Penetapan tema Implementasi Pendidikan Profetik Menuju Generasi Bernurani, Cendekia, dan Mandiri sebagai tema OSPEK UNY 2010 menuai banyak komentar ataupun tanggapan di kalangan mahasiswa UNY baik dari mahasiswa umum maupun panitia ospek. Secara garis besar, pendidikan profetik merupakan pendidikan dari keteladanan Nabi yang memuat 3 pilar yaitu nilai transendensi (keimanan kepada Tuhan), humanisasi (memanusiakan manusia), dan liberasi (pembebasan dari kesewenang-wenangan).
Ditinjau dari hubungannya, pendidikan profetik dan UNY sebagai kampus pendidikan sangatlah berkaitan. Hal ini dapat disimak dari penuturan mahasiswa umum, Restu Prabawati, Pend. Biologi 07, “Kampus UNY adalah kampus pendidikan maka membutuhkan suatu karakter mengingat krisis moral sehingga melalui pendidikan profetik bangsa ini memiliki ciri khas”.
Pendapat Restu didukung Endah dari UKMP PLB 07, “Pendidikan karakter yang bersifat kenabian itu bisa menjawab tantangan zaman selama ini”, ujarnya.
Berbeda dengan Endah, Lucy sie humas dari kepanitiaan Ospek FIP menyatakan bahwa beberapa pihak kontra dengan tema tersebut. “ Itu karena pendidikan profetik yang diwacanakan lebih menekankan pada salah satu agama, padahal tidak semua mahasiswa baru itu umat muslim,” katanya.
Ikhwal kenabian tersebut diperjelas oleh Ketua Ospek FISE, Ahmad Bachtiar Faqihuddin, “Profetik diambil dari kata prophet yang berarti kenabian. Di sini dimaksudkan bahwa tidak hanya Islam saja yang punya nabi, melainkan Kristen, Katolik juga punya nabi sehingga di sini tidak ada diskriminasi agama”.
Tema profetik dalam Ospek UNY 2010 ini mengacu pada visi misi UNY dan telah disetujui pihak rektorat. “Ospek memiliki peran strategis dalam rangka pembinaan mahasiswa agar mempunyai pikiran dan keterampilan menghadapi masa depan. Ospek menjadi salah satu strategi untuk menanamkan pendidikan karakter. Jadi ikon pendidikan karakter itu terletak pada implementasinya dengan tema Ospek yang mengacu pada visi misi UNY. Saya kira tema Ospek 2010 sudah linier, dari universitas mengusung pendidikan profetik”, jelas PR 3 UNY, Herminarto Sofyan.
Kesiapan panitia
Panitia Ospek memiliki peran mengimplementasikan pendidikan profetik dalam Ospek 2010. Sebagai konsekuensi logis, kepahaman serta kesiapan panitia menjadi ihwal urgen dalam implementasi tema. “Panitia OSPEK sebagai ujung tombak seharusnya memahami tema tersebut. Merekalah yang nantinya akan menyampaikan kepada mahasiswa baru. Yang paham dengan tema ini idealnya adalah seluruh panitia, bukan hanya ketua, sie acara ataupun pemandu. Dan hampir 50 % sudah paham”, ujar Diar Rosdayana, Ketua OSPEK Universitas,.
“Panitia OSPEK universitas bersama BEM REMA sudah melakukan beberapa tindakan. Yang pertama adalah menjelaskan tema tersebut kepada seluruh panitia. Mulai dari tingkat universitas sampai fakultas. Selain itu juga diadakan seminar nasional pendidikan profetik dan training pemandu OSPEK”, lanjutnya.
Dalam kepanitian Ospek FMIPA dipersiapkan kepahaman mengenai profetik. Ketua Ospek FMIPA, Rezkia Lukman, mengatakan, “Kita mempersiapkan panitianya terlebih dahulu, koordinatornya diuji, pemandu dibekali dengan pengetahuan profetik, muatan materi diperkaya dan didalami serta melihat bagaimana menciptakan aturan seperti hukuman yang sesuai dengan tema. Sedangkan pemandu berusaha memberikan keteladanan di samping memahami makna pendidikan profetik sehingga bisa menjelaskan keprofetikan kepada maba dan mengembangkan potensi maba. Beberapa langkah konkret menggulirkan pendidikan profetik pada maba, dengan penerapan kedisiplinan pada panita sebelum nantinya akan membina maba, diadakan mentoring (keagamaan) masing-masing agama, membuat maba mudah merespon keadaan sosial di lingkungannya dan memberi penugasan yang bersifat mendidik”, terangnya panjang lebar.
Tak mau kalah dengan FMIPA, Ketua OSPEK FIK juga telah melakukan langkah konkret dalam rangka internalisasi tema Ospek. “Keteladanan panitia yang setidaknya mengikuti perilaku Rasulullah SAW, seperti mengucap salam dan sholat tepat waktu, melalui media (buletin) dari FIK, buku kecil yang isinya berupa hal-hal yang mengarah pada pendidikan profe-tik, dicetak dengan kemasan yang menarik agar tidak diabaikan begitu saja, dan buku panduan FIK UNY yang di dalamnya ada muatan pendidikan profetik”, jelas Ngadino terkait langkah pencerdasan profetik yang diambil panitia.
Idealisme dalam ospek
Kembali, tahun 2010 ini Ospek tak semata pengenalan, namun ada idealisme yang akan dibangun, mengacu pada karakter ospek fakultas masing-masing. Dengan mengangkat tema Pendidikan Profetik, Ospek mengarahkan mahasiswa terhadap jati diri yang baru.“Bagaimana membentuk mahasiswa yang bisa jadi panutan dan teladan. Tidak hanya mahasiswa yang biasa-biasa saja“. Demikian penjelasan Ketua Ospek FISE Ahmad Bachtiar Faqihuddin mengenai idealisme yang dibangun di Ospek 2010.
Idealisme Ospek disesuaikan dengan pendidikan karakter profetik yang dibangun di UNY. Mahasiswa harus memiliki pekerti yang baik. ”Pihak panitia akan mengkondisikan lingkungan yang mencerminkan profetik, agar nilai profetik tersampaikan pada mahasiswa,” kata Erna, koordinator sie acara Ospek FIK. Ketua Ospek FIK, Ngadino, menambahkan ”Paling tidak dapat memasukkan nilai-nilai keolahragaan seperti sportifitas dan perjuangan. Yang berhubungan dengan visi-misi UNY hanya sebatas pendidikan profetik”.
Idealisme ospek mengacu pada visi-misi UNY, dikatakan oleh Rezkia Lukman, ketua panitia Ospek FMIPA, bahwa Ospek membentuk mahasiswa yang bernurani, cendekia, dan mandiri.
Sedangkan FBS tidak berbicara idealisme, berdasarkan keterangan ketua Ospek FBS, Habibie. “Tidak ada idealisme yang dibangun dalam Ospek FBS.“ Panitia ospek FBS mengacu pada arti kata ospek sendiri, yaitu orientasi dan pengenalan dengan mengenalkan lingkungan FBS pada khususnya. “Buat apa membawa tema tetapi nantinya malah maba tidak tahu menahu di mana tempat parkir FBS, ruang kelas, dan bagaimana sistem pendidikan di kampus FBS,” ungkapnya.
Panitia FIP memahamkan pada pendidikan berlandaskan religius dan humanis, seperti penjelasan koordinator acara Ospek, Muhammad Iqbal. “Kita lebih pada humanisasi, liberasi dan transendensi, karena kita FIP dan yang kita didik adalah manusia. FIP juga mencetak guru peradaban yang integral, dan profetik telah mencakup segalanya khususnya untuk guru yng integral”, terangnya.[]
ISTI HARDIYANTI DAN IMAROH SYAHIDA
(Azka, Wahyu, Linda, Ela, Vinda, Ajeng, Suci, Arum, Ika, Vico, Laras)
Salam profetik!
BalasHapus