Selasa, 17 Agustus 2010

Headline--ESQ, MENGUATKAN PONDASI PENDIDIKAN KARAKTER Oleh: Imaroh Syahida

Tiga tahun sudah kampus ini konsisten menyelenggarakan Training ESQ. Pelatihan tersebut wajib diikuti mahasiswa dan dosen. Adalah Prof. Dr. Sugeng Mardiyono, Ph.D (alm) yang pada tahun 2008 saat masih menjabat sebagai Rektor UNY sebagai pencetus hal ini. Nurfina Aznam selaku Pembantu Rektor I mengemukakan latar belakang penyelenggaraan training ESQ, “Latar belakangnya adalah pada waktu itu Ary Ginanjar merupakan tokoh yang berperan dalam membangun karakter anak bangsa. Sementara itu visi UNY adalah bernurani, cendikia, dan mandiri. UNY menyiapkan anak didik sesuai dengan visi. Maka diadakanlah ESQ untuk membangun karakter anak didik guna tercapainya visi UNY”.
Senada dengan PR I, Herminarto Sofyan, Pembantu Rektor III juga menyatakan bahwa ESQ merupakan program utama untuk mencapai visi misi UNY. “ESQ sudah menjadi program utama UNY untuk mencapai visi dan misi UNY”, jelasnya.
Training ESQ apabila dikaitkan dengan kata-kata mutiara yang tertulis di UNY yakni “Pendidikan Investasi Peradaban” menurut PR I sangat berkaitan erat. Menurut beliau, “Investasi membutuhkan pondasi yang kuat. ESQ dibutuhkan untuk menguatkan pondasi tersebut”.
Penyelenggaraan training ESQ juga bukan tanpa arti penting dan manfaat. Alumni training ESQ, Avi Raharjo (Pend. Fisika ’09) mengungkapkan, “ESQ sangat penting untuk membangkitkan kecerdasan emosional dan spiritual bagi mahasiswa baru sehingga diharapkan ketika kuliah tidak sekedar cerdas intelektual, tapi juga emosional dan spiritual. Selain itu banyak sekali manfaat yang diperoleh, mulai dari ilmu sampai teman. Tapi yang terpenting adalah training ESQ dapat membuka mata hati kita, membebaskan kita dari belenggu-belenggu yang selama ini membatasi kita, yang membuat kita tuli dari bisikan Ilahi. Menjadikan manusia sesuai dengan fitrahnya”, ujar Avi.
Pembantu Rektor I, Nurfina Asnam mengakui tentang kebermanfaatan ESQ, “Kita menjadi tahu akan terjadinya alam semesta ini. Dibuktikannya kebenaran teori Big Bang (teori terbentuknya alam semesta). Selain itu juga terdapat kaitan erat dengan makna profetik yang di dalamnya disampaikan kisah-kisah para nabi”.
Laela Mukaromah, maba Kimia Internasional 2010 menyatakan bahwa karakter profetik tidak mudah, “ESQ sebagai training emosi serta spiritual menurut saya cukup penting, walaupun tidak menjamin bahwa selesai ESQ karakter diri kita akan langsung sempurna namun menjadi salah satu jalan agar kita bisa memahami diri kita. Karakter profetik tidaklah mudah namun bukan berarti tidak mungkin”, ujarnya.


ESQ Bukan Pelatihan Agama
ESQ tidak hanya untuk muslim. Seperti dikatakan Nurfina Aznam, “Tidak ada komentar negatif. Dulu semua ikut training ESQ baik muslim maupun non muslim. Akan tetapi tahun kemarin training untuk mahasiswa non muslim dipisah”, terang beliau.
Alumni ESQ, Fika Enggar Prayogo, mahasiswa FIK 2007 menyatakan dengan tegas bahwa ESQ bukan pelatihan agama. “Ini pelatihan Sumber Daya Manusia, bukan pelatihan agama. Nilai-nilai positif yang diajarkan dalam ESQ adalah nilai universal yang mestinya dimiliki semua orang untuk kebaikan bersama”.
Mewujudkan mahasiswa bernurani tidak berhenti sampai di ESQ saja, “ESQ penting karena melihat kondisi saat ini kita perlu dibekali kemampuan pengendalian emosi. Ini merupakan usaha mewujudkan mahasiswa yang bernurani. Tentu tidak berhenti di ESQ saja, tetapi perlu terus ada pendampingan-pendampingan untuk membentuk karakter yang baik”, ujar Dhariska, Pend. IPA 2007.
Mengingat ESQ adalah pelatihan SDM dan penting sebagai pondasi pendidikan karakter yang membuka wawasan, dikatakan Bekti Satiti, Pend. Bahasa Jerman 2010, ESQ sangat penting. “Penting banget, dengan ESQ bisa membuka mata hatiku”, ujar Bekti. []

PUASA PROFETIK! Oleh: Ahmad el-Pena

Puasa Ramadhan kembali menyapa. Persiapan-persiapan menyambutnya pun tak lupa dilakukan umat yang menjalaninya. Dari persiapan itu, persiapan bersifat immateri lebih utama. Masing-masing diri menyiapkan hati menghadapi bulan Ramadhan. Tak ada kerinduan lain kecuali mampu menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan lebih baik tahun ini.
Kerinduan ini bukan semata karena bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, penuh ampunan, dan penuh kasih sayang Ilahi. Siapa pun yang berjumpa Ramadhan pasti merindukan itu. Setiap aktivitas di bulan Ramadhan akan senantiasa dijaga agar bernilai ibadah. Dengan pahala berlipat-lipat, siapa pun berdaya upaya memperbanyak ritual dan amal saleh. Namun, kerinduan ini lebih luas daripada kemampuan membentuk kesalehan diri. Kita merindukan Ramadhan agar mampu mendidik diri sekaligus membangun kesalehan sosial. Kita berharap mampu menjalani Ramadhan lebih baik untuk sebuah idealisme kebangunan negeri. Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia.
Hal ini didasari fakta belum mampunya ibadah puasa Ramadhan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkali-kali bangsa ini menjalani puasa Ramadhan, namun kurang memberikan dampak signifikan bagi arus perubahan ke arah lebih positif. Salahuddin Wahid (2006) mensinyalir mutu puasa kebanyakan dari kita selama ini belum seperti yang diharapkan. Indikatornya adalah kehidupan sehari-hari. Kasus korupsi yang masih merajalela, misalnya, merupakan cermin miskinnya karakter mulia. Perilaku ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan ataupun kriminalitas masih kentara di sekitar kita. Perilaku-perilaku buruk lainnya begitu tampak dalam kehidupan.
Maka, puasa Ramadhan yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan (transendensi) tentu tak sekadar berhenti tanpa gerak amal. Puasa diharapkan mampu mendidik masing-masing diri kita menjadi manusia yang berkontribusi bagi kehidupan. Puasa profetik menghendaki kita mampu mempraktikkan dimensi humanisasi dan liberasi dalam kehidupan. Melalui puasa, kita perlu mendidik diri untuk memiliki kepekaan dan solidaritas sosial yang tidak hanya berhenti pada bulan Ramadhan. Tantangan dari puasa yang kita lakukan tak sekadar terletak pada kemampuan menahan lapar dan dahaga, tapi kemampuan kita membentuk karakter mulia yang terus bertahan. Puasa profetik diarahkan menggerakkan transformasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata Yudi Latif (2006), puasa merupakan wahana pertemuan antara tauhidullah dan tauhidul ummah, antara perkhidmatan kepada Tuhan dan perkhidmatan kepada kemanusiaan. Tanpa memberi dampak sosial, puasa tak menemukan relevansi.
Pada titik ini, evaluasi diri menjadi niscaya. Puasa Ramadhan hendaknya tidak sekadar ritual tahunan tanpa makna. Kita tidak dilarang melakukan sedekah sebanyak-banyaknya selama Ramadhan, namun kita juga perlu memiliki solidaritas sosial jangka panjang. Kejujuran yang kita tegakkan selama Ramadhan bukan semata karena Ramadhan penuh pahala, namun kita menyadari bahwa kejujuran merupakan perilaku yang harus kita miliki.
Puasa bernafaskan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu menyadari dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan puasa profetik, kita menyadari perlunya mengambil peran sejarah meneruskan jejak para Nabi. Hal ini bukan berarti kita akan menjadi Nabi. Kita jelas bukan Nabi dan kita takkan mungkin menjadi Nabi. Namun, kita harus menyadari adanya misi profetik yang terletak di pundak kita dalam membangun kehidupan.
Bagaimana pun, kita memang masih belajar. Kita akan terus belajar mencintai Tuhan. Kita menjalankan puasa untuk mendidik diri kita menjadi manusia profetik. Meminjam pesan dalam Majalah Educinfo FIP UNY Vol II No. 1, Januari-Februari 2008, manusia profetik adalah individu-individu manusia yang berkeyakinan lurus, beribadah secara benar, berbudi mulia, memiliki kekuatan jasmani, luas wawasan berpikirnya, kuasa memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, mampu menafkahi dirinya dan memiliki kreativitas dalam pekerjaan, mampu memelihara waktunya untuk hal yang berguna, dan mampu berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat.
Mungkin dari penjabaran manusia profetik di atas masih bisa didiskusikan. Penulis melihat karakter-karakter di atas relatif tepat menggambarkan karakter manusia paripurna. Meski pendidikan adalah jalan panjang, namun puasa tahun ini merupakan salah satu ruang pendidikan bagi kita menjadi manusia profetik. Dengan puasa profetik, kita belajar menyeimbangkan tiga aspek fundamental dalam ibadah puasa sebagaimana disebutkan Komaruddin Hidayat (2006) terdiri dari pendekatan diri kepada Tuhan, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial.
Dengan ibadah puasa, kita mengaktifkan kekuatan rohani, lalu mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin, sehingga mengalami proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai Ilahi. Pijakan transendensi ini akhirnya mengarahkan kita membangun kehidupan. Dengan menjalankan puasa, kita menyadari tak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebesaran hanya milik Tuhan dan kita pun menjadi manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Kita pun membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan.
Di tengah kekurangan ilmu dan “kehijauan” penulis, artikel ini disajikan. Penulis mohon maaf jika ada kekurangan. Harapannya muncul tulisan lebih lanjut untuk menanggapi tulisan ini. Wallahu a’lam.

Highlight--KAPITA SELEKTA, CETAK GENERASI PROFETIK

Kamis(5/8), pada hari kedua ospek fakultas , kampus biru FMIPA mengadakan acara Kapita Selekta. Acara yang wajib diikuti untuk maba ini dibagi menjadi 4 kelompok keahlian. Antara lain enterpreneur, jurnalistik, polkam dan penelitian. Masing divisi membawa penugasan, mengenakan dress code dan mendapatkan materi yang berbeda.
Ines Agusta, tim SDP FMIPA menegaskan bahwa tema besar kapita selekta FMIPA masih berhubungan dengan tema besar Ospek, yaitu memuat kata profetik. Hal ini mengingat bahwa kapita selekta masih dalam serangkaian acara OSPEK.
Agusta Arif Triutama, koordinator tim jurnalistik menjelaskan bahwa tema yang diambil ini adalah “ mencetak generasi jurnalis profetik”. Tim jurnalistik menghadirkan 2 pembicara, yaitu Hendra Sugiantoro dan A Zen yang banyak berbicara tentang peran pers dan gambaran dasar tentang kejurnalistikan. Polkam pun tak mau kalah, dengan menyuguhkan isu tentang lingkungan, tim ini menghadirkan 2 pembicara di sesi pertama. Yaitu Asnan (Menteri Sospol BEM Rema) dan Azwan (ketua BEM FISE). Lalu acara dilanjutkan dengan simulasi aksi di depan dekanat. Aksi yang mengangkat isu konversi minyak tanah ke gas ini diikuti secara antusias oleh maba FMIPA. Berbekal kertas samson dan cat asturo khas aksi, mereka meneriakkan pendapatnya masing – masing.
Bertempat di Ruang seminar B, tim enterpreneur hadir dengan tema “ Be A Succes Enterpreneur”. Nila Widiati selaku koordinator menjelaskan bahwa timnya mengundang 2 pembicara, yaitu Arna Asna Annisa, yang berasal dari MOSEF dan Bapak Ardiansyah. Mereka banyak berbicara tentang bisnis dan enterpreneur sampai dengan marketing plan dan analisis pasar. Selanjutnya, kelompok penelitian yang bertempat di 103 mengambil tema “Optimalisasi diri dengan pendidikan profetik melalui penelitian melalui intelektual mipa yang bernurani cendikia dan mandiri. Adapun muatan materi yang di suguhkan adalah motivasi yang berkaitan dengan penelitian; worldview yang ditekankan pada intelektual profetik, kritis, inovatif dan solutif.
Rencananya acara ini akan berlanjut melalui program SDP (Student Development Program), yang tentunya akan didukung oleh BEM, Hima dan ormawa lainnya. Dengan tema besar yang memuat kata profetik, diharapkan kapita selekta dan rangkaian follow upnya dapat mencetak seorang jurnalis, peneliti, enterpreneur, aktivis serta seorang pengkritisi yang mempunyai jiwa profetik. [Wahyu]

MAHASISWA DAN POLITIK MORAL Oleh: Iva Wulandari, Mahasiswa Sastra Inggris 2008

Menilik OSPEK UNY kali ini sangat menarik. Ada tulisan yang cukup menggelitik ketika display UKM berlangsung di GOR, sebuah tulisan yang berbunyi UNY ≠ UINY berada di depan barisan mahasiswa baru Fakultas Bahasa dan Seni. Apakah yang melatarbelakangi kesengajaan memajang tulisan tersebut? Pada uraian di bawah kita akan mengupas hal tersebut. Barangkali, ada proses transformasi informasi yang hendak disampaikan si pembuat tulisan yakni pengejawantahan simbolisme kegelisahan si pembuat tulisan bilamana sisi religiusitas mahasiswa ditonjolkan, maka hal tersebut akan dimaknai sebagai pemasungan kreativitas dan penghancur identitas kepemudaan yang diidentikkan dengan kebebasan berekspresi. Benarkah demikian?
Frame bahwa jika kebebasan berekspresi, bergaul, dan berkesenian jika dipadukan dengan agama akan menemui pemasungannya hendaknya diluruskan kembali. Kita tahu bahwa UNY merupakan kampus pendidikan di mana setiap tahunnya kampus inilah yang mencetak guru. Guru yang tidak hanya mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada muridnya, namun juga mentransfer nilai dan karakter. Pendidikan merupakan instrumen utama dalam pembentukan kepribadian seorang manusia, sehingga tanpa kita sadari pendidikan yang terjadi selama ini khususnya di Indonesia mengalami kesalahan sejarah, karena telah tertanam dalam benak manusia Indonesia bahwa pendidikan sebagai pabriknya robot–robot yang siap dipakai dan digunakan oleh perusahaan tertentu.
Dari fenomena di atas, munculah pertanyaan, peran seperti apa yang bisa diambil mahasiswa kampus pendidikan ini dalam mengawal pembentukan karakter bangsa? Mahasiswa merupakan perwajahan dari karakter pemuda suatu bangsa. Pemuda yang berada di tempat yang tepat di mana kampus merupakan kawah semua ideologi bisa kita temui dan sejatinya telah mengalami pencerahan logika, pencerahan wawasan (knowledge) dan pematangan pemikiran tentang fungsinya di masyarakat. Mahasiswa dapat memerankan fungsinya sebagai garda depan penyokong POLITIK MORAL masyarakat, terutama masyarakat kampus.
UNY yang telah sekian lama mengusung religiusitas sebagai salah satu elemen penting visinya, haruslah dimaknai secara tepat dan tidak serampangan. Profetik sebagai pilar penyokong terwujudnya aspek religiusitas pun dimaknai beberapa orang sebagai konsep yang salah tempat. Alasan humasasi yang dituntut berkaitan dengan kebebasan berekspresi dan menghargai pluralitas disebut-sebut tidak dapat diakomodir dengan konsep profetik yang terlalu mengedepankan aspek agama.
Berbeda dengan multikultural, Kuntowijoyo seorang budayawan dengan ilmu sosial profetiknya menjelaskan bahwa “Humanisasi yang dimaksudkan dalam etika profetik bukanlah humanisme yang berakar pada antroposentrisme renaissance tetapi berakar pada humanisme teosentris, humanisasi ini lahir karena humanisme antroposentrisme justru telah menyebabkan terjadinya dehumanisasi, humanisme dalam etika profetik adalah humanisme yang disemangati oleh nilai – nilai ketuhanan”.
Berangkat dari teori inilah konsep pendidikan humanis Teosentris dirumuskan, yang mana dijelaskan bahwa humanis teosentris adalah suatu proses memanusiakan manusia dengan disemangati oleh nilai – nilai ke Tuhanan yang bersifat transendental atau imanent, supaya terjadi keseimbangan antara aspek rohani dan aspek jasad. Dalam pendidikan humanis teosentris seorang pendidik harus mengetahui tentang hakikat manusia, supaya dalam melakukan proses pembelajaran seorang pendidik tidak terjebak dalam wilayah materialisme.
Perdebatan tentang konsep kemanusiaan sangat banyak, setidaknya ada beberapa konsep tentang manusia, di antaranya adalah konsep materaialisme yang berpendapat bahwa manusia hanya memilki satu unsur yakni jasad, sehingga akal manusia bersifat materi yaitu otak kepala manusia. Dan juga konsep intelektualisme mengakui bahwa manusia memilki dua unsur yaitu jasad dan ruh akan tetapi dalam hal ini ruh diberi pengertian hanya daya berpikir, adapun konsep menurut pendidikan profetik adalah jasad, ruh, hati nurani harus sama–sama dididik sehingga akan adanya kemajuan fisik dan ruhani yang berupa daya pikir dan hati nurani sebagai daya rasa.
Selanjutnya seorang guru harus mampu memposisikan peserta didik sebagai subyek dari pendidikan dan begitu juga kita, calon guru. Jadi guru tidak lagi menjadi fasilitator sehingga proses pendidikan merupakan kesatuan dari proses humanisasi, liberasi, yang mana menghidupkan aktivitas belajar dan mengajar secara bersama–sama dan juga obyek dari belajar adalah realitas yang terjadi. Selain itu pula, unsur transendensi juga harus terpenuhi dalam jiwa pendidik dan juga peserta didik. Maksud transendensi di sini maksudnya adalah transendensi dijadikan sebagai landasan terhadap dua etika profetik sebelumnya sehingga fungsi transendensi adalah mengarahkan ke mana tujuan itu akan dibawa. Oleh karena itu, Pendidikan Humanis Teosentris merupakan suatu usaha bagaimana pendidikan itu mampu melakukan misi profetik, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi penjara atau belenggu bagi pikiran para manusia.
Kembali kepada tulisan UNY≠UINY. Kekhawatiran ini nampaknya berlebihan. Penyikapan konsep profetik tidaklah sesempit menjadikan UNY sebagai kampus Islam negeri. Profetik dengan konsep Pendidikan Humanis Teosentrisnya yang menjadikan fungsi pendidikan sebagai basis transfer pengetahuan (knowledge), nilai, dan karakter ini pun dapat memerankan fungsinya secara elegan dan sinergis. Konsep profetik juga tidak mengesampingkan toleransi keberagaman agama, budaya, suku dan bahasa, yakni keberagaman dalam konteks keIndonesiaan.
Tidak perlu muncul kekhawatiran akan kehilangan identitas budaya dan karakter keindonesiaannya. Sudah saatnya moralitas bangsa diperjuangkan dari barisan pemuda. Barisan mahasiswa. Sudah saatnya budaya ketimuran yang religius, santun tanpa meninggalkan intelektualitas kita bumikan. Sudah saatya mahasiswa sebagai lokomotif politik moral (etik) masyarakat mampu mengawal tujuan ini. Mahasiswa yang merdeka sebenar-benarnya.
Bukan mahasiswa yang mengaku merdeka tapi sebenarnya merekalah yang menjadi korban materialisme barat, korban penyebaran ideologi barat yang di negara asalnya telah banyak ditinggalkan karena terbukti gagalnya ideologi tersebut menjawab tuntutan perkembangan zaman, korban pemilik modal pasar fashion yang dipermainkan oleh trend, dan dibutakan oleh platform “modern dan gaul”. Mahasiswa UNY sebagai generasi pendidik haruslah mempersiapkan diri menjadi pribadi yang matang secara ilmu pengetahuan, karakter, dan kodratnya sebagai manusia (hamba). Hidup Mahasiswa! []

headline--OSPEK “BARIS-BERBARIS” DI FIK Oleh Ika Feni S.

Hari ke-4 OSPEK, OSPEK di masing-masing fakultas. Masing-masing memiliki agenda tersendiri dalam rangkaian OSPEK tersebut. Agenda tersebut ditujukan kepada maba agar lebih mengenal lingkungan barunya. Masing-masing fakultas memiliki agenda khas. Kegiatan OSPEK FIK yang berbeda dengan kegiatan di fakultas lain adalah PBB. Kegiatan baris-berbaris ini merupakan kegiatan OSPEK yg diadakan setiap tahun oleh FIK. Seperti biasanya pula, kegiatan PBB kali ini bekerjasama dengan Resimen Mahasiswa (menwa) UNY.
Agenda OSPEK ini bertujuan utk membentuk karakter mahasiswa baru. Walau hanya satu jam, dalam PBB juga melatih kedisiplinan dan kejujuran. Seperti apa yg dikatakan Pembantu Dekan I, Drs. Rumpis Agus S, M.S "Kegiatan ini bisa membentuk kepribadian maba, terutama kedisiplinan". Kegiatan yg dilakukan di siang hari ini juga bisa melatih fisik mahasiswa baru,tambah Pak Rumpis.
Kegiatan PBB yang dilakukan di FIK memang tidak ketat. Sehingga banyak maba yg tidak serius. "Maba terlihat masih kekanak-kanakan dan cenderung menganggap ini bermain", ujar Fajri, komandan Menwa yang ditemui selesai kegiatan.
Kegiatan PBB yg dilakukan adalah gerakan dasar, seperti hormat dan jalan ditempat. Hal ini juga sebagai pembekalan kepada calon pendidik olahraga yang setidaknya tahu tentang baris-berbaris. KegiatanOSPEK hari kemarin di FIK dikatakan Ketua BEM FIK mendapat dukungan luar biasa dari fakultas. “Panitia dan maba sangat menikmati Ospek dan merasa nyaman karena koordinasi antara panitia dan maba bagus serta dukungan dari fakultas luar biasa”, ujar Dwi Apriyanto, Ketua BEM FIK.
Berbeda dengan FIK, di FMIPA maba diajak berdiskusi terkait pentingnya keilmuan dari jurusan yang mereka ambil. Hal ini terlihat dari agenda Diskusi Sains yang digelar oleh Fakultas MIPA yang bernuansa kampus biru. Selain itu di MIPA juga diselenggarakan agenda kapita selekta yang terdiri dari 4 macam bidang. Bidang kapita selekta tersebut adalah bidang jurnalistik, entrepreneur, penelitian, dan polkam. Maba MIPA diharuskan memilih satu di antara keempat bidang kapita selekta untuk diikuti. Acara kapita selekta diisi dengan penyampaian materi oleh masing-masing pembicara yang telah handal di bidang tersebut.
Berbeda dengan FMIPA, FIP hari ini mengadakan Ospek Jurusan. Ospek Fakultas FIP diadakan pada hari Rabu dan Jum’at. Hari ini, masing-masing jurusan memperkenalkan segala hal yang terkait dengan jurusannya. Mulai dari pengenalan birokrat dan ormawa serta lingkungan kampus. Agenda pengenalan ini dilakukan dengan mengelilingi seisi kampus. Seperti fakultas MIPA yang mengusung agenda kegiatan ini dengan memberi nama MIPA on the road.
Chitta Fadilla, ketua Ospek jurusan PG PAUD sengaja mengangkat tema ospek, “Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Local untuk Membentuk Calon Guru PAUD yang Berilmu dan Cerdas.” Sebenarnya dasar pemikiran mengangkat tema kearifan local, didasarkan atas saran dosen PG PAUD, Pak Joko Pamungkas M.Pd
“Kearifan lokal seperti permainan tradisional lebih banyak mengandung nilai yang bisa dikembangkan dibanding permainan modern,” ujar Chitta.
Meskipun mengangkat tema kearifan local, jurusan PG PAUD tidak melupakan istilah profetik yang menjadi tema besar OSPEK satu universitas. Jurusan PG PAUD masih menanamkan nilai profetik yang merupakan tema ospek universitas. Mereka memutar sebuah film tentang nabi Yusuf dan membahas sifat-sifat profetik di dalamnya.
Hampir sama dengan PG PAUD, jurusan lain di FIP PPB-BK juga melakukan ramah tamah dengan kajurdik mereka, Sugihartono, M.Pd., pengenalan dengan Himpunan Mahasiswa dan IMABKIN (ikatan mahasiswa BK se-Indonesia) oleh Ketua Hima BK Galang Adi Prawira. Maba jurusan PPB-BK pun diajak berkeliling menjajaki tempat-tempat yang nantinya akan digunakan untuk keperluan kuliah seperti Perpustakaan Fakultas, Lab BK, UPBK (Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling), Museum Pendidikan serta Rektorat dan Perpustakaan Universitas.
Di sisi lain, OSPEK FBS digelar dengan menampilkan rangkaian agenda. Rangkaian agenda tersebut di antaranya display ormawa FBS, FBS inside, reigius input, kapita selekta, dan diakhiri dengan membatik with love. Display ormawa FBS menampilkan 5 UKMF, yakni UKMF KM Alhuda, UKMF penelitian Limlarts, DPM, BEM FBS, dan LPPM Kreativa.
UKMF KM Alhuda menampilkan Josyid sebagai persembahan pertama FBS, dengan diikuti perkenalan Alhuda yang disampaikan oleh Mas’ul Alhuda, David Heri Priambodo. Ia mengatakan bahwa kita adalah mahasiswa di kampus budaya sekaligus sebagai umat muslim maka kita menyebut diri kita muslim budayawan.
“Peradaban inspiratif hanya dibangun oleh para generasi yang inspiratif dan berkarakter profetik”, ujarnya bersemangat. Melalui profetik, sebuah peradaban dapat dibangun. []

IKA FENI S.
(Isti Hardiyanti, Vico L. Ipmawan, Ferlynda Putri, Nurlaelah)

Headline--Tema Ospek Setiap Fakultas Oleh : Muhammad Azka Ramadhan

Dengan mengangkat tema Pendidikan Profetik, Ospek mengarahkan mahasiswa pada jati diri yang berbeda dari sebelumnya. Seperti Ahmad Bachtiar Faqihuddin, ketua Panitia OSPEK FISE yang menetapkan “Internalisasi Pendidikan Profetik Melalui Kampus Inspiratif UNtuk Membentuk Mahasiswa Yang Bernurani, Intelektual, dan Kontributif.” Menurut beliau nilai pendidikan profetik terdiri dari empat pilar utama, yaitu transendensi (keimanan kepada Tu¬han), humanisasi (memanusiakan manusia), transformasi (mentransfer nilai ketuhanan ke lingkungan), dan liberasi (pembebasan dari kesewenang-wenangan).
Hal senada juga dituturkan oleh ketua panitia OSPEK MIPA, Rezkia Lukman, yang menetapkan tema “Internalisasi pendidikan profetik menuju intelektual FMIPA yang bernurani, cendekia dan mandiri.” Beliau beralasan karena pendidikan karakter profetik merupakan langkah awal membentuk karakter bangsa yang bermoral kenabian. Di mana melalui ospek ini dapat menjadi gerbang munculnya benih-benih manusia yang berkarakter profetik. Dengan demikian ospek merupakan fasilitator sekaligus lingkungan pendukung dalam pembentukan profetik tersebut.
OSPEK Fise juga berupaya menginternalisasi profetik ke maba. “Tujuan dari tema ospek ini agar pendikan profetik dapat terinternalisasi ke maba FISE. Intelektual berarti kecerdasan untuk bangsa. Bernurani artinya mempunyai kecerdasan spiritual agar dapat melakukan aktivitas dengan hati nurani. Serta kontributif dimaksudkan agar berkontribusi sesuai potensi dimiliki maba”, terang Ayu, Koordinator Lapangan Ospek Fise.
OSPEK FMIPA yang juga mengusung tema profetik bila ditinjau dari segi acara tidak jauh berbeda dengan tahun lalu hanya saja untuk pemberian materi lebih ditekankan pada intelektualnya. Seperti pemberian materi dengan tema “Menjadi Pembelajar Sukses” dan diadakannya “Diskusi Sains”.
Namun ada yang berbeda di FMIPA jika ditinjau dari segi sistemnya. “Ada beberapa kemajuan yakni pembuatan website OSPEK MIPA (www.ospekmipa.webs.com). Di web itu memuat lagu-lagu Ospek, artikel-artikel, dan daftar kelompok serta info ospek lainnya. Hal ini diharapkan memudahkan maba dalam mengakses informasi tentang ospek”, ujar Dhariska, SC Ospek FMIPA.
Di tingkat jurusan, Hastin, Mahasiswa TI 2009, panitia OSPEK jurusan Elektronika dan Informatika juga mencantumkan tema profetik di dalamnya, “Menjadi Barometer Mahasiswa Teknik Profesional yang Berkarakter Profetik dengan Jiwa Cemani Sesuai dengan Perkembangan Teknologi”. Hastin berharap agar lulusan UNY nantinya akan melahirkan generasi pendidik yang baik seperti yang terkandung dalam pendidikan profetik.
Hima Elektro juga menerapkan tema profetik. Temanya “Dengan semangat pemuda mari kita wujudkan generasi profetik yang bernurani, cendekia, dan mandiri”. Mengenai kegiatannya, Fadlur Rahman, ketua panitia Ospek Hima Elektro mengatakan kegiatan ospek diisi dengan motivasi, etika mahasiswa, dan games.
Namun hal ini sepertinya berbeda dengan tema ospek FBS UNY, “Dengan Ospek FBS 2010 mewujudkan mahasiswa FBS yang cerdas, kreatif dan religius, alasannya tema tersebut merupakan interpretasi dari visi UNY, Cendekia (menjadi cerdas), Mandiri (menjadi kreatif) dan Bernurani (menjadi religius).” Habibi, ketua ospek FBS menuturkan bahwa beliau merasa kesulitan mengaplikasikan tema profetik, “Kami merasa kesulitan mengaplikasikan tema profetik. Sehingga tidak mau mengusung tema yang nantinya hanya sebatas kata-kata. Kami mencoba menerapkan ontime dan humanis. Ontime dan humanis sendiri menurut kami termasuk didalam nilai religius”.
Menanggapi hal ini, ketua ospek Universitas, Diar Rosdyana tidak begitu mempermasalahkan tema ospek FBS yang tidak mencantumkan profetik di dalamnya, karena sudah dianggap berkaitan dengan tema profetik, “Sebenarnya semua tema fakultas berkaitan dengan profetik, walaupun FBS tidak mencantumkan kata profetik dalam Ospek, tapi tetap berkaitan kok. Kami sudah berkoordinasi yang penting adalah esensi dari tema itu”, tutur Diar.[]

M. AZKA RAMADHAN
(Imaroh Syahida, Nurhayati Budiyanti).
Jurnalis Remapost

Jiwa Profetik dalam Identitas Mahasiswa Oleh: Epi Suhaepi (Mahasiswa PKnH’07/ Wakil Direktur EC BEM REMA UNY 2010)

Manusia merupakan subjek pencetak sejarah disebuah realitas yang berawal dari wacana maupun harapan. Mereka (manusia) di berikan kapasitas berupa jasad, ruh dan hati serta fasilitas berupa waktu. Waktu juga di sebut sebagai “masa karya” yang kita sebut sebagai “amal”. Dengan demikian, manusia berhak mengklaim waktu yang menjadi miliknya ketika waktu itu di gunakan untuk berkarya, beramal dan berkontribusi yang mampu bermetamorfosis dari sebuah wacana peradaban menjadi realitas masa depan. Akan tetapi apa yang terjadi dengan model manusia di abad 21 sekarang terutama anak muda Indonesia? Manusia sekarang di lingkari dengan pengaruh kapitalisme dan liberalisme yang membuat manusia kehilangan derajatnya sebagai manusia (dehumanisasi) yang pada akhirnya dapat mengikis kekebalan ruh humanisasi (memanusiakan manusia). Kebobrokan moral seperti menjadi hal biasa, pergaulan bebas menjadi akad yang sah dan dengan semangat individualisme dan hedonisme mereka memproklamirkan dirinya menjadi manusia antroposentris.
Manusia antroposentris adalah manusia produk ressainans yang mengukur suatu kebenaran berdasarkan rasionya semata sehingga hidup mereka kosong tanpa makna. Walaupun jiwa mereka terisi, itu tidak di dasarkan nilai transendensi (ketuhanan) tapi jiwa mereka terisi berdasarkan basis materialisme (materialism basic) yang sebenarnya tidak berisi karena mengganggap hal yang “ghaib” itu adalah mitos belaka. Akibatnya, seorang manusia (mahasiswa) yang sedang mengalami stress, depresi, mereka mencari tempat ketenangan berdasarkan rekomendasi dari pengaruh globalisasi seperti kapitalisme. Oleh karena itu, kita bisa melihat orang-orang yang penuh masalah berkeliaran di arena produk kapitalisme seperti Mal, Carrefour, Bioskop dan produk kapitalisme lainnya. Referensi tempat yang dapat menyejukan suasana kebatinan seperti Masjid, Majlis ilmu maupun tempat dengan suasana spiritualitas terasa tabu dan mitos untuk di jadikan wisata hati dalam mencari ketenangan dan solusi.

Meneguhkan Kembali Identitas Diri
Identitas mahasiswa (calon pendidik) yang sering di gaungkan sebagai agent of change, iron stock dan an inspirator seperti panggang jauh dari api. Jarak antara fakta dengan idealita terlihat bersebrangan seakan tidak ada titik temu di antara keduanya. Lantas, harus seperti apa mahasiswa sebagai calon pendidik muda masa depan menghadapi tantangan di era modernitas saat ini? Berbicara mengenai pendidikan adalah berbicara mengenai manusia itu sendiri, berbicara pendidikan adalah berbicara tentang akhlak, kepribadian dan jiwa manusia seutuhnya. Landasan hukum perbincangan mengenai manusia itu tercantum di dalam tujuan pendidikan (pasal 3 UU No 20 tahun 2003) yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Karakter yang ingin di bangun adalah harus di mulai dengan pembangunan jiwa, mengisi ruang ruh yang hampa dan pada akhirnya mempertemukan potensi jiwa dengan idealita. Jiwa manusia mengakui akan sesuatu yang ada tapi tidak ada dalam pandangan mata, jiwa manusia adalah wadah yang membutuhkan isi, jiwa adalah penentu tindakan fisik yang berawal dari metafisik (sesuatu yang ghaib). Transendensi (nilai keimanan), inilah yang dapat di baca oleh jiwa, mengisi ruang hampa dan menjadi landasan dalam mengukur benar tidaknya fenomena kehidupan. Manusia harus di kembalikan kepada Sang Pemilik Jiwa yang akan mengisi ruang hampa agar hidup mereka penuh makna. Manusia (mahasiswa) dengan semangat perubahan yang di miliki, kekuatan fisik yang membuat semua mata melirik dan jiwa penuh idealisme akan mampu menjadi “penggerak kolektif” karena dia sadar akan tugas dan perannya. Layaknya seorang Nabi (Prophet) yang tidak melindungi dirinya dengan kecerdasan yang di miliki dan tidak menghindarkan diri untuk lepas dari permasalahan umat, maka manusia (mahasiswa) sebagai insan yang tercerahkan dengan ilmu pengetahuan, sejatinya menjadi problem solver di tengah masyarakat yang hiruk pikuk dengan berbagai masalah yang ada. Semoga….