Sebenarnya hanya ada beberapa yang mampu, tapi kenapa semua diinternasionalkan”.
Sementara itu, Dekan FMIPA Dr. Ariswan sendiri mengatakan, “Kami akan berusaha untuk apa yang mereka berikan akan kami kembalikan sebesar-besarnya, dana yang diberikan UNY dikembalikan kepada kepentingan mahasiswa”.
Kelas Internasional Mahal
Tentunya, biaya pendidikan kelas Internasional UNY jauh lebih tinggi dari kelas biasa. Untuk SPP setiap semester mencapai 3 juta rupiah, sedangkan jumlah uang sumbangan ditentukan kepada masing-masing mahasiswa. Menanggapi tingginya biaya kelas internasional, Anas Hermawan, mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Internasional mengatakan,” Masuk itu bayar Rp.11.500.000 dan SPP tiap bulan Rp.3.000.000, itu termasuk mahal dan berat”.
Dalih biaya tinggi ini dikarenakan kelas internasional butuh penanganan khusus, termasuk dosen-dosen pengajar yang berbeda kualifikasi. “Karena tidak semua dosen berhak disitu, hanya dosen yang memiliki kualifikasi khusus, sehingga diberi penghargaan lebih,” terang PR II, Sutrisno Wibawa, M.Pd.
Dr. Ariswan juga mengatakan hal yang sama. Ia menjelaskan ada kualifikasi ideal bagi dosen dan menambahkan, “Tapi saya membawa tahun ini lebih membumi, saya tidak muluk-muluk, yang penting ada dulu, sekarang sudahlah dosen-dosen alumni luar negeri yang kita minta untuk mengajar kelas internasional. Untuk proses berikutnya, ada workshop, pelatihan, kita mengantarkan semua dosen untuk bertaraf internasional.”
Dengan biaya yang lebih tinggi, tentu mahasiswa mengharap ada kualitas pendidikan yang jauh melebihi kelas yang lain. Namun, standar pendidikannya belum terlihat signifikan kualitasnya. Dalam menjaring mahasiswa baru misalnya, belum ada standar kualifikasi bagi mahasiswa. Penyeleksian mahasiswa baru yang masuk tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kelas biasa. Terbukti, mahasiswa baru tidak diseleksi secara khusus, masih diseleksi lewat jalur SNMPTN, atau SM seperti kelas lain. “Seleksinya masuk lewat jalur SNMPTN yang bisa dibilang cukup mudah dan tidak ada test khusus,“ ungkap Fetik Rahayu, Mahasiswi IPA 2009.
Ihwal tersebut tidak dinafikan oleh Kaprodi Jurusan Fisika, “Nampaknya yang jadi masalah mereka masih sama, belum ada tes, kualifikasinya sama dengan yang noninternasional, kemarin lewat SM”, ungkap Juli Astono, M.Si. Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan diberi jam tambahan kursus bahasa inggris dengan nol sks guna meningkatkan kemampuan bahasa inggris. Sementara itu, Ratnawati, M.Sc mengatakan, “Tahun depan, insyaAllah kami akan menyiapkan syarat-syarat supaya jauh lebih baik, harapannya memang anak-anaknya berkompeten, tidak hanya punya uang saja”.
Kualitas kelas internasional
Bentuk kelas internasional dari segi pelaksanaan tidak jauh dari kelas bilingual. Ratnawati, M.sc menambahkan, ”Nanti yang internasional pun juga masih ada yang berbahasa indonesia, masalahnya nama ya mbak, kelas internasional itupun definisinya beda-beda.” Kelas Internasional UNY berbeda dengan kelas internasional di UII ataupun UGM.
Di sisi lain, kualitas pelayanan kelas internasional dikatakan Ratnawati, M.Sc berbeda karena berstandar internasional. Kelas internasional memiliki kelas khusus dengan fasilitas seperti ruang kelas yang luas, ber-AC, loker, komputer untuk dosen, beberapa komputer dengan layanan internet, sedangkan laboratorium yang disediakan untuk kelas internasional sama dengan kelas yang lain, di mana laboratorium FMIPA belum berstandar ISO.
Meskipun kelas internasional diberikan fasilitas khusus, Dr. Ariswan mengharap tidak ada perasaan ketimpangan sosial antara kelas internasional dan kelas lain. “Kami mengharap, tidak ada perasaan berbeda, mahasiswa dari semua jurusan dilayani dengan kapasitas dan kapabilitas yang ada”.
Namun kurikulum kelas internasional masih menggunakan panduan dari universitas. Ratnawati, M.Sc. mengaku masih sulit menerapkan kurikulum standar internasional seperti di luar negeri di UNY. Selain berbeda dengan luar negeri, pelaksanaan program-program di kelas internasional juga disesuaikan dengan anggaran dana yang ada. Di samping itu, salah satu tuntutan WCU bahwa UNY siap go internasional. “Itu idealismenya, untuk go internasional itu berat, sementara ini kita menjawab tantangan dalam negeri, itu yang utama”, paparnya.
[Laras, Suci, Arum]
Senin, 16 Agustus 2010
Testimoni-Apa Kata Mereka Tentang BEMREMA
1. Afit Hikmah R. (Ketua DPM REMA UNY 2010)
Bem Rema tahun ini dengan jargon Konsisten Berkarya adalah tahun perjuangan dan totalitas, hal ini mengingat BEM REMA diamanahi sebagai Koordinator Pusat Bem Seluruh Indonesia. Sampai saat ini masih ada mahasiswa yang merasa belum terayomi. Program yang ada masih mengikuti periode sebelumnya sehingga ada yang tumpang tindih dengan ormawa yang lain di bawahnya. Ke depan dibutuhkan rembug bareng antara BEM REMA dengan ormawa di bawahnya terkait proker yang tepat guna dan efektif.
2. Pidi Winata (Trainer)
BEM REMA hanya sebagian saja dari pelaku sejarah yang ada. Namun visi besar dan kerja-kerja besar yang dilakukan saya rasa cukup menjawab tentang tugas sejarahnya: mengembalikan UNY dan Indonesia. Jika ada tugas yang belum tertuntaskan untuk UNY dengan +26.000 mahasiswa di dalamnya, tak cukup hanya melihat BEM REMA seorang diri. Ada UKM, DPM, MPM, BEMF, UKMF, DPMF, HIMA, dsb yang juga memiliki tugas sejarah yang sama. Selamat atas kontribusi terbaik untuk mahasiswa UNY dengan bingkai moralitas dan juga turut mengantarkan UNY dalam posisi terhormat sebagai Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia yang tak mungkin terjadi jika BEM REMA tidak memiliki kepantasan secara kapasitas, integritas, dan kredibilitas.
3. Apri, Ketua BEM FIK UNY 2010.
Komunikasi BEM REMA dengan ormawa fakultas cukup baik dan harmonis, mengindikasikan kerja BEM REMA yang mampu memanage BEM Fakultas yang ada dan mampu membantu ormawa di fakultas.
4. Cahyo Purnomo Edi, Ketua FK UKM UNY
Tahun ini kinerja BEM REMA menurun! BEM REMA terlihat tak ada kinerjanya (selain Ospek dan pembagian jas almamater). BEM REMA pun gagal bersinergi dengan ormawa lainnya. Jika memang tidak ada kinerja, manfaat, dan tidak lagi bisa memfasilitasi mahasiswa, buat apa dipertahankan? Bubarkan saja!!
5. Adyatma, Presiden Mahasiswa BEM UNDIP
Diakui bahwa Jogloseto menjadi barometer pergerakan mahasiswa saat ini. BEM REMA UNY telah memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan mahasiswa Indonesia lewat pemikiran-pemikirannya.
Bem Rema tahun ini dengan jargon Konsisten Berkarya adalah tahun perjuangan dan totalitas, hal ini mengingat BEM REMA diamanahi sebagai Koordinator Pusat Bem Seluruh Indonesia. Sampai saat ini masih ada mahasiswa yang merasa belum terayomi. Program yang ada masih mengikuti periode sebelumnya sehingga ada yang tumpang tindih dengan ormawa yang lain di bawahnya. Ke depan dibutuhkan rembug bareng antara BEM REMA dengan ormawa di bawahnya terkait proker yang tepat guna dan efektif.
2. Pidi Winata (Trainer)
BEM REMA hanya sebagian saja dari pelaku sejarah yang ada. Namun visi besar dan kerja-kerja besar yang dilakukan saya rasa cukup menjawab tentang tugas sejarahnya: mengembalikan UNY dan Indonesia. Jika ada tugas yang belum tertuntaskan untuk UNY dengan +26.000 mahasiswa di dalamnya, tak cukup hanya melihat BEM REMA seorang diri. Ada UKM, DPM, MPM, BEMF, UKMF, DPMF, HIMA, dsb yang juga memiliki tugas sejarah yang sama. Selamat atas kontribusi terbaik untuk mahasiswa UNY dengan bingkai moralitas dan juga turut mengantarkan UNY dalam posisi terhormat sebagai Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia yang tak mungkin terjadi jika BEM REMA tidak memiliki kepantasan secara kapasitas, integritas, dan kredibilitas.
3. Apri, Ketua BEM FIK UNY 2010.
Komunikasi BEM REMA dengan ormawa fakultas cukup baik dan harmonis, mengindikasikan kerja BEM REMA yang mampu memanage BEM Fakultas yang ada dan mampu membantu ormawa di fakultas.
4. Cahyo Purnomo Edi, Ketua FK UKM UNY
Tahun ini kinerja BEM REMA menurun! BEM REMA terlihat tak ada kinerjanya (selain Ospek dan pembagian jas almamater). BEM REMA pun gagal bersinergi dengan ormawa lainnya. Jika memang tidak ada kinerja, manfaat, dan tidak lagi bisa memfasilitasi mahasiswa, buat apa dipertahankan? Bubarkan saja!!
5. Adyatma, Presiden Mahasiswa BEM UNDIP
Diakui bahwa Jogloseto menjadi barometer pergerakan mahasiswa saat ini. BEM REMA UNY telah memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan mahasiswa Indonesia lewat pemikiran-pemikirannya.
Tokoh-DIAR ROSDAYANA, KETUA OSPEK UNY 2010
“PENDIDIKAN PROFETIK DI JIWA PARA PANITIA OSPEK”
Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK) sudah dalam tahap persiapan untuk menyambut mahasiswa baru. OSPEK yang rencananya akan dilaksanakan mulai tanggal 2 Agustus 2010 mengusung tema “Pendidikan Profetik”. Pendidikan profetik atau pendidikan yang mengacu pada pendidikan dengan sifat kenabian menjadi awal pengenalan para mahasiswa baru terhadap dunia kampus.
Idealnya semua panitia OSPEK harus memahami makna Pendidikan Profetik, agar penyampaian tema kepada maba akan sukses. Kesuksesan penyampaian tema OSPEK kepada mahasiswa baru tidak terlepas dari peran panitia OSPEK. Sebelum tema OSPEK ini disampaikan kepada mahasiswa baru, tentunya para panitia harus memahami Pendidikan Profetik. Terkait dengan bagaimana pemahaman panitia ospek tentang Pendidikan Profetik, reporter REMAPOST Nurlaelah dan Ferlynda Putri Sofyandari melakukan wawancara dengan ketua OSPEK universitas Diar Rosdayana. Diar dianggap sebagai cerminan panitia OSPEK yang lain, menyampaikan keyakinannya terhadap pemahaman rekan-rekannya tentang “Pendidikan Profetik”.
Sistem kepanitiaan OSPEK di UNY seperti apa?
OSPEK sebenarnya bukan dari BEM REMA tetapi agenda dari universitas. Untuk sistematikanya adalah universitas memberikan amanah kepada BEM REMA, kemudian BEM REMA membentuk panitia tingkat universitas dan dilanjutkan ke fakultas. Untuk penentuan tema sendiri, dari BEM REMA ada sebuah tim kajian yang akhirnya memilih tema “Pendidikan Profetik”.
Apakah panitia OSPEK sudah menjiwai tema “Pendidikan Profetik”?
Panitia OSPEK sebagai ujung tombak seharusnya memahami tema tersebut. Merekalah yang nantianya akan menyampaikan kepada mahasiswa baru. Yang paham dengan tema ini idealnya adalah seluruh panitia, bukan hanya ketua, sie acara ataupun pemandu. Dan hampir 50 % sudah paham.
Apa saja usaha yang dilakukan oleh panitia OSPEK universitas untuk mensosialisasika tema OSPEK?
Panitia OSPEK universitas bersama BEM REMA sudah melakukan beberapa tindakan. Yang pertama adalah menjelaskan tema tersebut kepada seluruh panitia. Mulai dari tingkat universitas sampai fakultas. Selain itu juga diadakan seminar nasional pendidikan profetik dan tarining pemandu OSPEK. Tapi untuk antusias panitia diakui masih kurang. Sehingga untuk mensiasatinya, panitia OSPEK universitas bersama BEM REMA akan menjemput bola. Kami akan datang ke fakultas. Tindakan ini akan dilakukan kurang lebih pada pertengahan Juli.
Setelah melakukan usaha-usaha tersebut, apakah anda yakin akan sukses?
Setelah melakukan usaha-usaha tersebut, prosentasi kesuksesan untuk panitia mencapai 90% dan untuk penyampaiannya kepada mahasiswa baru mencapai 60%-70%, yang tentunya dengan bantuan panitia fakultas. Tapi OSPEK yang berjalan selama 5 hari hanya sebagai awal, untuk selanjutnya seluruh pihak harus berperan aktif agar tema ini akan sukses bukan hanya pada saat OSPEK saja.
Keberhasilan OSPEK tergantung dari peran panitia. Untuk itu totalitas dari panitia sangat dibutuhkan. OSPEK adalah proses transisi dari seorang siswa kepada mahasiswa. OSPEK adalah sebuah langkah awal, yang pada akhirnya dibutuhkan peran dari semua pihak agar nantinya UNY bisa menghasilkan output yang terbaik. []
Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK) sudah dalam tahap persiapan untuk menyambut mahasiswa baru. OSPEK yang rencananya akan dilaksanakan mulai tanggal 2 Agustus 2010 mengusung tema “Pendidikan Profetik”. Pendidikan profetik atau pendidikan yang mengacu pada pendidikan dengan sifat kenabian menjadi awal pengenalan para mahasiswa baru terhadap dunia kampus.
Idealnya semua panitia OSPEK harus memahami makna Pendidikan Profetik, agar penyampaian tema kepada maba akan sukses. Kesuksesan penyampaian tema OSPEK kepada mahasiswa baru tidak terlepas dari peran panitia OSPEK. Sebelum tema OSPEK ini disampaikan kepada mahasiswa baru, tentunya para panitia harus memahami Pendidikan Profetik. Terkait dengan bagaimana pemahaman panitia ospek tentang Pendidikan Profetik, reporter REMAPOST Nurlaelah dan Ferlynda Putri Sofyandari melakukan wawancara dengan ketua OSPEK universitas Diar Rosdayana. Diar dianggap sebagai cerminan panitia OSPEK yang lain, menyampaikan keyakinannya terhadap pemahaman rekan-rekannya tentang “Pendidikan Profetik”.
Sistem kepanitiaan OSPEK di UNY seperti apa?
OSPEK sebenarnya bukan dari BEM REMA tetapi agenda dari universitas. Untuk sistematikanya adalah universitas memberikan amanah kepada BEM REMA, kemudian BEM REMA membentuk panitia tingkat universitas dan dilanjutkan ke fakultas. Untuk penentuan tema sendiri, dari BEM REMA ada sebuah tim kajian yang akhirnya memilih tema “Pendidikan Profetik”.
Apakah panitia OSPEK sudah menjiwai tema “Pendidikan Profetik”?
Panitia OSPEK sebagai ujung tombak seharusnya memahami tema tersebut. Merekalah yang nantianya akan menyampaikan kepada mahasiswa baru. Yang paham dengan tema ini idealnya adalah seluruh panitia, bukan hanya ketua, sie acara ataupun pemandu. Dan hampir 50 % sudah paham.
Apa saja usaha yang dilakukan oleh panitia OSPEK universitas untuk mensosialisasika tema OSPEK?
Panitia OSPEK universitas bersama BEM REMA sudah melakukan beberapa tindakan. Yang pertama adalah menjelaskan tema tersebut kepada seluruh panitia. Mulai dari tingkat universitas sampai fakultas. Selain itu juga diadakan seminar nasional pendidikan profetik dan tarining pemandu OSPEK. Tapi untuk antusias panitia diakui masih kurang. Sehingga untuk mensiasatinya, panitia OSPEK universitas bersama BEM REMA akan menjemput bola. Kami akan datang ke fakultas. Tindakan ini akan dilakukan kurang lebih pada pertengahan Juli.
Setelah melakukan usaha-usaha tersebut, apakah anda yakin akan sukses?
Setelah melakukan usaha-usaha tersebut, prosentasi kesuksesan untuk panitia mencapai 90% dan untuk penyampaiannya kepada mahasiswa baru mencapai 60%-70%, yang tentunya dengan bantuan panitia fakultas. Tapi OSPEK yang berjalan selama 5 hari hanya sebagai awal, untuk selanjutnya seluruh pihak harus berperan aktif agar tema ini akan sukses bukan hanya pada saat OSPEK saja.
Keberhasilan OSPEK tergantung dari peran panitia. Untuk itu totalitas dari panitia sangat dibutuhkan. OSPEK adalah proses transisi dari seorang siswa kepada mahasiswa. OSPEK adalah sebuah langkah awal, yang pada akhirnya dibutuhkan peran dari semua pihak agar nantinya UNY bisa menghasilkan output yang terbaik. []
Sastra-SISI LAIN KISAH CINDERELA Oleh : Fauzi Rahmawati
Sisi lain di balik sebuah dongeng anak kecil, yang tak lekang oleh zaman. Sebuah dongeng yang masih tetap exist sebagai dongeng sebelum tidur yang mampu menyihir kita ke alam mimpi yang begitu indahnya. Membuat kita menjadi seorang pengkhayal yang hebat dengan impian menjadi seorang putri cantik yang akan bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih, dengan gagahnya datang dan meminang untuk menjadi kekasihnya, bahkan endingnya dengan mudah ditebak, “happily ever after”. Itulah sebuah dongeng terkenal, Cinderela...
Dalam kisahnya, ia selalu digambarkan sebagai seorang gadis remaja nan cantik, baik, ditinggal meninggal oleh ibunya sejak usia kanak, yang tak boleh ketinggalan adalah peri baik penolongnya, yang mampu menyihir labu menjadi kereta nan elok, tikus menjadi kuda putih nan kuat, sepatu kaca, serta gaun pesta yang mempesona dengan jentikan tongkat ajaibnya. Klimaks cerita, saat pesta dansa di istana, berdansa dengan pangeran kerajaan nan tampan rupawan. Menjelang pukul 12.00 malam, ia cepat-cepat berlari meninggalkan keramaian pesta dan sepatu kacanya tertinggal sebelah di istana dan ditemukan oleh sang pengeran. Hmm.. sebagian besar dari kita mungkin sudah hafal di luar kepala ending dari semua cerita tadi, ya.. sang pangeran berhasil menemukan siapa pemilik pasangan sepatu kaca itu, siapa lagi kalau bukan Cinderela. Sampai akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.
Tapi tidakkah kalian cermati, ibu dan saudara tirinya selalu menjadi pemeran antagonis, yang jahat dan tamak. Itulah yang telah terbenam dalam pikiran kita sejak kecil, bahwa sosok seorang ibu tiri serta saudara tiri itu mempunyai perangai jahat, suka menganiaya. Mengapa demikian? Itu karena yang menjadi tokoh sentral dan diunggulkan adalah Cinderela. Bagaimana jadinya jika dilihat dari sudut pandang yang lain?
Coba kita sedikit memberi ruang pada ibu dan saudara tiri Cinderela untuk memperbaiki image nya yang telah buruk dimata kita. Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi pada ibu serta saudara tiri Cinderela.
Ceritanya berawal ketika kehidupan mereka (baca: saudara tiri Cinderela) berubah sejak ayah mereka meninggal saat mereka masih kecil. Begitu sedihnya mereka, dalam usia sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Itu sebenarnya alasan yang membuat sang ibu ingin menikah kembali. Kehidupan mereka sungguh berantakan, mungkin bisa dibilang memprihatinkan. Dengan kebiasan mereka hidup berfoya-foya, dalam seketika berubah 180˚, karena tak ada lagi kepala keluarga yang mampu memenuhi segala kebutuhan mereka.
Yang namanya seorang ibu, tetaplah ibu, yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, begitu pula dengan sang ibu yang satu ini (baca: ibu tiri Cinderela). Ia tak ingin melihat anaknya merasakan hidup susah. Oleh karena itu ia tak memberitahukan keadaan keuangan yang sebenarnya kepada mereka. Mereka tetap dibiarkan menganut gaya hidup seperti saat ayah mereka ada, hidup berfoya-foya, sekolah di tempat elit, pokoknya semua serba mewah.
Mereka tak tahu, batapa sang ibu bersusah payah mencari uang demi memenuhi kebutuhan mereka itu. Namun mungkin, ibu yang satu ini menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia mencari banyak teman lelaki yang kaya yang ia manfaatkan kekayaannya untuk menyenangkan anak-anaknya. Ibarat pepatah, “ habis manis sepah dibuang”. Setelah puas, ditinggalkan begitu saja. Namun itu sebelum ia bertemu dengan sosok pria tampan, bijaksana, serta kaya, dialah ayah Cinderela. Karena kepribadian yang dimiliki mampu menarik hatinya, maka ia memutuskan untuk mau menikah dengan ayah Cinderela.
Menjawab pertanyaan mengapa mereka jahat kepada Cinderela?
Hmm...Sebenarnya masalahnya hanya satu, mereka iri melihat kedekatannya dengan sang ayah. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Memiliki serta merasakan kehangatan kasih sayang dari seorang ayah. Hanya itu yang mereka inginkan. Semoga dengan menguak rahasia ini, mereka semua berganti peran protagonis, dan mereka menjadi keluarga yang bahagia selamanya.[]
FAUZI RAHMAWATI
Wartawan REMAPOST
Sajak Fauzi Rahmawati:
Kasih Tanpa Syarat
Bagaikan fatamorgana
Yang melahirkan mimpi siap lenyap
Memunculkan kebahagiaan
Tak hanya sekedar angan
Biarkan waktu yang bicara
Mengartikan tiap detik nafas bersamanya
Memberi sejuta makna
Pada kisah yang tersirat
Menyandarkan segala rasa
Pada pundak kehangatan
Tanpa syarat
Aku menjadi lebih berani
Sulit menerka rasa
Susah menerima jiwa
Tampak lemah
Namun senyum merona
Membakar sejenak hampa
Aku datang dan bicara
Kata yang tak pernah gentar
Aku bisa
Dan aku berani
Dalam kisahnya, ia selalu digambarkan sebagai seorang gadis remaja nan cantik, baik, ditinggal meninggal oleh ibunya sejak usia kanak, yang tak boleh ketinggalan adalah peri baik penolongnya, yang mampu menyihir labu menjadi kereta nan elok, tikus menjadi kuda putih nan kuat, sepatu kaca, serta gaun pesta yang mempesona dengan jentikan tongkat ajaibnya. Klimaks cerita, saat pesta dansa di istana, berdansa dengan pangeran kerajaan nan tampan rupawan. Menjelang pukul 12.00 malam, ia cepat-cepat berlari meninggalkan keramaian pesta dan sepatu kacanya tertinggal sebelah di istana dan ditemukan oleh sang pengeran. Hmm.. sebagian besar dari kita mungkin sudah hafal di luar kepala ending dari semua cerita tadi, ya.. sang pangeran berhasil menemukan siapa pemilik pasangan sepatu kaca itu, siapa lagi kalau bukan Cinderela. Sampai akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.
Tapi tidakkah kalian cermati, ibu dan saudara tirinya selalu menjadi pemeran antagonis, yang jahat dan tamak. Itulah yang telah terbenam dalam pikiran kita sejak kecil, bahwa sosok seorang ibu tiri serta saudara tiri itu mempunyai perangai jahat, suka menganiaya. Mengapa demikian? Itu karena yang menjadi tokoh sentral dan diunggulkan adalah Cinderela. Bagaimana jadinya jika dilihat dari sudut pandang yang lain?
Coba kita sedikit memberi ruang pada ibu dan saudara tiri Cinderela untuk memperbaiki image nya yang telah buruk dimata kita. Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi pada ibu serta saudara tiri Cinderela.
Ceritanya berawal ketika kehidupan mereka (baca: saudara tiri Cinderela) berubah sejak ayah mereka meninggal saat mereka masih kecil. Begitu sedihnya mereka, dalam usia sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Itu sebenarnya alasan yang membuat sang ibu ingin menikah kembali. Kehidupan mereka sungguh berantakan, mungkin bisa dibilang memprihatinkan. Dengan kebiasan mereka hidup berfoya-foya, dalam seketika berubah 180˚, karena tak ada lagi kepala keluarga yang mampu memenuhi segala kebutuhan mereka.
Yang namanya seorang ibu, tetaplah ibu, yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, begitu pula dengan sang ibu yang satu ini (baca: ibu tiri Cinderela). Ia tak ingin melihat anaknya merasakan hidup susah. Oleh karena itu ia tak memberitahukan keadaan keuangan yang sebenarnya kepada mereka. Mereka tetap dibiarkan menganut gaya hidup seperti saat ayah mereka ada, hidup berfoya-foya, sekolah di tempat elit, pokoknya semua serba mewah.
Mereka tak tahu, batapa sang ibu bersusah payah mencari uang demi memenuhi kebutuhan mereka itu. Namun mungkin, ibu yang satu ini menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia mencari banyak teman lelaki yang kaya yang ia manfaatkan kekayaannya untuk menyenangkan anak-anaknya. Ibarat pepatah, “ habis manis sepah dibuang”. Setelah puas, ditinggalkan begitu saja. Namun itu sebelum ia bertemu dengan sosok pria tampan, bijaksana, serta kaya, dialah ayah Cinderela. Karena kepribadian yang dimiliki mampu menarik hatinya, maka ia memutuskan untuk mau menikah dengan ayah Cinderela.
Menjawab pertanyaan mengapa mereka jahat kepada Cinderela?
Hmm...Sebenarnya masalahnya hanya satu, mereka iri melihat kedekatannya dengan sang ayah. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Memiliki serta merasakan kehangatan kasih sayang dari seorang ayah. Hanya itu yang mereka inginkan. Semoga dengan menguak rahasia ini, mereka semua berganti peran protagonis, dan mereka menjadi keluarga yang bahagia selamanya.[]
FAUZI RAHMAWATI
Wartawan REMAPOST
Sajak Fauzi Rahmawati:
Kasih Tanpa Syarat
Bagaikan fatamorgana
Yang melahirkan mimpi siap lenyap
Memunculkan kebahagiaan
Tak hanya sekedar angan
Biarkan waktu yang bicara
Mengartikan tiap detik nafas bersamanya
Memberi sejuta makna
Pada kisah yang tersirat
Menyandarkan segala rasa
Pada pundak kehangatan
Tanpa syarat
Aku menjadi lebih berani
Sulit menerka rasa
Susah menerima jiwa
Tampak lemah
Namun senyum merona
Membakar sejenak hampa
Aku datang dan bicara
Kata yang tak pernah gentar
Aku bisa
Dan aku berani
Sastra-SISI LAIN KISAH CINDERELA Oleh : Fauzi Rahmawati
Sisi lain di balik sebuah dongeng anak kecil, yang tak lekang oleh zaman. Sebuah dongeng yang masih tetap exist sebagai dongeng sebelum tidur yang mampu menyihir kita ke alam mimpi yang begitu indahnya. Membuat kita menjadi seorang pengkhayal yang hebat dengan impian menjadi seorang putri cantik yang akan bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih, dengan gagahnya datang dan meminang untuk menjadi kekasihnya, bahkan endingnya dengan mudah ditebak, “happily ever after”. Itulah sebuah dongeng terkenal, Cinderela...
Dalam kisahnya, ia selalu digambarkan sebagai seorang gadis remaja nan cantik, baik, ditinggal meninggal oleh ibunya sejak usia kanak, yang tak boleh ketinggalan adalah peri baik penolongnya, yang mampu menyihir labu menjadi kereta nan elok, tikus menjadi kuda putih nan kuat, sepatu kaca, serta gaun pesta yang mempesona dengan jentikan tongkat ajaibnya. Klimaks cerita, saat pesta dansa di istana, berdansa dengan pangeran kerajaan nan tampan rupawan. Menjelang pukul 12.00 malam, ia cepat-cepat berlari meninggalkan keramaian pesta dan sepatu kacanya tertinggal sebelah di istana dan ditemukan oleh sang pengeran. Hmm.. sebagian besar dari kita mungkin sudah hafal di luar kepala ending dari semua cerita tadi, ya.. sang pangeran berhasil menemukan siapa pemilik pasangan sepatu kaca itu, siapa lagi kalau bukan Cinderela. Sampai akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.
Tapi tidakkah kalian cermati, ibu dan saudara tirinya selalu menjadi pemeran antagonis, yang jahat dan tamak. Itulah yang telah terbenam dalam pikiran kita sejak kecil, bahwa sosok seorang ibu tiri serta saudara tiri itu mempunyai perangai jahat, suka menganiaya. Mengapa demikian? Itu karena yang menjadi tokoh sentral dan diunggulkan adalah Cinderela. Bagaimana jadinya jika dilihat dari sudut pandang yang lain?
Coba kita sedikit memberi ruang pada ibu dan saudara tiri Cinderela untuk memperbaiki image nya yang telah buruk dimata kita. Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi pada ibu serta saudara tiri Cinderela.
Ceritanya berawal ketika kehidupan mereka (baca: saudara tiri Cinderela) berubah sejak ayah mereka meninggal saat mereka masih kecil. Begitu sedihnya mereka, dalam usia sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Itu sebenarnya alasan yang membuat sang ibu ingin menikah kembali. Kehidupan mereka sungguh berantakan, mungkin bisa dibilang memprihatinkan. Dengan kebiasan mereka hidup berfoya-foya, dalam seketika berubah 180˚, karena tak ada lagi kepala keluarga yang mampu memenuhi segala kebutuhan mereka.
Yang namanya seorang ibu, tetaplah ibu, yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, begitu pula dengan sang ibu yang satu ini (baca: ibu tiri Cinderela). Ia tak ingin melihat anaknya merasakan hidup susah. Oleh karena itu ia tak memberitahukan keadaan keuangan yang sebenarnya kepada mereka. Mereka tetap dibiarkan menganut gaya hidup seperti saat ayah mereka ada, hidup berfoya-foya, sekolah di tempat elit, pokoknya semua serba mewah.
Mereka tak tahu, batapa sang ibu bersusah payah mencari uang demi memenuhi kebutuhan mereka itu. Namun mungkin, ibu yang satu ini menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia mencari banyak teman lelaki yang kaya yang ia manfaatkan kekayaannya untuk menyenangkan anak-anaknya. Ibarat pepatah, “ habis manis sepah dibuang”. Setelah puas, ditinggalkan begitu saja. Namun itu sebelum ia bertemu dengan sosok pria tampan, bijaksana, serta kaya, dialah ayah Cinderela. Karena kepribadian yang dimiliki mampu menarik hatinya, maka ia memutuskan untuk mau menikah dengan ayah Cinderela.
Menjawab pertanyaan mengapa mereka jahat kepada Cinderela?
Hmm...Sebenarnya masalahnya hanya satu, mereka iri melihat kedekatannya dengan sang ayah. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Memiliki serta merasakan kehangatan kasih sayang dari seorang ayah. Hanya itu yang mereka inginkan. Semoga dengan menguak rahasia ini, mereka semua berganti peran protagonis, dan mereka menjadi keluarga yang bahagia selamanya.[]
FAUZI RAHMAWATI
Wartawan REMAPOST
Sajak Fauzi Rahmawati:
Kasih Tanpa Syarat
Bagaikan fatamorgana
Yang melahirkan mimpi siap lenyap
Memunculkan kebahagiaan
Tak hanya sekedar angan
Biarkan waktu yang bicara
Mengartikan tiap detik nafas bersamanya
Memberi sejuta makna
Pada kisah yang tersirat
Menyandarkan segala rasa
Pada pundak kehangatan
Tanpa syarat
Aku menjadi lebih berani
Sulit menerka rasa
Susah menerima jiwa
Tampak lemah
Namun senyum merona
Membakar sejenak hampa
Aku datang dan bicara
Kata yang tak pernah gentar
Aku bisa
Dan aku berani
Dalam kisahnya, ia selalu digambarkan sebagai seorang gadis remaja nan cantik, baik, ditinggal meninggal oleh ibunya sejak usia kanak, yang tak boleh ketinggalan adalah peri baik penolongnya, yang mampu menyihir labu menjadi kereta nan elok, tikus menjadi kuda putih nan kuat, sepatu kaca, serta gaun pesta yang mempesona dengan jentikan tongkat ajaibnya. Klimaks cerita, saat pesta dansa di istana, berdansa dengan pangeran kerajaan nan tampan rupawan. Menjelang pukul 12.00 malam, ia cepat-cepat berlari meninggalkan keramaian pesta dan sepatu kacanya tertinggal sebelah di istana dan ditemukan oleh sang pengeran. Hmm.. sebagian besar dari kita mungkin sudah hafal di luar kepala ending dari semua cerita tadi, ya.. sang pangeran berhasil menemukan siapa pemilik pasangan sepatu kaca itu, siapa lagi kalau bukan Cinderela. Sampai akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.
Tapi tidakkah kalian cermati, ibu dan saudara tirinya selalu menjadi pemeran antagonis, yang jahat dan tamak. Itulah yang telah terbenam dalam pikiran kita sejak kecil, bahwa sosok seorang ibu tiri serta saudara tiri itu mempunyai perangai jahat, suka menganiaya. Mengapa demikian? Itu karena yang menjadi tokoh sentral dan diunggulkan adalah Cinderela. Bagaimana jadinya jika dilihat dari sudut pandang yang lain?
Coba kita sedikit memberi ruang pada ibu dan saudara tiri Cinderela untuk memperbaiki image nya yang telah buruk dimata kita. Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi pada ibu serta saudara tiri Cinderela.
Ceritanya berawal ketika kehidupan mereka (baca: saudara tiri Cinderela) berubah sejak ayah mereka meninggal saat mereka masih kecil. Begitu sedihnya mereka, dalam usia sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Itu sebenarnya alasan yang membuat sang ibu ingin menikah kembali. Kehidupan mereka sungguh berantakan, mungkin bisa dibilang memprihatinkan. Dengan kebiasan mereka hidup berfoya-foya, dalam seketika berubah 180˚, karena tak ada lagi kepala keluarga yang mampu memenuhi segala kebutuhan mereka.
Yang namanya seorang ibu, tetaplah ibu, yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, begitu pula dengan sang ibu yang satu ini (baca: ibu tiri Cinderela). Ia tak ingin melihat anaknya merasakan hidup susah. Oleh karena itu ia tak memberitahukan keadaan keuangan yang sebenarnya kepada mereka. Mereka tetap dibiarkan menganut gaya hidup seperti saat ayah mereka ada, hidup berfoya-foya, sekolah di tempat elit, pokoknya semua serba mewah.
Mereka tak tahu, batapa sang ibu bersusah payah mencari uang demi memenuhi kebutuhan mereka itu. Namun mungkin, ibu yang satu ini menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia mencari banyak teman lelaki yang kaya yang ia manfaatkan kekayaannya untuk menyenangkan anak-anaknya. Ibarat pepatah, “ habis manis sepah dibuang”. Setelah puas, ditinggalkan begitu saja. Namun itu sebelum ia bertemu dengan sosok pria tampan, bijaksana, serta kaya, dialah ayah Cinderela. Karena kepribadian yang dimiliki mampu menarik hatinya, maka ia memutuskan untuk mau menikah dengan ayah Cinderela.
Menjawab pertanyaan mengapa mereka jahat kepada Cinderela?
Hmm...Sebenarnya masalahnya hanya satu, mereka iri melihat kedekatannya dengan sang ayah. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Memiliki serta merasakan kehangatan kasih sayang dari seorang ayah. Hanya itu yang mereka inginkan. Semoga dengan menguak rahasia ini, mereka semua berganti peran protagonis, dan mereka menjadi keluarga yang bahagia selamanya.[]
FAUZI RAHMAWATI
Wartawan REMAPOST
Sajak Fauzi Rahmawati:
Kasih Tanpa Syarat
Bagaikan fatamorgana
Yang melahirkan mimpi siap lenyap
Memunculkan kebahagiaan
Tak hanya sekedar angan
Biarkan waktu yang bicara
Mengartikan tiap detik nafas bersamanya
Memberi sejuta makna
Pada kisah yang tersirat
Menyandarkan segala rasa
Pada pundak kehangatan
Tanpa syarat
Aku menjadi lebih berani
Sulit menerka rasa
Susah menerima jiwa
Tampak lemah
Namun senyum merona
Membakar sejenak hampa
Aku datang dan bicara
Kata yang tak pernah gentar
Aku bisa
Dan aku berani
Tokoh-Gunarno, Menteri Pelayanan Publik
Gunarno (Menteri Pelayanan Publik BEM REMA)
PELAYANAN BAGI MAHASISWA BARU
Penerimaan mahasiswa baru (PMB) UNY sudah hampir selesai. Para mahasiswa baru pun satu persatu telah mulai berdatangan di kampus UNY. Banyak diantara mereka yang belum tahu mengenai mekanisme menjadi mahasiswa baru UNY, untuk itu BEM REMA selaku organisasi mahasiswa berusaha membuka layanannya untuk mahasiswa baru.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pelayanan BEM REMA terhadap mahasiswa baru (maba), maka reporter remapost Ferlynda Putri S mewawancarai mentri Pelayanan Publik BEM REMA, Gunarno. Dari wawancara inilah, ternyata diketahui ada tindakan BEM REMA yang mungkin tidak banyak diketahui oleh para mahasiswa baru.
Apa yang telah dilakukan BEM REMA berkaitan dengan pelayanan terhadap mahasiswa baru?
Pelayanan yang telah dilakukan BEM REMA terhadap mahasiswa baru diantaranya adalah pembagian jas almamater, memberikan informasi tentang UNY dan advokasi. Pembagian jas almamater Alhamdulillah berjalan lancar berbeda dengan tahun lalu. Lalu untuk pemberian informasi, REMA telah membuka stand dan pembuatan leaflet.
Bentuk advokasi yang dilakukan BEM REMA apa saja?
Tim advokasi dari REMA biasanya untuk menjembatani maba yang tidak mampu mengenai biaya kuliah. Biasanya REMA mendampingi maba tersebut ketika melakukan wawancara. Tetapi memang informasi ini tidak secara blak-blakan kamu ungkapkan karena ditakutkan ini akan disalah gunakan. Ketakutan REMA adalah ketika ada maba yang mengaku tidak sanggup membayar padahal dia termasuk orang yang mampu. Dan advokasi ini belum berlaku bagi kelas internasional.
Kendala apa yang didapatkan dalam pemberian informasi ini?
Karakter maba berbeda-beda. Ada yang bersifat masa bodoh dan ada pula yang aktif bertanya. Hal ini membuat REMA susah untuk menjangkau semua maba. Untuk meanggulangi maba yang tidak sempat datang ke kampus, REMA mempunyai web yang bisa diakses. Alamat web REMA www.bemremauny.com.
Lalu bagaimana pelayanan dengan maba dari SM 2 yang pengumumannya sudah mepet dengan OSPEK?
Hal ini memang menjadi kendala bagi REMA. Tapi untuk pelayanan terhadap mahasiswa baru, REMA membuka layanan samapai tanggal 1 Agustus 2010. Yang diharapkan pelayanan ini bisa maksimal sehingga tidak ada kendala untuk menghadapi OSPEK.[]
PELAYANAN BAGI MAHASISWA BARU
Penerimaan mahasiswa baru (PMB) UNY sudah hampir selesai. Para mahasiswa baru pun satu persatu telah mulai berdatangan di kampus UNY. Banyak diantara mereka yang belum tahu mengenai mekanisme menjadi mahasiswa baru UNY, untuk itu BEM REMA selaku organisasi mahasiswa berusaha membuka layanannya untuk mahasiswa baru.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pelayanan BEM REMA terhadap mahasiswa baru (maba), maka reporter remapost Ferlynda Putri S mewawancarai mentri Pelayanan Publik BEM REMA, Gunarno. Dari wawancara inilah, ternyata diketahui ada tindakan BEM REMA yang mungkin tidak banyak diketahui oleh para mahasiswa baru.
Apa yang telah dilakukan BEM REMA berkaitan dengan pelayanan terhadap mahasiswa baru?
Pelayanan yang telah dilakukan BEM REMA terhadap mahasiswa baru diantaranya adalah pembagian jas almamater, memberikan informasi tentang UNY dan advokasi. Pembagian jas almamater Alhamdulillah berjalan lancar berbeda dengan tahun lalu. Lalu untuk pemberian informasi, REMA telah membuka stand dan pembuatan leaflet.
Bentuk advokasi yang dilakukan BEM REMA apa saja?
Tim advokasi dari REMA biasanya untuk menjembatani maba yang tidak mampu mengenai biaya kuliah. Biasanya REMA mendampingi maba tersebut ketika melakukan wawancara. Tetapi memang informasi ini tidak secara blak-blakan kamu ungkapkan karena ditakutkan ini akan disalah gunakan. Ketakutan REMA adalah ketika ada maba yang mengaku tidak sanggup membayar padahal dia termasuk orang yang mampu. Dan advokasi ini belum berlaku bagi kelas internasional.
Kendala apa yang didapatkan dalam pemberian informasi ini?
Karakter maba berbeda-beda. Ada yang bersifat masa bodoh dan ada pula yang aktif bertanya. Hal ini membuat REMA susah untuk menjangkau semua maba. Untuk meanggulangi maba yang tidak sempat datang ke kampus, REMA mempunyai web yang bisa diakses. Alamat web REMA www.bemremauny.com.
Lalu bagaimana pelayanan dengan maba dari SM 2 yang pengumumannya sudah mepet dengan OSPEK?
Hal ini memang menjadi kendala bagi REMA. Tapi untuk pelayanan terhadap mahasiswa baru, REMA membuka layanan samapai tanggal 1 Agustus 2010. Yang diharapkan pelayanan ini bisa maksimal sehingga tidak ada kendala untuk menghadapi OSPEK.[]
gagasan-Pendidikan Berkualitas untuk Kalangan Atas, Benarkah? Oleh Muhammad Azka Ramadhan
Pendidikan merupakan faktor penting dalam menunjang kemajuan suatu bangsa. Dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat mempunyai ilmu dan gagasan yang baik untuk perubahan suatu negara dan dengan pendidikanlah masyarakat dapat berpikir modern dalam menghadapi suatu permasalahan bangsa.
Tentu sesuai janji pemerintah dalam UUD 1945 Pasal 31 bahwa pemerintah berjanji akan mengusahakan pendidikan bagi tiap warga negaranya. Apalagi telah diamande¬men dalam perubahan IV pada 10 Agustus 2002 dalam Pasal 31 ayat 4 tertulis de¬ngan jelas bahwa pemerintah akan memprioritaskan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN.
Namun pada realitanya tidak demikian, semakin lama biaya pendidikan justru semakin tinggi. Di sini saya akan memfokuskan masalah pendidikan universitas di negeri kita yang hal ini membuat banyak generasi muda kita tidak dapat mencicipi pendidikan tinggi.
Sebagai salah satu contohnya, jurusan Pendidikan Teknik Informatika UNY dimulai tahun 2007 membuka kelas non-reguler. Bedanya, kelas regular adalah kelas yang diberikan kepada calon mahasiswa dengan seleksi SNMPTN dengan biaya SPP di bawah 1 juta per semester sedangkan kelas non regular adalah kelas penerimaan calon mahasiswa dengan Seleksi Mandiri dengan biaya SPP hampir mencapai 2 juta per semester. Dan yang lebih mencenangkan lagi, perbandingan antara kelas regular dengan non regular adalah 1:3. Artinya kapasitas kelas non Reguler lebih banyak daripada Reguler. Masalah fasilitas toh tetap sama, jadi hal ini terasa tidak adil untuk mahasiswa yang ekonomi menengah kebawah.
Tentu saja hal ini membuat calon mahasiswa baru harus mencari peluang dengan merogoh kocek lebih banyak untuk mengenyam suatu pendidikan. Istilahnya bukan tarung otak tetapi sudah lebih ke tarung uang. Kalau begitu hal ini sudah nyata bahwa hal ini sudah melanggar komitmen dalam UUD 1945 sendiri untuk menjangkau pendidikan merata bagi seluruh masyarakat.
Pada akhirnya kini pendidikan menjadi barang mahal sehingga masyarakat yang tidak mampu akan terlempar dari dunia pendidikan. Pendidikan hanya mampu dinikmati oleh orang-orang kaya yang berpunya. Orang yang punya uang, mereka bebas menikmati kualitas pendidikan yang baik. Jika miskin maka harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang seadanya, tidak bermutu dan menyedihkan. Padahal, pendidikan berkualitas dan bermutu mestinya harus sudah bisa dinikmati oleh seluruh anak bangsa negeri ini karena bagaimanapun juga Pendidikan berkualitas merupakan aset negeri untuk mencetak SDM unggul di masa depan.
MUHAMMAD AZKA RAMADHAN
Jurnalis Rema Post
Tentu sesuai janji pemerintah dalam UUD 1945 Pasal 31 bahwa pemerintah berjanji akan mengusahakan pendidikan bagi tiap warga negaranya. Apalagi telah diamande¬men dalam perubahan IV pada 10 Agustus 2002 dalam Pasal 31 ayat 4 tertulis de¬ngan jelas bahwa pemerintah akan memprioritaskan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN.
Namun pada realitanya tidak demikian, semakin lama biaya pendidikan justru semakin tinggi. Di sini saya akan memfokuskan masalah pendidikan universitas di negeri kita yang hal ini membuat banyak generasi muda kita tidak dapat mencicipi pendidikan tinggi.
Sebagai salah satu contohnya, jurusan Pendidikan Teknik Informatika UNY dimulai tahun 2007 membuka kelas non-reguler. Bedanya, kelas regular adalah kelas yang diberikan kepada calon mahasiswa dengan seleksi SNMPTN dengan biaya SPP di bawah 1 juta per semester sedangkan kelas non regular adalah kelas penerimaan calon mahasiswa dengan Seleksi Mandiri dengan biaya SPP hampir mencapai 2 juta per semester. Dan yang lebih mencenangkan lagi, perbandingan antara kelas regular dengan non regular adalah 1:3. Artinya kapasitas kelas non Reguler lebih banyak daripada Reguler. Masalah fasilitas toh tetap sama, jadi hal ini terasa tidak adil untuk mahasiswa yang ekonomi menengah kebawah.
Tentu saja hal ini membuat calon mahasiswa baru harus mencari peluang dengan merogoh kocek lebih banyak untuk mengenyam suatu pendidikan. Istilahnya bukan tarung otak tetapi sudah lebih ke tarung uang. Kalau begitu hal ini sudah nyata bahwa hal ini sudah melanggar komitmen dalam UUD 1945 sendiri untuk menjangkau pendidikan merata bagi seluruh masyarakat.
Pada akhirnya kini pendidikan menjadi barang mahal sehingga masyarakat yang tidak mampu akan terlempar dari dunia pendidikan. Pendidikan hanya mampu dinikmati oleh orang-orang kaya yang berpunya. Orang yang punya uang, mereka bebas menikmati kualitas pendidikan yang baik. Jika miskin maka harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang seadanya, tidak bermutu dan menyedihkan. Padahal, pendidikan berkualitas dan bermutu mestinya harus sudah bisa dinikmati oleh seluruh anak bangsa negeri ini karena bagaimanapun juga Pendidikan berkualitas merupakan aset negeri untuk mencetak SDM unggul di masa depan.
MUHAMMAD AZKA RAMADHAN
Jurnalis Rema Post
Langganan:
Komentar (Atom)